Percayalah... Suatu saat nanti... Kita 'kan dipertemukan kembali... Bintang... :)

Tampilkan postingan dengan label Tauhid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tauhid. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Juni 2012

Tahukah Anda: "Dasar Indonesia Bukanlah Pancasila"



Pemikiran Islam | Fimadani.com

Ustadz Ahmad Sarwat dalam kolom konsultasinya pernah ditanya terkait dengan pernyataan Dr. Eggi Sudjana, SH. Msi., yang dalam kesempatan sebelumnya melakukan debat dengan Abdul Muqsith dari kelompok Islam Liberal dan Pluralisme Agama di salah satu stasiun televisi yang disiarkan secara nasional. 

Debat ini dilakukan menyikapi bentrokan yang terjadi antara AKK-BB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan) dengan FPI di Monumen Nasional karena pertentangan dalam menghadapi kasus aliran sesat Ahmadiyah di Indonesia.

Dalam menanggapi hal tersebut, Ustadz Ahmad Sarwat menyatakan hal berikut:

Memang cukup mengejutkan juga apa yang disampaikan oleh Dr. Eggi Sudjana, SH. Msi., dalam talkshow di TV swasta malam itu. Beliau menyebutkan bahwa kalau dicermati, ternyata justru negara Indonesia ini secara hukum bukanlah berdasarkan Pancasila. Sebaliknya, di dalam UUD 45 malah ditegaskan bahwa dasar negara kita adalah Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dan sesuai dengan Preambule atau Pembukaan UUD 1945, Tuhan yang dimaksud tidak lain adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga secara hukum jelas sekali bahwa dasar negara kita ini adalah Islam atau hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala..

Pernyataan itu muncul saat berdebat dengan Abdul Muqsith yang mewakili kalangan AKK-BB. Saat itu Abdul Muqsith menyatakan bahwa Indonesia bukan negara Islam, bukan berdasarkan Al Quran dan hadits, tetapi berdasarkan Pancasila dan UUD 45.

Mungkin maunya Abdul Muqsith menegaskan bahwa Ahmadiyah boleh saja melakukan kegiatan yang bertentangan dengan ajaran Islam, toh negara kita kan bukan negara Islam, bukan berdasarkan Quran dan Sunnah.

Tetapi tiba-tiba Mas Eggi balik bertanya tentang siapa yang bilang bahwa dasar negara kita ini Pancasila? Mana dasar hukumnya kita mengatakan itu?

Abdul Muqsith cukup kaget diserang seperti itu. Rupanya dia tidak siap ketika diminta untuk menyebutkan dasar ungkapan bahwa negara kita ini berdasarkan Pancasila dan UUD 45.

Saat itulah mas Eggi langsung menyebutkan bahwa yang ada justru UUD 45 menyebutkan tentang dasar negara kita adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, bukan Pancasila. Sebagaimana yang disebutkan dalam UUD 45 pasal 29 ayat 1.

Kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Eggi Sujana itu. Iya ya, mana teks resmi yang menyebutkan bahwa dasar negara kita ini Pancasila. Kita yang awam ini agak terperangah juga mendengar seruan itu.

Entahlah apa ada ahli hukum lain yang bisa menjawabnya. Yang jelas, si Abdul Muasith itu hanya bisa diam saja, tanpa bisa menjawab apa yang ditegaskan leh Eggi Sujana.

Dan rasanya kita memang tidak atau belum menemukan teks resmi yang menyebutkan bahwa dasar negara kita ini Pancasila.

Diskusi itu menjadi menarik, lantaran kita baru saja tersadar bahwa dasar negara kita menurut UUD 45 ternyata bukan Pancasila sebagaimana yang sering kita hafal selama ini sejak SD. Pasal 29 UUD 45 ayat 1 memang menyebutkan begini:

“1. Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Lalu siapakah Tuhan yang dimaksud dalam pasal ini, jawabannya menurut Eggi adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.. Karena di pembukaan UUD 45 memang telah disebutkan secara tegas tentang kemerdekaan Indonesia yang merupakan berkat rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala..

Dalam argumentasi mas Eggi, yang namanya batang tubuh dengan pembukaan tidak boleh terpisah-pisah atau berlawanan. Kalau di batang tubuh yaitu pasal 29 ayat 1 disebutkan bahwa negara berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, maka Tuhan itu bukan sekedar Maha Esa, juga bukan berarti tuhannya semua agama. Tetapi tuhannya umat Islam, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala..

Hal itu lantaran secara tegas Pembukaan UUD 45 menyebutkan lafadz Allah Subhanahu wa Ta’ala.. Dan hal itu tidak boleh ditafsirkan menjadi segala macam tuhan, bukan asal tuhan dan bukan tuhan-tuhan buat agama lain. Tuhan Yang Maha Esa di pasal 29 ayat 1 itu harus dipahami sebagai Allah Subhanahu wa Ta’ala., bukan Yesus, bukan Bunda Maria, bukan Sidharta Gautama, bukan dewa atau pun tuhan-tuhan yang lain.

Lepas apakah nanti ada ahli hukum tata negara yang bisa menepis pandangan Eggi Sujana itu, yang pasti Abdul Muqsith tidak bisa menjawabnya. Dan pandangan bahwa negara kita ini bukan negara Islam serta tidak berdasarkan Quran dan Sunnah, secara jujur harus kita akui harus dikoreksi kembali.

Sebab kalau kita lihat latar belakang semangat dan juga sejarah terbentuknya UUD 45 oleh para pendiri negeri ini, nuansa Islam sangat kental. Bahkan ada opsi yang cukup lama untuk menjadikan negara Indonesia ini sebagai negara Islam yang formal.

Bahkan awalnya, sila pertama dari Pancasila itu masih ada tambahan 7 kata, yaitu:

“dengan menjalankan syariat Islam bagi para pemeluknya”.

Namun lewat tipu muslihat dan kebohongan yang nyata, dan tentunya perdebatan panjang, 7 kata itu harus dihapuskan. Sekedar memperhatikan kepentingan kalangan Kristen yang merasa keberatan dan main ancam mau memisahkan diri dari NKRI.

Padahal 7 kata itu sama sekali tidak mengusik kepentingan agama dan ibadah mereka. Toh Indonesia ini memang mayoritas muslim, tetapi betapa lucunya, tatkala pihak mayoritas mau menetapkan hukum di dalam lingkungan mereka sendiri lewat Pancasila, kok bisa-bisanya orang-orang di luar agama Islam pakai acara protes segala. Padahal apa urusannya mereka dengan 7 kata itu.

Kalau dipikir-pikir, betapa tidak etisnya kalangan Kristen saat awal kita mendirikan negara, di mana mereka sudah ikut campur urusan agama lain, yang mayoritas pula. Sampai mereka berani nekat mau memisahkan diri sambil berdusta bahwa Indonesia bagian timur akan segera memisahkan diri kalau 7 kata itu tidak dihapus.

Akhirnya dengan legowo para ulama dan pendiri negara ini menghapus 7 kata itu, demi untuk persatuan dan kesatuan. Tapi apa lacur, air susu dibalas air tuba. Alih-alih duduk rukun dan akur, kalangan Kristen yang didukung kalangan sekuler itu tidak pernah berhenti ingin menyingkirkan Islam dari negara ini.

Dan semangat penyingkiran Islam dari negara semakin menjadi-jadi dengan adanya penekanan asas tunggal di zaman Soeharto. Semua ormas apalagi orsospol wajib berasas Pancasila.

Sesuatu yang di dalam UUD 45 tidak pernah disebut-sebut. Malah yang disebut justru negara ini berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Dan Tuhan yang dimaksud itu adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. sesuai dengan yang tercantum di dalam Pembukaan UUD 45.

Jadi sangat tepat kalau kalangan sekuler harus sibuk membuka-buka kembali literatur untuk cari-cari argumen yang sekiranya bisa membuat Islam jauh dari negara ini.

Namanya perjuangan, pasti mereka akan terus mencari dan mencari argumen-argumen yang sekiranya bisa dijadikan bahan untuk dijadikan alibi yang menjauhkan Islam dari negara. Sebab mereka memang alergi dengan Islam. Seolah-olah Islam itu harus dimusuhi, atau merupakan bahaya laten yang harus diwaspadai.

Kita harus akui bahwa kalangan sekuler anti Islam itu cukup banyak. Dalam kepala mereka, mungkin lebih baik negara ini menajdi komunis dari pada jadi negara Islam. Na'uzubillah...

