Percayalah... Suatu saat nanti... Kita 'kan dipertemukan kembali... Bintang... :)

Tampilkan postingan dengan label My Document. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Document. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Februari 2012

Ngatain Orang Sesat kok Sesat

Hati-hati dalam menjadikan buku bacaan sebagai referensi tanpa melihat latar belakang si penulis, dikhawatirkan banyak asupan-asupan luar secara perlahan dimasukkan ke dalam alam bawah sadar otak sehingga secara tidak sadar terhipnotis menjadi pengikut tanpa adanya bekal ilmu tauhid yang memadai. Karena apapun yang melenceng dari ajaran dan hukum ilmu Tauhid, adalah sesat.

Guru besar Kaum Liberal Kontemporer : Nasr Hamid Abu Zayd. Dia adalah tokoh-tokoh liberal yang pendapat-pendapatnya sangat ekstrim, sehingga dia divonis murtad oleh Mahkamar Mesir. Dia lalu melarikan diri ke Leiden University. Dari sanalah, ia dengan dukungan negara Barat, mendidik beberapa dosen UIN/IAIN. Beberapa muridnya sudah kembali ke Indonesia dan menduduki posisi-posisi penting di UIN. 

Di Indonesia, para penghujat Al-Qur’an di kampus-kampus UIN/IAIN hampir selalu menjadikan Abu Zayd dan yang lainnya semisal Harun Nasution sebagai rujukan. Menurut Nasr Abu Zayd, Al Qur’an bukan lagi dianggap sebagai wahyu suci dari Allah kepada Muhammad Saw, melainkan produk budaya. Metode tafsir yang digunakan adalah hermeneutika, karena metode tafsir konvensional dianggap sudah tidak sesuai dengan zaman. Juga dikatakan Abu Zayd, “Sebagai budaya, posisi Al Qur’an tidak berbeda dengan rumput.” Ada juga diantaranya yang mengatakan, "Mengikuti Nabi Muhammad, bukan mengikuti agama, melainkan mengikuti Arab." 

Apalagi, Nasr Hamid Abu Zayd pun melecehkan metodelogi Imam Syafi’I, dan menyimpulkan poligami bukan ajaran Islam. Juga dalam hal warisan, hukum 2:1 dinilai belum final. Parahnya lagi yang mengatakan menikah bukan ibadah. Lalu hal lain yang mereka gencarkan? Proyek "Gender" yang terbukti gagal di negara-negara barat kini memasuki peradaban Timur. Dengan mengatasnamakan HAM, mereka berhasil mengadu domba para wanita dan laki-laki dengan bukti meningkatnya angka perceraian misalnya di Aceh, dan pelecehan terhadap wanita (karena wanita ingin disamakan). 

Pada dasarnya istilah "Islam Liberal", "Islam Progressif", "Islam Inklusif", "Islam Sekuler", "Islam Reduksionis", "Islam Akomodatif", dan yang sejenisnya, sebenarnya hanya merujuk pada "Satu Makhluk Yg Sama" yaitu tentang "Islam Yg Tunduk Dan ter-subordinasikan kepada barat". Islam yg Kaaffaah dan tak cocok dengan barat, otomatis disebut sebagai: Fundamentalis yg Radikal dan Terrorist. Anehnya, masih ada org yg mengaku muslim yg dengan rela menerima penisbatan sesat menyesatkan ini. 

Lalu ada dari kita yang mengatakan, tidak ada ajaran yang sesat, melainkan kita yang saling menyesatkan. Ketika arah tujuan kita ke timur, lalu ada dari kelompok kita yang menuju barat, apa lantas kita diam saja? Sebagai makhluk berakal yang peduli, selayaknya kita mengatakan “Teman, kamu salah arah, jika kesana kamu akan tersesat.”  Semua pemikiran-pemikiran yang melenceng di atas didukung oleh Hukum Human Right, tentang kebebasan perfikir dan berpendapat. Dengan kata lain, negara-negara memberikan jaminan kepada siapa saja, "Silahkan Anda sesat, itu hak Anda." 

Wallahu a'lam...

Buanglah Tempat Pada Sampahnya

Aku sering mendengar tentang peringatan jangan buang sampah sembarangan ketika tiba di daerah kepulauan. Dan memang, sampah seharusnya dikelola dengan baik, tidak hanya di pulau, dimanapun hendaknya lebih memperhatikan sampah yang kita buang, aku sering memarahi adikku ketika melihat mereka membauang sampah sembarangan.

Sebelum tiba di pulau, temanku menasehatiku agar tidak sembarang membuang sampah, awalnya aku sangat senang, meskipun belum percaya, segitukah masyarakat di pulau peduli dengan sampah? jadi kenapa mesti se heboh itu para pendatang membicarakan tentang sampah. Tanyaku dalam hati.

Jauh berbeda dengan apa yang kudengar. Seolah aturan “Buanglah sampah pada tempatnya” hanya berlaku bagi pendatang. Sedangkan masyarakat lokal, bebas membuang sampah sesuka hati mereka.  Wow... amazing... luar biasa, biasa diluar...

Aku melihat ternyata warning untuk tidak membuang sampah sembarangan hanya beredar di telinga para pendatang, yang bukan merupakan penduduk setempat. Faktanya, di pulau masih banyak sampah yang berserakan dimana-mana. Drainase yang seharusnya mengalirkan air menjadi sumbat dan penuh dengan beraneka ragam corak plastik dan botol.  Karang laut seolah tercipta dari kaleng-kaleng dan plastik-plastik bekas hasil limbah masyarakat disana.

PENGELOLAAN SAMPAH

Memang telah menjadi sebuah realita ketika para pejabat di pemerintah yang berlomba-lomba menjadi nomor 1 untuk menjadi pemimpin di negara kita hanya untuk mengejar satu tujuan. Proyek. Ini lah perjuangan mati-matian untuk mengumpulkan harta dan kekayaan pribadi dan kelompoknya.

Jadi wajar, jika ada hal-hal yang bersifat kecil, namun memiliki efek yang besar, seperti halnya sampah kurang diperhatikan oleh pemerintah. Penyadaran akan pemanfaatan sampah di level masyarakat masih sangat rendah. Bagaimana menciptakan program-program penyuluhan yang dibuat oleh pemerintah, sedangkan pejabat sendiri masih membuang sampah seenaknya dari mobilnya na mewah ketika melintas di jalan raya.

Wajar, jika kita melihat pejabat yang hobi “nyampah”, toh mereka juga sampah. Tapi tidak wajar, ketika ajakan gotong royong yang pernah digalakkan oleh pemerintah, hanya sebatas rutinitas/ gerakan massa untuk membersihkan selokan dan mengutip sampah-sampah yang berserakan. Seakan-akan pemerintah mengatakan, “buanglah sampah sesukamu, lalu bersihkan ketika gotong royong nanti.” Terlalu... (kata bang Haji Rhoma)

Bayangkan ketika masyarakat telah mengelola tempat pembuangan sampah secara baik, yang didukung oleh adanya dukungan pemerintah yang mengangkut sampah-sampah yang dikumpulkan oleh masyarakat, otomatis, gerakan gotong royong untuk mengutip sampah, sungguh tidak diperlukan lagi.

Terdasar maupun tidak, semua kita memdambakan sebuah area yang bersih dan bebas dari sampah. Sebuah desa yang asri dan enak dipandang mata. Seluruh elemen mendambakan provinsi yang mempunyai tempat pengelolaan sampah yang memadai.

Tanyakan diri masing-masing, kenapa masih merasa berat menggerakkan tangan kita mendekati tempat sampah? Meskipun tempat itu sudah dipenuhi sampah, jika kita tidak menambah, niscaya sampah tidak akan bertambah bukan? Nah, jadi kalau bukan kita yang membuang sampah, siapa lagi? Bukankah tidak akan ada sampah jika kita tidak membuangnya?

Kemudian M. Sampee Edwards dengan ide kreatifnya membuat karikatur Gam Cantoi dengan gambar anjing yang sedang membuang sampah pada sebuah area yang bertuliskan "Yang buang sampah disini adalah binatang"