Minggu, 21 Agustus 2011

Pertanyaan Anak tentang Tuhan

Anak kecil pada umur sekitar 3 – 5 tahunan, kalo menurut ibu saya yang seorang psikolog, biasanya suka keluar pertanyaan-pertanyaan yang bisa dibilang ajaib dan spontan, tapi polos ! Nah sanking polosnya, terkadang orang tua yang kelabakan mendengar pertanyaan anaknya, biasanya cari aman saja, dengan menjawab seenaknya saja.
Weitssss saat sebuah jawaban terlontar dari seorang ibu ataupun bapak, disitulah mindset sang anak tertanam. Hati-hati kalau menjawab pertanyaan anak kecil. Apalagi kalau pertanyaannya tentang Tuhan.
Saat anak bertanya kepada orang tua tentang Tuhan ??? Menurut saya itu adalah saat – saat yang sanagat genting! Kenapa menurut saya sangat genting ? karena sekali salah atau melenceng sedikit jawaban orang tua, maka pemhaman anak kecil tentang Tuhan akan salah selama dia belom menerima tamparan kerasa bahwa yang dipahaminya salah.
Saya belum pernah menjadi orang tua, jadi yang saya sarankan disini adalah buat orang tua dalama mendidik anaknya. Tentu buat saya pribadi juga saat menjadi orang tua nanti.
Pada artikel kali ini saya akan membeberkan pertanyaan-pertanyaan polos seorang anak kecil yang biasanya dia tanyakan kepada orang tuanya tentang Tuhan. Diharapkan anda dapat meniru atau kalaupun ingin memodif jawaban anda, tidak melenceng dari cara menjawab yang benar.
Semuanya saya copy paste dari artikel mas Muxlimo yang tepatnya pada link ini :
Karena disertai contoh yang salah ( sehingga bisa menghindarinya ), masuk akal, tidak membohongi, dan berlandaskan ayat Al-Quran dan Haditslah, makanya saya sangat ingin mengcopas artikelnya.
Terimakasih mas Muxlimo. Ijin copas ya bro :-). Semoga Allah membalasnya :-)

“Bu, Tuhan itu apa sih?”

Nak, Tuhan itu Yang Menciptakan segala-galanya. Langit, bumi, laut, sungai, batu, kucing, cicak, kodok, burung, semuanya, termasuk menciptakan nenek, kakek, ayah, ibu, juga kamu.

“Bu, bentuk Tuhan itu seperti apa?”

Bentuk Tuhan itu seperti anu ..ini..atau itu….
Karena jawaban seperti itu pasti salah dan menyesatkan!
Adek tahu ‘kan, bentuk sungai, batu, kucing, kambing,..semuanya.. nah, bentuk Tuhan itu tidak sama dengan apa pun yang pernah kamu lihat. Sebut saja bentuk apa pun, bentuk Tuhan itu tidak sama dengan apa yang akan kamu sebutkan.
Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis
فَاطِرُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ‌ۚ جَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٲجً۬ا وَمِنَ ٱلۡأَنۡعَـٰمِ أَزۡوَٲجً۬ا‌ۖ يَذۡرَؤُكُمۡ فِيهِ‌ۚ لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَىۡءٌ۬‌ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ (١١)

[Dia] Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan [pula], dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Q.S. Asy-Syura:11)

“Bu, Tuhan itu ada di mana?

Nak, Tuhan itu ada di atas..di langit..atau di surga atau di Arsy.
Jawaban seperti ini menyesatkan logika anak karena di luar angkasa tidak ada arah mata angin atas-bawah-kiri-kanan-depan-belakang.  Lalu jika Tuhan ada di langit, apakah di bumi Tuhan tidak ada? Jika dikatakan di surga, berarti lebih besar surga daripada Tuhan…berarti prinsip Allahu Akbar itu bohong?
Baca juga artikel Ukuran Allahu Akbar.
ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ‌ۚ
Dia bersemayam di atas ’Arsy. <– Ayat ini adalah ayat mutasyabihat, yaitu ayat yang wajib dibelokkan tafsirnya. Kalau dalam pelajaran bahasa Indonesia, kita mengenal makna denotatif dan konotatif, nah.. ayatmutasyabihat ini tergolong makna yang konotatif.
Nak, Tuhan itu ada di mana-mana
Dikhawatirkan anak akan otomatis berpikiran Tuhan itu banyak dan terbagi-bagi, seperti para freemason atau politeis Yunani Kuno.
Nak, Tuhan itu dekat dengan kita. Tuhan itu selalu ada di hati setiap orang yang saleh, termasuk di hati kamu, Sayang. Jadi, Tuhan selalu ada bersamamu di mana pun kamu berada

“ Qalbun mukmin baitullah “,  Hati seorang mukmin itu istana Allah.” (Hadist)
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat.(Q.S. Al-Baqarah (2) : 186)
وَهُوَ مَعَكُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ‌ۚ
Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.(Q.S. Al-Hadiid: 4)
وَلِلّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّواْ فَثَمَّ وَجْهُ اللّهِ
Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. (Q.S. Al-Baqarah (2) : 115)
Tuhan sering lho bicara sama kita..misalnya, kalau kamu teringat untuk bantu Ibu dan Ayah, tidak berantem sama kakak, adek atau teman, tidak malas belajar, tidak susah disuruh makan,..nah, itulah bisikan Tuhan untukmu, Sayang
وَٱللَّهُ يَهۡدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٲطٍ۬ مُّسۡتَقِيمٍ
Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus
. (Q.S. Al-Baqarah: 213)

“Bu, kenapa kita harus nyembah Tuhan?”


Karena kalau kamu tidak menyembah Tuhan, kamu akan dimasukkan ke neraka. Kalau kamu menyembah Tuhan, kamu akan dimasukkan ke surga

Jawaban seperti ini akan membentuk paradigma (pola pikir) pamrih dalam beribadah kepada Tuhan, bahkan menjadi benih syirik halus (khafi). Hal ini juga yang menyebabkan banyak orang menjadi ateis karena menurut akal mereka:
Masak sama Tuhan kayak dagang aja! Yang namanya Tuhan itu berarti butuh penyembahan! Tuhan kayak anak kecil aja, kalau diturutin maunya, surga; kalau gak diturutin, neraka!!
Orang yang menyembah surga, ia mendambakan kenikmatannya, bukan mengharap Penciptanya. Orang yang menyembah neraka, ia takut kepada neraka, bukan takut kepada Penciptanya. (Syaikh Abdul Qadir al-Jailani)
Nak, kita menyembah Tuhan sebagai wujud bersyukur karena Tuhan telah memberikan banyak kebaikan dan kemudahan buat kita. Contohnya, Adek sekarang bisa bernapas menghirup udara bebas, gratis lagi.. kalau mesti bayar, ‘kan Ayah sama Ibu gak akan bisa bayar. Di sungai banyak ikan yang bisa kita pancing untuk makan, atau untuk dijadikan ikan hias di akuarium.
Semua untuk kesenangan kita.
Kalau Adek gak nyembah Tuhan, Adek yang rugi, bukan Tuhan. Misalnya, kalau Adek gak nurut sama ibu-bapak guru di sekolah, Adek sendiri yang rugi, nilai Adek jadi jelek. Isi rapor jadi kebakaran semua. Ibu-bapak guru tetap saja guru, biar pun kamu dan teman-temanmu gak nurut sama ibu-bapak guru.
إِنَّ ٱللَّهَ لَغَنِىٌّ عَنِ ٱلۡعَـٰلَمِينَ
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya [tidak memerlukan sesuatu] dari semesta alam.(Q.S. Al-Ankabut: 6)
Baca juga Mengapa Allah Menciptakan Makhluk?
Katakan juga pada anak kita:
“Adek mulai sekarang harus belajar cinta sama Tuhan, lebih daripada cinta sama Ayah-Ibu, ya?!”
“Kenapa, Bu?”
“Karena suatu hari Ayah sama Ibu bisa meninggal dunia, sedangkan Tuhan tidak pernah mati. Nah, kalau suatu hari Ayah atau Ibu meninggal, kamu tidak boleh merasa kesepian karena Tuhan selalu ada untuk kamu.”
“Nanti, Tuhan juga akan mendatangkan orang-orang baik yang sayang sama Adek seperti sayangnya Ayah sama Ibu. Misalnya, Paman, Bibi, atau para tetangga yang baik hati, juga teman-temanmu.”
“Dan mulai sekarang rajin-rajin belajar Iqra supaya nanti bisa mengaji Quran. Mengaji Quran artinya kita berbicara sama Tuhan. “
* Kesalahan orang tua muslim masa kini adalah lebih sibuk mencarikan les-les bahasa Inggris, matematika, atau piano. Mereka bangga anaknya sudah bisa bahasa Inggris atau nilai matematikanya bagus. Mereka tidak prihatin atau sedih kalau anak-anaknya belum mengenal huruf-huruf hijaiyyah..huruf-huruf yang mengantarkan anak-anak juga orang tuanya pada keridaan dan kasih sayang Tuhan di dunia dan di akhirat.
Hmm..kira-kira demikian menurut pandangan saya. Mudah-mudahan Sobat sekalian sudi memberi masukan karena tulisan ini dimaksudkan sebagai bahan diskusi, bukan fatwa..ahahaha! Mungkin tata kalimat di tulisan ini terlalu “berat” untuk diserap oleh anak atau ada pertanyaan anak yang belum tercantum di sini.
Mari kita diskusikan bersama demi terbentuknya generasi tauhidi yang cerdas akal dan imannya.