Senin, 28 November 2011

Meningkatkan Kapasitas Masyarakat Sebagai Relawan dalam Penanganan Bencana

Pendahuluan
Palang Merah Indonesia (PMI) merupakan satu-satunya  organisasi perhimpunan palang merah nasional yang telah diakui oleh Federasi Internasional, bersifat independen dan bergerak dalam bidang sosial kemanusiaan. Dalam menjalankan kegiatannnya PMI selalu berpegang teguh pada tujuh prinsip dasar Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan sabit merah yaitu kemanusiaan, kesamaan, kesukarelaan, kemandirian, kesatuan, kenetralan, dan kesemestaan. Sampai saat ini PMI telah berada di 33 PMI Daerah (tingkat provinsi) dan sekitar 408 PMI Cabang (tingkat kota/kabupaten) di seluruh Indonesia. Dengan tersebarnya markas PMI di seluruh plosok Tanah Air, maka tak heran jika organisasi ini paling dikenal dan dekat dengan masyarakat.
Salah satu misi dari PMI yakni Meningkatkan dan mengembangkan kapasitas/  sumber daya manusia (pengurus, staf, Palang Merah Remaja dan relawan). Dalam berbagai kegiatan yang dilakukan, PMI dalam hal ini memiliki komitmen terhadap kemanusiaan seperti yang tertuang dalam strategi 2010 berisi tentang memperbaiki hajat hidup masyarakat rentan melalui promosi prinsip nilai kemanusiaan, penanggulangan bencana (disaster management), kesiapsiagaan bencana (disaster preparedness), kesehatan dan perawatan di masyarakat, Penanganan program pada isu-isu penanggulangan bencana, penanggulangan wabah penyakit, remaja dan manula, kemitraan dengan pemerintah, organisasi dan manajemen kapasitas sumber daya serta humas dan promosi, maupun rencana kerja (Plan of Action) merupakan keputusan dari Konferensi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah ke-27 di Jenewa Swiss tahun 1999.
Dalam makalah ini penulis menggarisbawahi salah satu dari misi Palang Merah Indonesia dalam peningkatan kualitas relawan dalam penanggulangan bencana pada suatu desa. Ide dasarnya adalah penggabungan antara masyarakat dengan relawan Palang Merah Indonesia.
Masyarakat Rentan
Pengertian dari kerentanan adalah tingkat dimana sebuah masyarakat, structural, layanan, atau daerah geografis yang berpotensi/ mungkin rusak atau terganggu oleh dampak bahaya tertentu karena sifat-sifatnya, konstruksinya, dan dekat dengan area berbahaya atau area rawan (Sumber: Pelatihan KBBM- PERTAMA untuk KSR: 2008). Keberadaan kelompok rentan yang antara lain mencakup anak, kelompok perempuan rentan, penyandang cacat, dan kelompok minoritas mempunyai arti penting dalam, masyarakat. Untuk memberikan gambaran kepada keempat kelompok masyarakat tersebut selama ini, maka penelaahan perlu diawali dengan mengetahui keadaan sebenarnya yang terjadi di dalam masyarakat. 
Menurut badan meteorology dunia, Indonesia merupakan Negara yang memiliki kerentanan yang tinggi terhadap bencana alam yang ditimbulkan di lautan, daratan dan pegunungan. Melihat apa yang terjadi, seolah PMI hanya fokus kepada penderita penyakit yang sedang memerlukan darah, karena program ini yang paling gencar dilakukan oleh PMI. Seperti dijelaskan di atas, bahwa seharusnya seluruh gerakan kepalangmerahan haruslah berbasis masyarakat. Ini artinya masyarakatlah yang membantu setiap pergerakan kepalangmerahan mulai dari level desa, hingga unsure pemerintahan desa.
Kendatinya kenyataan di lapangan menunjukan bahwa masih dijumpai kelompok rentan yang belum sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Upaya perlindungan guna mencapai pemenuhan hak kelompok rentan telah banyak dilakukan Pemerintah bersama masyarakat, namun masih dihadapkan pada beberapa kendala yang antara lain berupa: kurangnya koordinasi antar instansi pemerintah, belum terlaksananya sosialisasi dengan baik, dan kemiskinan yang masih dialami masyarakat.
Hal ini membutuhkan adanya pemetaan daerah rawan yang dilakukan bersama-sama dan memiliki satu data base di PMI yang kemudian di share kepada pemerintah. Dengan indicator adanya semacam “desa sahabat.” Misalkan masyarakat di desa B adalah desa yang rentan dan rawan bencana bersebelahan dengan desa A, maka ketika terjadinya bencana di desa A, relawan (masyarakat) langsung memprioritaskan membantu desa B dan menjadikan desanya sebagai tempat penampungan bagi desa A. demikian juga sebaliknya. Jika kerja sama di level masyarakat sudah sedemikian terjalin dengan baik,  maka dengan sendirinya terciptalah aktualisasi dari masyarakat siaga bencana.

Relawan
Dalam penanganan bencana, posisi dan peran yang sangat penting dimiliki oleh relawan. Maka dari itu relawan bukan sekedar sebuah kekuatan alternatif, tetapi menjadi alternatif utama. Tentu ada banyak persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjadi relawan emergency bencana. Yang terpenting adalah kekuatan fisik dan keahlian. Jika keterlibatan relawan di level masyarakat ini dianggap penting, maka sudah selayaknya jika kita mengatakan relawan adalah donatur. Sesungguhnya masyarakat yang mendermakan dananya untuk membantu korban bencana, maka sejatinya iapun adalah relawan. Dana bahkan menjadi hal yang sangat penting untuk mendukung hasil maksimal penanganan bencana. 
Disisi lain relawan sebagai penyumbang tenaga dan keahlian. Klasifikasi dalam kategori ini contohnya ahli evakuasi, ahli medis, jurnalis, ahli gizi, juru masak, tukang bangunan, psikolog, guru, seniman, dan lainya yang secara sukarela turun langsung membantu korban bencana di lapangan. Relawan sebagai penyedia fasilitas yang diperlukan dalam penaganan bencana. Misalnya ada relawan yang menyediakan sarana transportasi, menydediakan rumah atau kantornya untuk dijadikan markas posko kemanusiaan, dll.
Sedemikian pentingnya peranan dan posisi relawan terhadap masyarakat dalam penanganan bencana, baik saat sebeum, sedang dan pasca terjadinya bencana. Kita belajar dari pengalaman pahit Tsunami yang melanda Aceh 2004 silam, para donator berhamburan dating ke Aceh, kendati, memang tidak dapat dipungkiri mereka tergerak atas nama kemanusiaan. Tapi di balik itu, banyak pula implementasi buruk yang tercipta di masyarakat baik dari segi psikologi dan gaya hidup. Budaya cash for work juga diperkenalkan oleh lembaga asing yang dating berperan membantu pemulihan pasca bencana.
Mari kita lihat bagaimana masyarakat Jepang mengambil peran langsung setelah mendapatkan support dari pemerintah pasca terjadinya Tsunami. Pemerintah bersama-sama dengan masyarakat bangkit untuk penanganan pasca bencana. Semua berlomba-lomba setidaknya menjadi relawan untuk ataupun kerabat masing-masing. Sedikit sekali Lembaga asing yang mengambil alih penanganan. Berbeda dengan kondisi yang telah dialami berkali-kali di Indonesia, diamana masyarakat masih sangat tergantung kepada lembaga asing, dan di situ juga kita temukan lembaga local yang masih sangat menunggu kuncuran danan lembaga luar. Dan pada akhirnya budaya yang tercipta di masyarakat adalah budaya menunggu, padahal jika mereka bekerja menangani pasca bencana, juga akan mengurangi kerentanan masyarakat itu sendiri, karena adanya interaksi social dan kerjasama yang baik merupakan cerminan dalam kesuksesannya suatu masyarakat. Tinggal peran instansi terkait, termasuk gerakan palangmerah memberikan pembenahan-pembenahan dan peningkatan kualitas mana yang masih kurang kepada masyarakat tersebut dalam hal manajemen dan upaya-upaya tehnis yang dibutuhkan.

Manajemen Logistik
Sebelum bantuan didatangkan, sudah sepantasnya adanya identifikasi kebutuhan di level masyarakat yang disesuaikan dengan budaya dan adat-istiadat pada daerah terkenanya bencana. Dan hal- hal penting yang perlu diperhatikan dalam penanganan logistik bantuan antara lain:
Pengadaan logistik bantuan harus sedapat mungkin berdampak pada pemberdayaan ekonomi lokal. Caranya adalah membeli logistik bantuan dari pelaku ekonomi lokal, khususnya para pelaku ekonomi menengah bawah. Ini akan mendorong perputaran ekonomi lokal menjadi stabil. Strategi seperti ini sangat efektif dan efesen karena selain memungkinkan bisa cepat tiba di lokasi bencana, kita juga tidak direpotkan oleh ribetnya masalah transportasi. 
Adanya keragaman logistik bantuan terutama untuk makanan dan sandang, hendaknya menyesuaikan dengan kultur yang berlaku di masyarakat korban bencana. Sebagai contoh, ternyata masyarakat Aceh tidak menyukai ikan sarden yang diawetkan. Kebanyakan pengungsi menukarnya dengan barang lain dengan para pedagang. Atau karena tidak segera dikonsumsi, banyak sarden yang menjadi kadaluarsa. Berdasarkan pengamatan kami di lapangan, ikan asin lebih mereka sukai daripada sarden. Dan ikan asin dengan mudah bisa dibeli dari para nelayan Aceh. 
Selain itu, makanan memenuhi standar gizi sangat dibutuhkan. Dimana masyarakat korban bencana yang umumnya menghuni barak-barak penampungan alakadarnya,  menyebabkan keadaan fisik yang semakin melemah. Oleh karena itu pilihan logistik makanan yang tidak mempunyai nilai gizi maksimum bisa menyebabkan malapetaka bagi korban. Data menunjukkan bahwa wabah penyakit dan kematian korban bencana banyak terjadi justru setelah mereka mengkonsumsi makanan yang tidak bergizi secara terus menerus. Meskipun praktis, Mie instan misalnya bukanlah pilihan logistik yang aman untuk dikonsumsi secara terus menerus oleh pengungsi korban bencana.
 Hal yang terakhir yang pelu diperhatikan adalah pakaian yang diberikan sesuai kebutuhan dan tetap memperhatikan martabat korban sebagai manusia.