Jumat, 17 Juni 2011

Tuhan Tidak Ada

Jangan Terkejut Dengan Tajuknya! Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya.
Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat.
Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan.
Si tukang cukur bilang, " Saya tidak percaya Tuhan itu ada ".
" Kenapa kamu berkata begitu ??? " timpal si konsumen.
" Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, di jalanan... untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada. Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada, Adakah yang sakit ?? Adakah anak terlantar ?? Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi. "
Si konsumen diam untuk berfikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat.
Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.

Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar (lagee umpung ticem), kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.
Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata, " Kamu tahu, sebenarnya TIDAK ADA TUKANG CUKUR. "
Si tukang cukur tidak terima, " Kamu kok bisa bilang begitu ?? ". " Saya di sini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu !"
" Tidak !" elak si konsumen. " Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana ", si konsumen menambahkan.
" Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada !", sanggah si tukang cukur. " Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya ", jawab si tukang cukur membela diri.
" Cocok !" kata si konsumen menyetujui. " Itulah point utama-nya ! Sama dengan Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA ! Tapi apa yang terjadi...? orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU MENCARI-NYA. Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini. "
Si tukang cukur terbengong dan mulai berfikir !!!
Apakah kita di posisi si konsumen atau si tukang cukur? mari introspeksi diri kita... Wallahu a'lam...

Rabu, 15 Juni 2011

Tatacara Shalat Khusufain - Gerhana (Matahari atau Bulan)

Sebagian orang menganggap terjadinya gerhana matahari dan bulan sebagai gejala alam biasa, sebagai peristiwa ilmiah yang bisa dinalar. Gerhana sekedar menjadi tontonan menarik yang bisa disaksikan beramai-ramai bersama keluarga dan handai tolan. Namun bagi yang merasa tunduk kepada keagungan Sang Perncipta, Allah SWT, gerhana adalah peristiwa penting yang secara gamblang menunjukkan bahwa ada kekuatan Yang Maha Agung di luar batas kemampuan manusia; manusia yang paling merasa faham ilmu alam sekalipun. Mereka yang merasa rendah di hadapan Sang Pencipta akan menadahkan muka, menghadap Allah, mengerjakan shalat secara berjamaah. Rasulullah SAW telah memberikan tuntunan untuk itu.
Rasulullah SAW bersabda,”Sesungguhnya matahari dan rembulan adalah dua tanda-tanda kekuasaan Allah, maka apabila kalian melihat gerhana, maka berdo’alah kepada Allah, lalu sholatlah sehingga hilang dari kalian gelap, dan bersedekahlah.” (HR Bukhari-Muslim)
Sayyidatuna A’isyah ra bercerita: Gerhana matahari pernah terjadi di masa Rasululloh SAW kemudian beliau sholat bersama para sahabat. Beliau pun berdiri dengan lama, ruku’ dengan lama, berdiri lagi dengan lama namun lebih pendek dari yang pertama, lalu ruku’ dengan lama namun lebih pendek dari yang pertama, lalu mengangkat kepala dan bersujud, dan melakukan sholat yang terakhir seperti itu, kemudian selesai dan matahari pun sudah muncul. (HR Bukhari, Muslim, Nasa’i, Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Para ulama sepakat bahwa sholat gerhana matahari dan bulan adalah sunnah dan dilakukan secara berjamaah. Berdasarkan redaksi hadits yang pertama di atas penamaan gerhana matahari dan bulan berbeda, sholat khusuf untuk gerhana bulan dan sholat kusuf untuk gerhana matahari.
Imam Maliki dan Syafi’i berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidatuna A’isyah berpendapat bahwa sholat gerhana dengan dua roka’at dengan dua kali ruku’, berbeda dengan sholat Id dan Jum’at. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas juga terdapat penjelasan serupa, yakni sholat gerhana dikerjakan dua roka’at dengan dua kali ruku’, dan dijelaskan oleh Abu Umar bahwa hadits tersebut dinilai paling shahih.
Maka dengan begitu keistimewaan shalat gernana dibanding dengan shalat sunnah sunnah lainnya terletak pada bilangan ruku’ pada setiap roka’atnya. Apalagi dalam setiap ruku’ disunnahkan membaca tasbih berulang-ulang dan berlama-lama.
سُبْحَانِ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ
Tasbih berarti gerak yang dinamis seperti ketika bulan berrotasi (berputar mengelilingi kutubnya) dan berevolusi (mengelilingi) bumi, bumi berotasi dan berevolusi mengelilingi matahari, atau ketika matahari berotasi dan berevolusi pada pusat galaksi Bimasakti. Namun pada saat terjadi gerhana, ada proses yang aneh dalam rotasi dan revolusi itu. Maka bertasbihlah! Maha Suci Allah, Yang Maha Agung!
Adapun tata cara shalat gerhana adalah sebagai berikut:
1. Memastikan terjadinya gerhana bulan atau matahari terlebih
dahulu. (Sebagai panduan lihat di rubrik IPTEK)
2. Shalat gerhana dilakukan saat gerhana sedang terjadi.
3. Sebelum sholat, jamaah dapat diingatkan dengan ungkapan,
Ash-shalatu jaami’ah.”
4. Niat melakukan sholat gerhana matahari (kusufisy-syams)
atau gerhana bulan (khusufil-qamar),
menjadi imam atau ma’mum.

أُصَلِّيْ سُنَّةً لِكُسُوْفِ الشَّمْسِ / لِخُسُوْفِ الْقَمَرِ اِمَامًا / مَأْمُوْمًا لِلّهِ تَعَالَى
5. Sholat gerhana dilakukan sebanyak dua rakaat.
6. Setiap rakaat terdiri dari dua kali ruku dan dua kali sujud.
7. Setelah rukuk pertama dari setiap rakaat membaca Al-Fatihah
dan surat kembali

8. Pada rakaat pertama, bacaan surat pertama lebih panjang
daripada surat kedua. Demikian pula pada rakaat kedua,
bacaan surat pertama lebih panjang daripada surat kedua.
Misalnya rakaat pertama membaca surat Yasin (36)
dan ar-Rahman (55), lalu raka’at kedua
membaca al-Waqiah (56) dan al-Mulk (78)
9. Setelah sholat disunahkan untuk berkhutbah. (nam)

Sumber Website Resmi Nahdlatul Ulama
Menurut Habib Munzir bin Fuad Al Musawwa, panduan singkat mengenai shalat gerhana
caranya adalah ada tiga cara :
1. yg termudah adalah dg dua rakaat sebagaimana shalat subuh.
2. dua rakaat, dan setiap rakaat adalah dg dua rukuk dan dua kali qiyam, urutannya adalah : Takbiratul ihram, lalu Qiyam, fatihah, surat, rukuk, lalu Qiyam lagi, fatihah surat, rukuk, lalu I’tidal, lalu sujud, duduk sujud. lalu bangkit ke rakaat kedua dg hal yg sama.
3. dua rakaat sebagaimana poin kedua diatas, namun dipanjangkan, lalu diakhiri dg dua khutbah selepas shalat.

Jumat, 13 Mei 2011

Perlakuan Kita Terhadap Al Qur an

Ummat Islam adalah satu-satunya ummat yang paling beruntung di dunia, karena memiliki Wahyu Allah yang terpelihara dalam keadaan utuh dan dalam bentuknya yang asli, bebas dari kekotoran campur tangan manusia. Setiap kata-kata yang ada di dalamnya masih sama persis dengan ketika ia diturunkan kepada Rasulullah saw. Namun, umat Islam ini juga adalah orang-orang yang paling malang di dunia ini, karena, walaupun mereka memiliki Wahyu Allah tetapi mereka tidak dapat memperoleh berkat dan manfaat Wahyu tersebut, yang sebenarnya tak terhitung banyaknya itu.
"Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat." (terj. QS Al An’am 6 : 155)
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (terj. QS Thaha 20 : 124)
Al Qur’an diturunkan Allah kepada mereka agar mereka membacanya, memahami isinya dan berbuat menurut pentunjuknya. Dan dengan pertolongan Kitab ini, mereka disuruh untuk menegakkan pemerintahan di muka bumi Allah ini, yang berfungsi sesuai dengan hukum Allah. Al Qur’an datang untuk memberikan kepada mereka kebesaran dan kekuasaan. Ia datang untuk menjadikan mereka Wakil Allah yang sejati di bumi ini. Dan sejarah telah membuktikan bahwa bilamana ummat Islam berbuat menurut petunjuk-petunjuk yang terkandung dalam Kitab ini, maka Kitab ini akan memperlihatkan kemampuannya untuk menjadikan mereka pemimpin dunia.
Tetapi sekarang, kegunaan Al Qur’an bagi mereka hanyalah untuk disimpan di rumah untuk mengusir jin-jin/hantu-hantu. Mereka menuliskan ayat-ayat Al Qur’an pada lembaran-lembaran kertas lalu menggantungkannya pada leher mereka, atau mencelupkannya ke dalam air dan kemudian meminum airnya, dan mereka membaca ayat-ayat Al Qur’an tersebut tanpa memahami artinya. Namun mereka mengharap untuk dapat memperoleh sesuatu berkat daripadanya. Mereka tidak lagi mencari petunjuk daripadanya untuk mengatur masalah-masalah kehidupan mereka. Mereka tidak lagi menjadikan Al Qur’an sebagai pertimbangan untuk mengetahui apa yang harus mereka percayai, apa saja yang harus mereka kerjakan, dan bagaimana mereka harus melakukan transaksi-transaksi.
Mereka menjauhi Al Qur’an dalam menentukan hukum-hukum apa yang harus mereka ikuti dalam mengikat tali persahabatan dan membuat permusuhan, hak-hak apa yang dimiliki sesama manusia atas diri mereka dan juga hak-hak mereka sendiri atas sesama manusia. Mereka menjauhi Al Qur’an dalam menentukan apa yang benar dan yang salah, siapa yang harus dipatuhi perintahnya dan siapa pula yang harus ditentang, dengan siapa mereka harus memelihara hubungan dan dengan siapa tidak, siapa teman dan siapa musuh mereka, dan di mana letak kehinaan, kegagalan dan kerugian mereka?
Kamu muslimin tidak lagi memeriksa masalah-masalah ini dengan Al Qur’an. Mereka sekarang meminta petunjuk tentang masalah-masalah tersebut kepada orang kafir, orang musyrik, orang sesat dan hanya mementingkan diri sendiri, kepada suara-suara iblis yang ada dalam diri mereka sendiri, dan mereka mengikuti apa saja yang dikatakan oleh unsur-unsur tersebut. Karena itu mereka ditimpa bencana, yang pasti akan datang, menimpa siapa saja yang melupakan Allah dan yang mengikuti petunjuk selain dari petunjuk-Nya.
Akan halnya Al Qur’an sendiri, ia adalah sumber kebaikan yang paling besar. Al Qur’an mampu memberikan kepada anda manfaat apa pun yang anda inginkan dan sebanyak apa pun yang anda mau. Kalau dari Al Qur’an, yang anda cari hanya manfaat yang kecil dan remeh, seperti untuk mengusir jin/hantu, obat untuk orang sakit batuk dan demam, kemenangan dalam pengadilan dan sukses dalam mencari kerja, maka yang anda peroleh, memang, hanya hal-hal kecil itu saja. Bila yang anda cari hanya kekuasaan di atas dunia dan penguasaan terhadap alam semesta, maka anda juga akan memperolehnya. Dan kalau anda menginginkan untuk mencapai puncak kebesaran rohani, Al Qur’an juga akan membawa anda ke sana. Ini hanyalah soal kemampuan anda untuk mengambil manfaat daripadanya. Al Qur’an adalah kebaikan lautan: anda hanya mengambil dua tetes air daripadanya, padahal, sebenarnya ia mampu memberikan air sebanyak lautan itu sendiri.
“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (terj. QS Al A’raaf 7 : 52)
“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (terj. QS Al Iraa’ 17 : 82)
Apa yang diperbuat saudara kita sesama muslim terhadap Kitab Suci Allah adalah demikian bodoh dan patut ditertawakan. Seandainya saudara-saudara kita sesama muslim melihat orang lain berbuat seperti itu terhadap sesuatu yang lain, pasti mereka akan mentertawakannya dan menganggapnya sebagai orang gila. Sekiranya ada orang yang menerima resep dari seorang dokter, lalu resep ini dibungkusnya dengan kain dan digantungkannya di lehernya, atau dicelupkannya ke dalam air dan air itu diminumnya, apa yang akan anda katakan? Tidakkah anda akan mentertawakan dan mengatakan orang itu sebagai seorang yang bodoh? Nah, sekarang ini di depan mata anda semua perbuatan seperti ini sedang dilakukan terhadap resep yang paling manjur dan tak ternilai harganya, yang ditulis oleh ‘Dokter yang paling besar dari semua dokter’, yang dimaksudkan untuk menyembuhkan semua penyakit anda. Namun, tak seorang pun yang tertawa melihat perbuatan ini! Tak seorang pun mencoba mengerti bahwa sebuah resep bukanlah untuk digantungkan di leher atau dicelupkan ke dalam air lalu diminum, tetapi untuk menggunakan obat dengan cara seperti yang ditunjukkan dalam resep itu.
MEMAHAMI ISI AL QUR’AN DAN MENURUTINYA ADALAH WAJIB
Seandainya anda melihat orang yang sedang sakit membuka buku tentang pengobatan dan mengira bahwa dengan membacanya ia akan dapat sembuh dari penyakitnya, maka apa yang dapat anda katakan tentang orang itu? Tentu anda akan mengatakan bahwa orang tersebut adalah orang yang sinting dan harus dikirim ke rumah sakit jiwa? Akan tetapi tidaklah anda sadar bahwa anda sendiri melakukan hal yang sama kepada buku (Al Qur’an) yang dikirimkan oleh ‘Dokter Terpandai’ untuk menyembuhkan penyakit-penyakit anda? Anda hanya membacanya saja dan mengira bahwa dengan membacanya begitu saja, semua penyakit anda akan hilang. Anda mengira bahwa anda sudah cukup dengan membacanya saja tidak perlu untuk menuruti petunjuk-petunjuk yang terkandung di dalamnya, tidak pula penting untuk menghindari bahaya seperti yang dikatakannya. Maka, mengapa anda tidak memberikan penilaian yang sama kepada diri anda sendiri seperti yang anda berikan kepada orang yang mengira bahwa dengan membaca buku pengobatan saja adalah cukup untuk menyembuhkan penyakit?
Kalau anda menerima surat dalam bahasa yang tidak dimengerti, tentu anda mencari orang yang mengerti bahasa tersebut untuk mengetahui isinya. Anda tidak merasa tenang sebelum anda mengetahui isi surat tersebut. Begitulah yang anda lakukan terhadap surat-surat dagang yang mungkin akan memberikan keuntungan yang sedikit bagi anda. Akan tetapi surat (Al Qur’an) yang dikirimkan oleh ‘Penguasa Dunia’ kepada anda yang menerangkan semua keuntungan anda di lapangan din, yang menyangkut kehidupan duniawi, anda kesampingkan begitu saja tanpa mencoba untuk memahami isinya. Anda tidak memperlihatkan keinginan untuk mengetahui isinya. Tidakkah itu suatu hal yang mengherankan?
AKIBAT PERLAKUAN YANG ZALIM TERHADAP KITAB ALLAH
Bila anda merenungkan semua kenyataan yang terjadi sekarang ini, bahwa Kitab Allah sedang mengalami perlakuan yang zalim di dunia ini, dan para pelakunya adalah orang-orang yang menyatakan dirinya beriman kepada Kitab Allah dan bersedia mati untuk membelanya. Tak syak lagi mereka memang beriman kepadanya dan menganggapnya lebih berharga daripada hidup mereka sendiri; tetapi sayangnya mereka sendirilah yang memperlakukannya dengan perlakuan yang paling zalim. Dan akibat perlakuan yang zalim terhadap Kitab Allah ini jelas kelihatan! Hendaklah kita pahami benar-benar bahwa, Kitab Allah tidaklah diturunkan kepada manusia untuk menjerumuskannya ke dalam jurang kecelakaan, kemalangan dan penderitaan.
“Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut kepada Allah.” (terj. QS Thaha 20 : 2-3)
Al Qur’an adalah sumber kebahagiaan dan nasib baik, bukannya sumber kejahatan dam kesengsaraan. Tidak mungkin suatu ummat yang memiliki Wahyu Allah hidup dalam penderitaan di dunia ini, diperbudak, diinjak-injak, dan ditendang oleh orang lain. Suatu ummat hanya akan menemui nasib seperti ini bila mereka memperlakukan Kitab Allah secara zalim. Nasib Bani Israil terpampang di hadapan anda. Taurat dan Injil diturunkan kepada mereka dan dikatakan:
“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil, dan Al Qur’an, yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka.” (terj. QS Al Maidah 5 : 66)
Tetapi mereka memperlakukan Kitab-kitab Allah tersebut dengan cara yang zalim dan mereka memperoleh belasan perbuatan itu:
“… Lalu ditimpakan kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.” (terj. QS Al Baqarah 2 : 61)
Karena itu bila suatu ummat memiliki Kitab Allah, tetapi mereka hidup dalam kehinaan dan diperbudak oleh orang lain, maka anda boleh memastikan bahwa hal itu adalah karena mereka memperlakukan Kitab Allah dengan cara yang zalim, dan apa yang mereka alami itu adalah hukuman atas perbuatan mereka itu. Tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan diri dari murka Allah, selain menghentikan kezaliman tersebut dan memperlakukan Kitab Allah dengan semestinya. Bila anda semua tidak berhenti dari berbuat dosa yang besar ini, maka hidup anda tidak akan berubah meskipun anda mendirikan berbagai perguruan tinggi di setiap desa dan anak-anak anda semua menjadi sarjana, dan anda, seperti orang-orang Yahudi, menjadi jutawan-jutawan dengan jalan riba.