Penanganan Bencana
Dalam hal mengantisipasi dan mengurangi dampak dari kerentanan di masyarakat di masa dating, PMI telah menjadi pioner dalam menciptakan program Kesiapsiagaan Bencana berbasis masyarakat atau lebih dikenal di kalangan internasional dengan Community Based Disarter Preparedness. Program ini bertujuan mendorong pemberdayaan kapasitas masyarakat dan memberikan berbagai fasilitas agar masyarakat siap dan siaga dalam mencegah serta mengurangi dampak dan risiko bencana yang terjadi di lingkungannya sendiri. Karena hal ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat sebagai pihak yang secara langsung terkena dampak bila terjadi bencana.
Pada dasarnya seluruh gerakan kepalangmerahan haruslah berbasis masyarakat, ujung tombak gerakan kepalangmerahan adalah unsur unsur kesukarelaan seperti Korps Sukarela atau KSR maupun Tenaga Sukarela atau TSR dan juga Palang Merah Remaja atau PMR dan seluruh unsur ini selalu berbasis pada anggota masyarakat sesuai salah satu prinsip kepalangmerahan (Kesemestaan).
Sangat dibutuhkan kerjasama antar berbagai elemen dan unsure masyarakat dalam hal penanggulangan bencana. Karena segencar apapun yang dilakukan oleh pemerintah, lembaga-lembaga, instansi, dan gerakan kepalangmerahan, hal ini akan sia-sia jika tidak ada partisipasi dan kepedulian di level masyarakat. Jika penggabungan gerakan palang merah dan masyarakat berjalan cukup baik, maka sejatinya, bisa dikatakan perhimpunan palang merah hanya bekerja mengurusi kebutuhan-kebutuhan tehnis di masyarakat. Sedangkan yang menjalankan seluruh kegiatan adalah masyarakat yang telah sadar dan mawas diri terhadap kerentanan yang teridentifikasi di desanya.

Kesimpulan.
Hal yang terpenting dalam penanggulangan bencana adalah terciptanya kesadaran dan kepedulian sesame masyarakat dan pemerintag serta intansi atau organisasi yang bergerak memberikan bantuan.
Dalam menangani dampak bencana, baik pada tahapan kesiapsiagaan, emergency maupun tahapan rehabilitasi, sebaiknya menggerakan elemen lokal sebagai sumberdaya utama. Bahkan bisa menggerakan sebagian dari korban bencana itu sendiri. Dalam hal ini misalnya kebutuhan tenaga relawan lapangan bisa merekrut sumber daya local yang ada.
Untuk menggerakkan elemen lokal tidaklah sulit, karena pada hakekatnya semua program yang kita ingin lakukan adalah kebutuhan mereka. Artinya menjadikan elemen lokal termasuk korban sebagai subjek, bukan objek. Prinsip ini akan jauh lebih maksimal hasilnya karena elemen lokal dan korban akan merasa memiliki terhadap program yang dijalankan.


Banda Aceh, 27 Nopember 2011
Mahzil.

Rabu, 20 Juli 2011

Belajar dari Si Lebay

Ada hal2 yang tidak biasa menjadi luar biasa ketika kita menceritakannya dengan penuh ekspresi, teratur dan lebay secara berlebihan...
Namun disini saya tidak menulis cerita yang penuh ekspresi dan teratur tadi (ah, bilang aja belum pengalaman nulis, hehe) melainkan mencoba untuk menulis kisah lebay tersebut...
Temanku, sebut saja namanya Buyung Nasution, inisialnya Buyung (Kayaknya ini bukan nama inisial dech... Hehe). Sore itu, ia menelponku. HP ku yang bisa ditukar dengan pisang goreng itu pun berbunyi... triiiingg triiinggg truuungg truuunggg...
"Zil, Innalillahi wainna ilaihi raaji'un" ucapannya sangat fasih kudengar.
"Innalillahi wainna ilaihi raaji'un... Siapa meninggal Yung? Ada musibah apa?" Aku bertanya penasaran...
"Musibah Zil" kata2 musibah diulang sampai kalo nggak salah 4 kali, aku pun bertanya masalah serupa kira-kira 5 kali.
Kalo main quiz tebak kata miliknya TPI dulu, udah jauh2 hari dieliminasi ni orang, hehe...
"Kunci rumahmu hilang sama-ku zil, mungkin terjatuh, nggak tau aku ntah dimana... sorry lah zil, aku minta maap kali zil, aku nggak tau, padahal..........."
"Udah nggak papa, gampang tuh, banyak serapnya" Aku memotong pembicaraan. Ingin cepat mengakhiri.
"Itulah zil, aku nggak enak nih sama qe zil, aku ntah kenapa nggak tau aku zil, mungkin terjatuh, atau ntah dimana hilangnya padahal yakin aku ada zil, aku......"
"Iya, cuma kunci aja kok, nggak papa" Lagi2 aku memotong pembicaraan.
"Yaudahlah zil kalo gitu, lagi dimana ni zil?"
"Iya, aku lagi di kampus nih, lagi ada urusan dikit"
"Oke lah zil kalo gitu ya, aku nggak tau zil, ntah dimana hilangnya, mungkin ntah terjatuh... atau dimana ya? nggak papa tu zil? Kek mana tu? masih ada kunci lain zil? Aku nggak tau zil, padahal tadinya............"
"#$%^ &*(&^% $#$%^ &*(*&^%$#"
"Oke, Wa'alaikum salam..."