Selasa, 10 Mei 2011

Relativitas Waktu dan Kenyataan Takdir

Segala hal yang berkaitan sejauh ini menunjukkan bahwa pada hakikatnya "ruang berdimensi tiga" tidak ada, tetapi merupakan prasangka yang sepenuhnya ditemukan dalam persepsi dan yang menyebabkan seluruh kehidupan seseorang [menjadi berada] dalam ketiadaan ruang. Menyatakan kebalikannya akan berarti berpegang pada keyakinan takhyul yang jauh terlepas dari akal dan kebenaran ilmiah, karena tidak ada bukti sah keberadaan dunia materi berdimensi tiga.
Hal ini menolak anggapan utama filosofi materialisme yang mendasari teori evolusi, anggapan bahwa zat adalah mutlak dan abadi. Anggapan kedua yang merupakan sandaran filosofi materialisme ialah sangkaan bahwa waktu adalah mutlak dan kekal. Aggapan ini sama-sama takhyul dengan anggapan pertama.

PENCERAPAN WAKTU
Sesuatu yang kita cerap sebagai waktu, sebenarnya, adalah suatu metode pembandingan satu momen dengan yang lain. Kami bisa menjelaskan hal ini dengan contoh. Contohnya, ketika seseorang mengetuk suatu obyek, ia mendengar suara tertentu. Ketika ia mengetuk obyek yang sama lima menit kemudian, ia mendengar suara lain. Orang itu mencerap jarak waktu antara suara pertama dan suara kedua, dan ia menyebut interval ini "waktu". Tetapi pada saat ia mendengar suara kedua, suara pertama yang ia dengar tidak lebih dari imajinasi dalam benaknya. Ini hanya sepotong informasi dalam ingatannya. Orang itu merumuskan konsep "waktu" dengan membandingkan saat ia hidup dengan yang ia miliki dalam ingatannya. Jika pembandingan ini tidak dibuat, tidak mungkin ada konsep waktu.
Demikian pula, orang membuat pembandingan ketika ia melihat seseorang yang sedang memasuki ruang melewati pintu dan duduk di lengan kursi di tengah ruang. Pada waktu orang ini duduk di lengan kursi, kesan yang terkait dengan saat ia membuka pintu, berjalan menuju ruang, dan mengarahkan jalannya ke lengan kursi disusun sebagai potongan-potongan informasi dalam otaknya. Pencerapan waktu terjadi kala seseorang membandingkan orang yang sedang duduk di lengan kursi dengan potongan informasi itu.
Pendek kata, waktu menjadi ada sebagai akibat dari pembandingan yang dibuat antara ilusi-ilusi yang tersimpan dalam otak. Jika manusia tidak punya ingatan, maka otaknya tidak akan membuat penafsiran demikian dan karena itu tidak akan pernah membentuk konsep waktu. Satu-satunya alasan mengapa seseorang menentukan dirinya sendiri berusia tiga puluh tahun ialah karena ia telah mengumpulkan informasi berkenaan dengan usia tiga puluh tahun dalam benaknya. Jika ingatannya tidak ada, maka ia tidak akan berpikir tentang keberadaan waktu terdahulu dan ia hanya akan mengalami "saat" tunggal kala ia hidup.

PENJELASAN ILMIAH TENTANG KETIADAAN WAKTU
Mari kita terangkan pokok bahasan ini dengan mengutip berbagai penjelasan ilmuwan dan cendekiawan tentang pokok bahasan ini. Berkenaan dengan pokok bahasan waktu yang mengalir ke belakang, François Jacob, profesor genetika peraih Nobel dan intelektual terkenal, menyatakan dalam bukunya Le Jeu des Possibles (Yang Mungkin dan Yang Nyata) berikut ini:
Film yang diputar balik memungkinkan kita untuk membayangkan suatu dunia yang waktunya mengalir ke belakang. Suatu dunia dengan susu yang memisahkan diri sendiri dari kopi dan meloncat keluar dari mangkok untuk mencapai wadah susu; suatu dunia yang sinar-sinar terang terpancar dari dinding untuk terkumpul dalam sebuah perangkap (pusat gravitasi), tidak lagi memancar keluar dari sumber cahaya; suatu dunia yang sebuah batu meluncur ke telapak tangan seseorang bersama dengan tetesan air yang tak terhitung yang memungkinkan batu meloncat dari air. Tetapi, di dunia sedemikian rupa yang waktunya mempunyai sifat yang bertolak-belakang, proses otak kita, dan cara otak kita mengumpulkan informasi, berjalan ke belakang pula. Hal ini berlaku untuk masa lalu dan masa mendatang dan dunia akan tampak di depan kita tepat seperti yang baru saja tampak.42
Karena otak kita terbiasa dengan urutan peristiwa tertentu, dunia berjalan bukan seperti yang terkait di atas dan kita menganggap bahwa waktu selalu mengalir ke depan. Akan tetapi, hal ini merupakan putusan yang dicapai di otak dan bersifat relatif. Pada kenyataannya, kita tidak pernah bisa mengetahui bagaimana waktu mengalir atau bahkan apakah mengalir ataukah tidak. Ini merupakan indikasi fakta bahwa waktu bukanlah fakta mutlak, melainkan hanya semacam cerapan.
Relativitas waktu adalah fakta yang juga teruji oleh salah seorang fisikawan terpenting abad 20, Albert Einstein. Lincoln Barnett menulis dalam bukunya The Universe and Dr. Einstein:
Bersama-sama dengan kemutlakan ruang, Einsten membuang konsep kemutlakan waktu-mengenai aliran waktu semesta yang tetap, itu-itu saja, tidak bisa ditawar-tawar, yang mengalir dari masa lalu yang tak terbatas ke masa depan yang tak terbatas. Sebagian besar kekaburan yang melingkupi Teori Relativitas berasal dari keengganan manusia untuk mengakui bahwa rasa waktu, seperti rasa warna, merupakan bentuk cerapan. Tepat seperti ruang yang mungkin hanya tatanan obyek materi, waktu pun mungkin hanya tatanan peristiwa. Subyektivitas waktu itu dijelaskan dengan sebaik-baiknya dengan kata-kata Einsten sendiri. "Pengalaman individu," katanya, "tampak pada kita tertata dalam serangkaian peristiwa; dalam rangkaian ini, peristiwa tunggal yang kita ingat [menjadi] tampak tertata menurut kriteria "terdahulu" dan "terkemudian". Karena itu, ada waktu bagi individu, waktu-saya, atau waktu subyektif. Hal ini dengan sendirinya tidak bisa terukur. Sesungguhnya saya bisa mengasosiasikan angka-angka dengan peristiwa-peristiwa, dengan cara sedemikian rupa sehingga angka yang lebih besar lebih diasosiasikan dengan peristiwa terkemudian daripada dengan yang terdahulu.43
Einstein sendiri menunjukkan, seperti yang dikutip dalam buku Barnett: "ruang dan waktu merupakan bentuk intuisi, yang tidak bisa dipisahkan dari kesadaran lebih daripada yang bisa [dipisahkan dari] konsep warna, bentuk atau ukuran." Menurut Teori Relativitas Umum: "waktu tidak mempunyai keberadaan yang bebas terpisah dari tatanan peristiwa yang dengannya kita mengukurnya."44
Karena terdiri dari cerapan, waktu tergantung sepenuhnya pada pencerapnya dan karena itu bersifat relatif.
Kecepatan pengaliran waktu berbeda menurut acuan yang kita gunakan untuk mengukurnya karena tidak ada jam alamiah dalam tubuh manusia untuk menunjukkan dengan tepat seberapa cepat waktu melintas. Seperti tulisan Lincoln Barnett: "Tepat seperti hal-hal semacam warna yang tidak ada tanpa pencerapan oleh mata, seketika atau sejam atau sehari pun tidak ada tanpa penandaan oleh peristiwa."45
Relativitas waktu dialami dengan jelas dalam mimpi. Meskipun yang kita lihat dalam mimpi tampaknya berlangsung selama berjam-jam, itu sebenarnya hanya berlangung selama beberapa menit, dan bahkan beberapa detik.
Mari kita perhatikan contoh untuk menerangkan masalah ini lebih lanjut. Mari kita anggap bahwa kita berada di suatu ruang dengan satu jendela saja yang dirancang khusus dan kita tetap di sana selama jangka waktu tertentu. Ada jam di ruang itu yang dengannya kita bisa melihat jumlah waktu yang melintas. Pada saat yang sama, anggaplah bahwa melalui jendela ruang kita melihat matahari yang terbit dan tenggelam pada jarak waktu tertentu. Beberapa hari kemudian, jawaban yang akan kita berikan atas pertanyaan tentang jumlah waktu yang kita habiskan di kamar itu akan berdasarkan baik pada informasi yang telah kita kumpulkan dengan melihat jam dari satu waktu ke waktu lainnya maupun dengan hitungan yang kita buat menunjukkan berapa kali matahari terbit dan tenggelam. Umpamanya, kita perkirakan bahwa kita hanya menghabiskan tiga hari di ruang itu. Akan tetapi, jika orang yang meletakkan kita di ruang itu berkata bahwa kita hanya menyita dua hari di ruang itu dan bahwa matahari yang kita lihat dari jendela itu buatan yang dihasilkan oleh suatu mesin simulasi dan bahwa jam di kamar itu diatur khusus untuk berfungsi lebih cepat, maka penghitungan yang kita lakukan tidak memiliki makna.
Contoh ini menegaskan bahwa informasi yang kita miliki tentang tingkat lintasan waktu didasarkan pada acuan relatif. Relativitas waktu ialah fakta ilmiah yang juga terbukti dengan metode ilmiah. Teori Relativitas Umum Einstein pun berpendapat bahwa kecepatan waktu berubah tergantung pada kecepatan obyek dan posisinya di medan gravitasi. Bila kecepatan terus bertambah, waktu disingkatkan dan dipadatkan: waktu melambat seolah-olah sampai ke titik "berhenti".
Mari kita jelaskan hal ini dengan suatu contoh yang diberikan oleh Einsten. Bayangkan dua anak kembar, satu darinya tinggal di bumi sementara yang lainnya bepergian di ruang angkasa dengan kecepatan yang mendekati cahaya. Ketika ia kembali, anak kembar yang bepergian di ruang angkasa akan melihat bahwa saudaranya telah tumbuh jauh lebih tua daripada dirinya. Alasannya adalah bahwa waktu mengalir lebih lambat pada orang yang bepergian dengan kecepatan yang mendekati kecepatan cahaya. Mari kita bayangkan [ada] seorang ayah yang bepergian di ruang angkasa sedangkan anaknya diam di bumi. Jika si ayah berusia duapuluh tujuh tahun ketika berangkat sedangkan si anak tiga tahun; [maka] ketika ayahnya kembali ke bumi tigapuluh tahun kemudian (waktu bumi), anaknya akan berusia tigapuluh tiga tahun sementara ayahnya hanya tigapuluh [tahun].46 Relativitas waktu ini tidak disebabkan oleh pelambatan atau pun pencepatan arloji, atau pun pelambatan pegas mekanis. Ini justru merupakan hasil dari perbedaan periode kerja seluruh sistem keberadaan materi, yang jangkauannya sedalam partikel sub-atom. Dengan kata lain, bagi orang yang mengalaminya, pemendekan waktu tidak dialami seolah-olah berakting di film yang bergerak lambat. Dalam pranata yang sedemikian itu, yang waktunya memendek, detak jantung seseorang, penggandaan selnya, dan fungsi otaknya, dan lain-lain, semuanya bekerja lebih lambat daripada orang yang bergerak lebih lambat di bumi. Namun demikian, orang itu melanjutkan kehidupan sehari-harinya dan sama sekali tidak memperhatikan pemendekan waktu. Bahkan sesungguhnya pemendekan itu tidak sampai tampak sebelum dilakukan pembandingan.

RELATIVITAS DALAM AL-QUR'AN
Kesimpulan yang ditimbulkan oleh temuan-temuan ilmu pengetahuan modern adalah bahwa waktu bukanlah fakta mutlak seperti sangkaan para penganut materialisme, melainkan hanya cerapan relatif. Yang paling menarik ialah bahwa fakta ini, yang tidak ditemukan sampai abad ke-20 oleh ilmu pengetahuan, diungkapkan kepada umat manusia dalam Al-Qur'an empatbelas abad silam. Ada berbagai acuan dalam al-Qur'an mengenai relativitas waktu.
Di banyak ayat al-Qur'an bisa dilihat fakta yang terbukti secara ilmiah bahwa waktu merupakan persepsi psikologis yang tergantung pada peristiwa, pranata, dan kondisi. Contohnya, seluruh kehidupan seseorang sangat singkat seperti yang dikabarkan dalam Al-Qur'an:
Ketika suatu hari kamu akan dipanggil dan kamu akan memenuhi (penggilan-Nya) dengan (kata-kata) pujian kepada-Nya, dan kamu akan mengira bahwa kamu tinggal (di dunia ini) hanya sebentar. (Surat al-Israa', 52)
Dan suatu hari bilamana ia mengumpulkan mereka, seolah-olah mereka berdiam (di bumi) hanya sesaat pada siang hari; mereka akan saling mengenal. (Surat Yuunus, 45)
Beberapa ayat menunjukkan bahwa orang-orang mencerap waktu dengan berlainan dan bahwa terkadang orang-orang dapat mencerap jangka waktu yang sangat singkat sebagai waktu yang sangat lama. Percakapan orang-orang yang terjadi selama pengadilan mereka di akhirat berikut ini merupakan contoh baik tentang hal ini:
Ia berkata, "Berapa tahun sudah kamu tinggal di bumi ini?" Mereka berkata, "Kami tinggal sehari atau sebagian dari sehari; tapi tanyakanlah kepada mereka yang menghitung." Ia berfirman, "Kami tinggal hanya sebentar, kalau kamu tahu!" (Surat al-Mu'minuun, 112-114)
Di beberapa ayat lain Allah menyatakan bahwa waktu dapat mengalir melalui tahap yang berbeda dalam pranata yang berbeda:
Mereka meminta kepadamu supaya azab dipercepat, tetapi Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Sungguh, satu hari menurut Allah seperti seribu tahun dalam perhitungan kamu. (Surat al-Hajj, 47)
Para malaikat dan roh naik kepada-Nya pada suatu hari yang ukurannya limapuluh ribu tahun. (Surat al-Ma'aarij, 4)
Ia mengatur semua urusan dari langit sampai ke bumi, kemudian (semua itu) kembali kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya seribu tahun menurut perhitungan kamu. (Surat as-Sajdah, 5)
Ayat-ayat ini merupakan ungkapan jelas tentang relativitas waktu. Bahwa hasil ini, yang baru saja dipahami oleh ilmuwan abad 20, dikomunikasikan kepada manusia 1.400 tahun lalu dalam al-Qur'an merupakan suatu indikasi wahyu Al-Qur'an oleh Allah, yang meliputi seluruh waktu dan ruang.
Terdapat banyak ayat al-Qur'an lain yang menunjukkan bahwa waktu adalah cerapan. Ini merupakan bukti khas dalam kisah-kisah itu. Contohnya, Allah telah menjaga Ashhaabul Kahfi, sekelompok orang beriman yang disebutkan dalam Al-Qur'an, yang tidur lelap selama lebih dari tiga abad. Ketika mereka bangun, orang-orang ini mengira bahwa mereka telah tinggal dalam keadaan itu sebentar saja, dan tidak bisa menghitung berapa lama mereka tertidur:
Lalu Kami tarik (sehelai tabir) ke telinga mereka, dalam gua selama beberapa tahun, (sehingga mereka tidak mendengar). Kemudian Kami bangkitkan mereka, untuk Kami uji, mana dari kedua golongan menghitung lebih baik: berapa lama mereka tinggal. (Surat al-Kahfi, 11-12)
Demikianlah Kami bangkitkan mereka (dari tidur) supaya mereka saling bertanya. Salah seorang dari mereka bertanya, "Berapa lama kamu tinggal (di sini)?" Mereka menjawab, "Kami tinggal (barangkali) sehari atau sebagian dari sehari." (Akhirnya) mereka (semua) berkata, "(Hanya) Tuhan yang mengetahui (berapa lama) kamu tinggal (di sini).... (Surat al-Kahfi, 19)
Situasi yang dikisahkan dalam ayat di bawah ini juga merupakan bukti bahwa waktu sebenarnya merupakan cerapan psikologis.
Atau seperti orang yang melewati sebuah dusun yang sudah runtuh sampai ke atap-atapnya, ia berkata: "Oh, bagaimana Allah menghidupkan semua ini setelah mati?" lalu Allah membuat orang itu mati selama seratus tahun kemudian membangkitkannya kembali. Ia (Allah) berfirman: "Tidak, bahkan seratus tahun, maka lihatlah makananmu dan minumanmu, tidak rusak. Tetapi lihatlah keledaimu; dan akan Kami jadikan engkau suatu tanda bagi manusia; dan lihatlah tulang-belulang itu bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging. Maka setelah jelas kepadanya ia pun berkata: "Aku tahu bahwa Allah berkuasa atas segalanya." (Surat al-Baqarah, 259)
Ayat di atas jelas menekankan bahwa Allah, Yang menciptakan waktu, tidak dibatasi oleh waktu. Sebaliknya, manusia dibatasi oleh waktu, yang ditakdirkan Allah. Seperti dalam ayat itu, manusia bahkan tidak mampu mengetahui berapa lama ia tertidur. Dalam keadaan demikian, pernyataan bahwa waktu adalah mutlak (sebagaimana pernyataan para penganut materialisme dalam pemikiran mereka yang menyimpang) sangat tidak masuk akal.