Sisi positif yang bisa saya ambil dari kisah tadi adalah:
1. Jangan mengulang pernyataan yang sama dalam pembicaraan, karena itu membosankan. Teman-teman akan menjahui kamu.
2. Jangan berlebihan mengungkapkan ekspresi ketika berbicara.
3. Perlu ada kata minta maaf, asal jangan kebanyakan, bisa2 maafnya ditarik kembali oleh temenmu.
4. Pelajari lawan bicaramu, apakah ia tipe To the point, Basa-basi, atau tipe Serius. Jadi kalo banyak basa-basi kepada orang yang to the poin, kamu akan dilist dalam kategori "Teman yang perlu diwaspadai" hehe
5. Apa yang kamu lakukan jika bertemu teman sejenis diatas? :D

Senin, 04 Juli 2011

17 Mayam Emas 24 Karat.


Kampus Muhammadiah, markas untuk hahahihi bersama teman2, aku juga kadang tidur disana, sebuah gubuk kecil dari kayu, bersebelahan dengan gudang universitas, tempat penyimpanan biskuit bantuan UN pasca tsunami, di huni oleh 4 orang penduduk tetap sekaligus terlama disitu, salah satunya Abeuk, juga temanku waktu di pesantren dulu. Dia yang mengajakku tinggal disitu.

Aku menemui manusia2 ajaib ‘n tahan lapar di gubuk yang agak Nampak miring itu. Pagi hari kami di kantin, ditemani Koran kemarin, secangkir kopi dan biskuit dari gudang yang diperkirakan nggak pernah habis, tersusun rapi bahkan kalo untuk mengambil sususan dos yang paling atas, mesti naik tangga dulu. Tapi dasar manusia langka, nggak pernah kehabisan akal, mereka mencongkel satu persatu pack biscuit yang ada, bak tikus mencuri makanan. Itulah rutinitasku. Juga rutinitas teman2ku jauh2 hari sebelum ku datang.

Selesai sarapan pagi, pemilik kantin terpaksa harus menjadi juru catat bagi temenku itu, sibuk membolak-balik buku, mencari tempat yang layak untuk menulis, “Tanggal 16 Januari 2006, Abeuk ---- Rp 14.000,-

Mereka super sekali. Mereka luar biasa. Mereka makhluk ajaib…

Seorang satpam kampus, mencoba membangkitkan semangatku. Katanya sich iba melihat keadaanku belakangan sering bengong sendiri. Beliau mengajakku mencari kayu sisa2 konstruksi bangunan. Dengan maksud dijual ke rumah-rumah di desa yang membutuhkannya sebagai kayu bakar. Dan jelas untuk tujuan dan kepentingan yang sama, mendapatkan “UANG”

Aku pun bersemangat, untuk rasa lapar yang telah menghantui di siang bolong, untuk secangkir kopi panas nan harum yang menggelegar, untuk sebatang rokok yang bisa membuat santai, untuk merayu si-dompet yang tlah lama bersedih karena dibiarkan kosong melompong. Untuk Abeuk, Untuk teman2 yang tanpa sungkan memberiku penginapan “gratis”, hehe…

Meski letih. Tanpa ambil pusing, aku harus tetap bertahan. Bak kata pepatah, berakit-rakit ke hulu, kalo nggak ada rakit, yaaah naik ojek kan bisa, hehe…

Gayung bersambut, ternyata banting keringat kami nggak sia2. Emang jumlahnya nggak seberapa, tapi 80 ribu itu bagiku seperti 17 mayam Emas 24 karat.