TAKDIR
Relativitas waktu ini mejernihkan masalah yang sangat penting. Relativitas begitu berubah-ubah sehingga suatu periode yang tampaknya berdurasi milyaran tahun bagi kita mungkin berlangsung hanya beberapa detik dalam perspektif lain. Lagipula, suatu periode waktu yang sangat lama yang membentang dari permulaan dunia sampai akhir dunia mungkin tidak berlangsung walau sedetik saja di dimensi lain.
Inilah intisari konsep takdir-suatu konsep yang tidak dipahami dengan baik oleh kebanyakan orang, khususnya para materialis yang sepenuhnya menolak [konsep] ini. Takdir ialah pengetahuan Allah yang sempurna tentang semua peristiwa masa lalu atau pun masa datang. Kebanyakan orang mempertanyakan bagaimana Allah telah mengetahui peristiwa-peristiwa yang belum dialami dan menyebabkan mereka gagal dalam memahami keotentikan takdir. Bagaimanapun, "peristiwa yang belum dialami" hanya demikian bagi kita. Allah tidak dibatasi oleh waktu atau pun ruang karena Ia sendiri yang menciptakannya. Karena alasan ini, masa lalu, masa datang, dan masa sekarang semuanya sama bagi Allah; bagi-Nya segala sesuatu telah terjadi dan berakhir.
Dalam bukunya The Universe and Dr. Einstein, Lincoln Barnett menerangkan bagaimana Teori Relativitas Umum sampai pada kesimpulan ini. Menurut Barnett, alam semesta dapat "tercakup dengan seluruh kemegahannya hanya oleh intelek kosmik".47 Kehendak yang oleh Barnett disebut "intelek kosmik" merupakan bijaksanaan dan pengetahuan Allah, yang berlaku bagi segenap alam. Sama sebagaimana kita dapat dengan mudah melihat pangkal, tengah, dan ujung penggaris, dan semua satuan di antara [pangkal-ujung] sebagai satu keutuhan, Allah mengetahui waktu yang kita patuhi seolah-olah waktu merupakan satu peristiwa mulai dari awal hingga akhir. Akan tetapi, manusia mengalami insiden hanya ketika waktu mereka sampai, dan mereka menyaksikan takdir yang telah Alah ciptakan bagi mereka.
Perlu pula diperhatikan dangkalnya pemahaman yang menyimpang mengenai takdir yang berlaku di masyarakat kita. Keyakinan yang menyimpang tentang takdir ini merupakan suatu takhyul bahwa Allah telah menentukan "takdir" bagi setiap manusia tetapi bahwa takdir-takdir ini terkadang bisa diubah oleh manusia. Contohnya, orang memberikan pernyataan semu tentang seorang pasien yang kembali dari pintu kematian seperti "ia mengalahkan takdirnya". Tiada seorang pun yang dapat mengubah takdir. Orang yang kembali dari pintu kematian sesungguhnya tidak meninggal karena ia tidak ditakdirkan untuk meninggal pada saat itu. Ironisnya, inilah takdir orang-orang itu yang membohongi diri mereka sendiri dengan mengatakan "Saya mengalahkan takdir saya" bahwa mestinya mereka katakan demikian dan tetap berpola pikir demikian.
Takdir adalah pengetahuan yang abadi dari Allah dan bagi Allah, Yang mengetahui waktu seperti satu kejadian saja dan yang berlaku atas seluruh waktu dan ruang; segala sesuatu ditentukan dan diakhiri dalam takdir. Kita juga memahami dari sesuatu yang Allah hubungkan dalam Al-Qur'an bahwa waktu itu satu bagi Allah: banyak kejadian yang dalam pandangan kita akan terjadi di masa datang dikaitkan dalam Al-Qur'an dengan cara sedemikian seolah-olah [kejadian-kejadian] itu telah berlangsung jauh-jauh sebelumnya. Contohnya, ayat-ayat yang memerikan catatan bahwa manusia harus menyerahkan diri kepada Allah di akhirat dihubungkan sebagai peristiwa-peristiwa yang telah terjadi lama sekali:
Sangkakala ditiup, maka segala yang ada di langit dan yang ada di bumi pingsan, kecuali yang dikehendaki oleh Allah (dikecualikan). Kemudian itu ditiup sekali lagi, tiba-tiba mereka berdiri tegak dan menunggu. Dan bumi memancarkan cahaya Tuhannya; Kitab (catatan segala perbuatan) akan diletakkan (terbuka); para nabi dan saksi-saksi akan didatangkan, dan dijatuhkanlah keputusan yang adil di antara mereka, dan mereka pun tak akan dirugikan. (Surat az-Zumar, 68-69)
Orang-orang kafir dibawa ke neraka berbondong-bondong. (Surat az-Zumar,71)
Dan mereka yang bertakwa kepada Tuhan akan dibawa ke dalam surga berbondong-bondong… (Surat az-Zumar, 73)
Beberapa ayat lain dalam masalah ini ialah:
Dan setiap pribadi akan tampil, dengan masing-masing pendorong dan saksi. (Surat Qaaf, 21)
Dan langit pun akan terbelah, sehingga hari itu jadi rapuh. (Surat al-Haaqqah, 16)
Dan atas kesabaran dan ketabahan mereka, Ia membalas dengan surga dan (pakaian) sutera; mereka di sini bersandar di atas peterana; mereka tak akan melihat di dalamnya matahari (terlalu panas) atau dinginnya (bulan) yang melampaui batas. (Surat al-Insaan, 12-13)
Dan api neraka ditampakkan bagi siapa saja yang melihat. (Surat an-Naazi'at, 36)
Maka hari ini orang-orang beriman menertawakan kaum tak beriman. (Surat al-Muthaffifiin, 34)
Dan orang-orang yang berdosa melihat api neraka dan mereka mengerti akan jatuh ke dalamnya; dan mereka tidak mendapat jalan keluarnya. (Surat al-Kahfi, 53)
Seperti yang dapat dilihat, kejadian-kejadian yang akan terjadi setelah kematian kita (dari sudut pandang kita) dihubungkan dalam al-Qur'an sebagai peristiwa masa lalu yang telah dialami. Allah tidak dibatasi oleh kerangka waktu relatif yang membatasi kita. Allah menghendaki hal-hal ini dalam ketiadaan waktu: orang telah mengerjakannya dan semua peristiwa ini telah berlalu dan berakhir. Di dalam ayat di bawah ini Ia menegaskan bahwa setiap peristiwa itu, besar atau pun kecil, ada dalam pengetahuan Allah dan tercatat dalam sebuah kitab:
Dalam keadaan apa pun kamu, dan bagian apa pun yang kamu baca dari Al-Quran, dan perbuatan apa pun yang kamu kerjakan, niscaya Kami menjadi saksi ketika kamu sedang tekun melakukannya. Tak ada yang tersembunyi dari Tuhanmu seberat zarah pun, di bumi dan di langit, tak ada yang lebih kecil atau lebih besar daripada itu, niscaya terekam jelas dalam Kitab. (Surat Yuunus, 61)

KEKHAWATIRAN PARA MATERIALIS
Masalah yang dibahas di bab ini, yaitu kebenaran yang melandasi materi, ketiadaan waktu, dan ketiadaan tempat, sesungguhnya sangat jelas. Seperti yang diungkapkan sebelumnya, hal ini jelas bukan semacam filosofi atau pola pikir, melainkan hasil ilmiah yang tidak mungkin ditolak. Di samping keberadaan realitas teknis, buktinya juga tidak memberi alternatif logis dan rasional lain dalam masalah ini: alam semesta ialah kesatuan khayalan atau semu dengan semua zat penyusunnya dan semua makhluk yang tinggal di dalamnya. [Alam semesta] ini sekumpulan cerapan.
Para materialis mengalami kesulitan untuk memahami masalah ini. Contohnya, jika kita kembali ke contoh bus Politzer: meski secara teknis Politzer tahu bahwa ia tidak bisa keluar dari persepsinya, ia hanya bisa menerimanya di kejadian-kejadian tertentu. Dengan kata lain, bagi Politzer, peristiwa-peristiwa berlangsung di otak sampai terjadinya penabrakan bus, segera seusai penabrakan bus terjadi; benda-benda keluar dari otak dan mendapatkan realitas fisik. Rusaknya logika hal ini sangat jelas. Politzer membuat kekeliruan sebagaimana Johnson, seorang materialis, yang berkata "Saya menendang batu, kakiku sakit, karenanya batu itu ada". Politzer tidak dapat memahami bahwa kejutan yang terasa setelah bus itu berdampak merupakan cerapan belaka juga.
Alasan halus mengapa pengikut materialisme tidak dapat memahami masalah ini adalah ketakutan mereka terhadap sesuatu yang akan mereka hadapi bila mereka memahaminya. Lincoln Barnett memberi tahu kita bahwa sebagian ilmuwan "melihat" masalah ini:
Seiring dengan reduksi oleh para filsuf terhadap semua realitas subyektif ke suatu dunia bayang-bayang cerapan, ilmuwan-ilmuwan menjadi sadar akan batas-batas indera manusia yang mengkhawatirkan.48
Acuan apa pun yang dibuat pada fakta bahwa materi dan waktu ialah cerapan membangkitkan ketakutan luar bagi materialis ini, karena [materi dan waktu] ini merupakan satu-satunya gagasan yang ia andalkan sebagai keberadaan mutlak. Ia, dalam pengertian tertentu, menjadikan mereka berhala sesembahan; karena ia kira bahwa materi dan waktu (melalui evolusi) menciptakannya.
Jika ia merasa bahwa alam semesta yang pada perkiraannya merupakan tempat ia hidup, dunia ini, tubuhnya sendiri, orang lain, para filsuf materialisme lain yang mempengaruhi gagasannya, dan, pendek kata, segala sesuatu merupakan cerapan, ia merasa diluapi dengan kengerian total. Segala sandarannya, keyakinannya, dan jalan lain yang ia punya tiba-tiba lenyap. Ia merasakan perasaan putus asa yang akan benar-benar ia alami di hari perhitungan itu, seperti yang diuraikan dalam ayat "Hari itu mereka akan menyatakan tunduk kepada Allah; dan segala yang diada-adakan akan meninggalkan mereka." (Surat an-Nahl, 87)
Lantas, materialis ini berupaya meyakinkan diri sendiri tentang kenyataan zat, dan menciptakan "bukti" demi tujuan ini. Ia memukulkan lengannya ke tembok, menendang batu, berteriak, bersorak, namun tidak pernah bisa terlepas dari realitas.
Persis sebagaimana mereka ingin menghilangkan realitas ini dari benak mereka, mereka juga ingin orang lain membuangnya. Mereka juga sadar bahwa jika orang pada umumnya mengetahui arti sejati materi, sifat primitif filsafat mereka sendiri dan kejahiliyahannya akan pandangan dunia akan ditelanjangi sampai terlihat oleh semua orang, dan tiada landasan lagi yang merupakan dasar pandangan mereka. Ketakutan ini merupakan alasan mengapa mereka sangat terganggu dengan fakta-fakta yang terkait di sini.
Allah menyatakan bahwa ketakutan orang kafir akan mendalam di akhirat. Di hari penghakiman, mereka akan dipanggil sehingga:
Dan tatkala kami kumpulkan mereka semua kemudian Kami berfirman kepada yang mempersekutukan (Kami), "Manakah sekutu-sekutumu yang kamu dakwakan ada?" (Surat al-An'aam, 22)
Seusai itu, orang-orang kafir akan menyaksikan harta, anak, dan kerabat mereka, yang mereka anggap nyata yang dianggap sebagai sekutu Allah, meninggalkan mereka dan lenyap. Allah mengabari kita hal ini di ayat "Perhatikanlah! Betapa mereka berdusta terhadap diri sendiri! Segala yang mereka ada-adakan dengan kebohongan menghilang meninggalkan mereka." (Surat al-An'aam, 24)

PAHALA ORANG BERIMAN
Sementara kenyataan bahwa zat dan waktu merupakan cerapan mengkhawatirkan para materialis, [kenyataan] sebaliknya berlaku bagi orang beriman. Orang beriman menjadi sangat senang ketika mereka mencerap rahasia yang ada di balik zat itu, karena kenyataan ini merupakan kunci semua pertanyaan itu. Dengan kunci ini, semua rahasia dibuka. Orang menjadi mudah memahami banyak hal yang sebelumnya sulit dipahami.


Seperti yang dikatakan sebelumnya, pertanyaan tentang kematian, neraka, akhirat, perubahan dimensi, dan pertanyaan seperti "Di mana Allah?" "Apa yang sebelum Allah?" "Siapa pencipta Allah?" "Berapa lama kehidupan di alam kubur berlangsung?" "Di mana surga dan neraka?" dan "Di mana surga dan neraka saat ini berada?" mudah dijawab. Akan terpahami jenis tatanan seluruh alam yang diciptakan oleh Allah dari ketiadaan, semakin banyak semakin begitu. Dengan rahasia ini, pertanyaan "kapan?" dan "di mana?" menjadi tak berarti karena tiada lagi waktu dan tempat. Bila ketiadaan ruang dimengerti, akan dipahami bahwa neraka, surga, dan bumi semuanya itu sebenarnya ada di tempat yang sama. Jika ketiadaan waktu dimengerti, akan dipahami bahwa segala hal terjadi pada satu kejadian: ketiadaan itu ditunggu dan waktu tidak berlalu, karena segala sesuatu telah terjadi dan selesai.
Dengan terselidikinya rahasia ini, dunia menjadi seperti surga bagi orang beriman. Segala kekhawatiran, kecemasan, dan ketakutan material yang menyusahkan lenyap. Orang ini mengerti bahwa segenap alam memiliki kedaulatan tunggal, bahwa Ia mengubah seluruh dunia fisik sekehendak Dia dan bahwa yang wajib dilakukan oleh manusia adalah kembali kepada-Nya. Lalu ia menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah "... supaya mengabdi kepada-Nya ..." (Surat Aali 'Imraan, 35)
Memahami rahasia ini merupakan pahala terbesar di dunia ini.
Dengan rahasia ini, kenyataan lain yang sangat penting yang disebutkan di Al-Qur'an tersingkap: bahwa "Allah lebih dekat dengan manusia daripada urat merihnya sendiri". (Surat Qaaf, 16) Sebagaimana yang kita ketahui, urat merih itu di dalam tubuh. Apa yang dapat lebih dekat dengan seseorang daripada [isi tubuh] di dalamnya? Situasi ini bisa mudah dijelaskan dengan realitas ketiadaan tempat. Ayat ini juga bisa dipahami dengan lebih baik dengan memahami rahasia ini.
Hal ini merupakan kebenaran sederhana. Harus ditegakkan dengan baik bahwa tiada penolong dan penyedia bagi manusia selain Allah. Tidak ada apa pun kecuali Allah; Allah satu-satunya keberadaan mutlak yang dapat dimintai perlindungan, yang dapat dimohoni pertolongan dan pahala.
Ke mana pun kita menghadap, [di situ] ada keberadaan Allah.


B I S M I L L A A H I R R A H M A A N I R R A H I I M . . . MARI B E R S A M A B E R B A G I R A N G K A I A N C E R I T A, G O R E S A N K I S A H, K E K U A T A N A Q I D A H, DAN K E T A J A M A N P E N G E T A H U A N . . . . . "KUTITIPKAN SENYUMKU, DI SEJUTA MANIS SENYUMNYA...

Suka

Share to Facebook >>