Perutpun terisi, dan kami tertidur lelap di siang bocor…

*************

Ada uang, tapi 4 ribu

Tiga tahun kuliah di jurusan sastra Inggris, gampang2 susah ternyata, aku mengambil Diploma karena ayahku melarangku ngambil S1, yaah mungkin ada hikmahnya…

Tiga tahun terasa begitu cepat, nggak kerasa dah wisuda. Cengar-cengir di acara wisuda, foto bareng temen2. Jika diperhatikan, emang agak aneh, kuliah bertahun2 hanya untuk 1 hari itu aja. Hari dimana ada ijazah, hari pembagian titel, sekaligus hari penambahan para pengangguran...

2 bulan di kampung, bukan waktu yang singkat bagi pengangguran.

“Zil, ke Banda Aceh yuk” ajak temanku yang ingin mengantarkan neneknya naik haji, tradisi mengantar haji ini memang udah turun temurun, aku teringat ketika ayahku berangkat haji, ditepungtawari plus pake acara tangis2an segala, kaya orang mau perang dan nggak pernah kembali. Sempat aku bertanya2, kenapa mesti menangis ya? Kayak mau meninggal aja… J

Akhirnya tanpa pikir panjang dan izin dari orang tua, aku pun berangkat ke Banda Aceh. Dibarengi niat awal, mencopot status “pengangguran”.

Awal yang pahit, benar kurasakan, dunia ini memang kejam, lebih kejam dari Adolf Hitler si penjajah dan pembantai, lebih kejam dari tukang sate yang setelah menyembelih lalu menusuk2 bahkan memanggang (tapi kambing, buat satee gitu… hehe…)

Stok uang jalan dari ortuku habis, perlahan2 meleleh bak lilin ruang gelap. Terpikir olehku minta kompensasi tambahan dari kampung, tapi niat tersebut urung aku lakukan karena malu, itulah aku dri zaman ke zaman, terus berpegang teguh pada prinsip “tidak suka meminta”.

Di pesantren dulu, mungkin aku satu2nya yang jarang dapet uang jajan, karena mama’ ku setiap kunjungannya di tahun pertamaku disana, mama’ selalu memberiku uang bertahap. Karena jumlah uang jajan dan SPP-ku berjumlah sama persis.

“Uang SPP udah bayar? Nih, mama’ kasih uang jajan dulu, uang SPP bulan depan aja.”

Merasa nggak enak karena disuratin oleh biro pesantren, akhirnya aku mengikhlaskan uang jajan untuk membayar SPP. Walhasil uang jajan ludes.

Bulan depan mama’ berkunjung lagi, hatiku riang gembira… J

“Uang jajan masih ada? Nih, bayar SPP  dulu, uang jajan nanti mama’ kasih lagi.”

Uang itu pun benar2 kupakai buat bayar SPP. Walakhir, uang jajan ludes lagi.

Pada dasarnya mama ku ngerti aku banget, aku yang nggak pernah bilang nggak ada uang kalo mama’ ku bertanya.

“Masih ada uang jajan?”

“Masih mak”

“Berapa lagi?”

“empat ribu mak”

“Apa? Uang jajan apa tu empat ribu? Nih ambil buat jajan, beli aja apa yang kamu suka, jangan ditahan2…” Mama’ geleng2 kepala…

“Iya mak”

Hatiku meloncat kegirangan kaya kodok keluar dari kulkas. Aku dapet 150 ribu, emang bener sich, uang 4 ribu Cuma dapet beli es lilin 1, kodok2 kesukaanku 2, n kalo pengen makan mie, harus ngutang 2 ribu lagi… ckckckck…

Itulah sosok seorang ibu yang selalu mencari tahu keadaan anaknya. Mama’ memang number one in the world, tapi sayangnya, ketika penyakit “lupa” mama’ kambuh, pertanyaan2 semacam itu nggak pernah ada. L

Atau abangku, SAFRIL (Saf bermakna barisan dalam bahasa Arab, sedangkan Ril, dalam bahasa Inggris dibaca REAL, jadi jika digabungkan nama saudara laki2 pertamaku itu bisa diartikan “BARISAN YANG NYATA” *maksa… kekekeke).

Waktu itu mama’ mendelegasikan abangku untuk mengantarkan langsung uang buku ke pondok pesantren. Setelah melewati pemeriksaan Satpam pagar. Biasa, Pak Yusuf, si kepala Satpam kadang suka over kalo periksa orang, pake acara sita barang, ngeluarin isi2 dalam tas, merogoh2 kantong bak penjaga penjara, alasannya “waspada ada tamu yang membawa rokok, narkoba, dan senjata tajam.” Padahal, manaaaa daaa… hehehe

Abangku merepet pedas, ngoceh2 nggak karuan, katanya sich awalnya ntu satpam nggak ngizinin masuk, setelah memberikan 27 alasan, akhirnya abangku berhasil menemuiku di depan pintu kamar pondok yang kalo didorong pake telunjuk bisa jatuh nimpa siapapun yang ada di belakangnya.

“Berapa perlu uang dek?”

“Dua Puluh Empat Ribu bang”

“Haaah…??? Ongkos dari kampung kemari aja udah 30 ribu. Itu belum hitung uang makan minum. Jadi cape2 jauh2 kemari Cuma ngantar uang 24 ribu?”

“Iya, segitu perlunya buat beli buku, kata ustadz wajib beli”

“ #$%^&*(*&^%$%^&* “

*******************************************

JOSET (Jomblo Kloset)

Semenjak aku duduk di bangku kuliah aku ga pernah bersentuhan dengan yang namanya “pacaran”, kata temenku pacaran itu asyik, banyak kisah yang bisa diukir. Aku percaya, buktinya pas lagi liburan kemana aja, banyak temuan ukiran-ukiran kisah itu ada dimana2, di pohon, di batu monumen, di museum, di prasasti2 bersejarah, bahkan di toilet n WC umum sekalipun, jelas terukir “Dessy Love Me,” atau “Jono ‘n Jonianty Luph 4ever” atau apa lah... 

Dari segi tulisan, mungkin para psikolog bisa menyimpulkan  bahwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww3ssssssssssssssssssssss3aeeeeeqEWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWW (jiah, huruf “w” di keyboard laptopku yang nggak seberapa ini macet, hehe… ok, lanjut…), bahwa tu orang kurang kerjaan banget, tidak mencintai lingkungan setempat, mana tulisannya hancur2an lagi. Kebayang nggak? Kenapa WC umum bau nya bisa putusin urat sarafnya Gatot Kaca? Padahal yang bersangkutan punya urat kawat… 

Temenku dengan bangganya gonta-ganti pacar. Pacaran hanya main-main saja. Tidak bagiku, karena aku punya harapan dan impian terdoktrin di otakku, bahwa bidadari syurga, lebih indah dari segalanya, hingga sekarang aku belum bisa membayangkannya. 

Tambahan di otak kananku, pacaran hanya sebuah aturan yang dapat mengancam langkah kakiku, betapa tidak, banyak teman-temanku yang melalikan kuliah gara-gara pacaran. Kiriman orangtua nggak pernah cukup, juga gara-gara pacaran. 

Nggak munafik, keinginan tuk pacaran pasti ada dalam diriku, mungkin bagi siapapun termasuk ayam tetangga sebelah yang selalu ku lempari batu kalo berkokoknya kepagian. 

Aku nggak mau mesti pinjam motor temen dan ngapel ke rumah pacar lalu mengatakan, “keren kan motor ku?”. Aku merasa berdosa, jika jatah uang jajan yang pas2an harus dibagi dua. Aku juga nggak mau waktu asyikku nongkrong bareng teman harus ku akhiri hanya setalah seseorang berkata, “Jemput sekarang atau kita putuuuusss !!!” Bagiku, itu malaikat mini pencabut nyawa, sungguh menaktutkan.

Harapanku sederhana, aku tidak ingin memiliki pendamping hidup yang “bukan” dari Aceh. Jangan katakana ini sukuisme, ini hanya perkara “Merpati berpasangan merpati”, “singa dengan singa,” kan ribet, bayangin kalo “ayam pacaran sama kambing?”

Aku ingin pacar sekaligus akan menjadi istriku, mengukir kisah sampai tua, punya anak maksimal Sembilan (anti KB, kwakwakaka…). Temen-temenku mentertawaiku, ada yang menyindir, ada yang langsung ngajak pacaran, ada yang menawarkan pacar, ada juga yang terus2an minta pacar (nah lho, tolong carikan cermin buatku ngaca, aku aja belum dapet… parah, Parah Azhari alias Parah Sekali). 

Sakit memang dikatain bujang lapok, nggak laku, jomblo sejati, joset (jomblo busyet), beribu istilah mengalir ke diriku. Aku tetap nggak peduli, karena menurutku banyak wanita yang mengejar-ngejarku (hehehe… kegeeran dech…)


B I S M I L L A A H I R R A H M A A N I R R A H I I M . . . MARI B E R S A M A B E R B A G I R A N G K A I A N C E R I T A, G O R E S A N K I S A H, K E K U A T A N A Q I D A H, DAN K E T A J A M A N P E N G E T A H U A N . . . . . "KUTITIPKAN SENYUMKU, DI SEJUTA MANIS SENYUMNYA...

Suka

Share to Facebook >>