Percayalah... Suatu saat nanti... Kita 'kan dipertemukan kembali... Bintang... :)

Tampilkan postingan dengan label Sejarah Aceh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Aceh. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Maret 2013

Gunung Leuser, Aceh - Sumatera

We intend to introduce the hidden beauties and pearls of Aceh to a worldwide community of interested lovers of pure Nature. There are best diving places on Pulau Weh, pristine beaches along the 600 km west-coast of Aceh and on Pulau Banyak, volcanoes to climb, rich biodiversity in the forests as well as of mammals and birds, insects, reptiles. Several Entrepreneurs started in 2006 tourism activities, after the Helsinki Treatment. Those activities are on their best way to improve and several thousands of Eco-tourists have visited Aceh meanwhile, this astonishing Province of Indonesia, on the northern tip of Sumatra. Our contribution to the preservation of the pristine rainforests is the sponsoring of two Rainforest Lodges at Kedah and Ketambe. Their staff and chief guides Mr. Jally and Johan offer a professional and phantastic job, by introducing the pristine rainforests of  UNESCO World Heritage „Gunung Leuser Eco System“ to interested persons from all over the world and attracting tourists to visit Aceh and our lodges, as well as other Eco Tourism facilities. The surrounding Acehnese and Gayo communities gain sustainable income and they in return support preserving nature and help protecting it against poachers and loggers. On the other hand the project will be accompanied by training villagers to plant and harvest Arabica coffee at altitudes above 1.000 m, in organic and rainforest standards. The area is dedicated for such a project. Preserving pristine jungle and marketing high quality coffee will be our aim medium-term.



Our lodges are supported by European management and operated by local Gayo staff.
We are proud, that our guides are among the best in the Gunung Leuser Eco System, on the other hand we are working hard to improve our service and hospitality facilities.

We support you in planning your roundtrip through Aceh and North Sumatra in combinations with diving, snorkeling, swimming, birding, biking. It does not matter, whether you start and depart at Medan or Banda Aceh.
LOCATION
Our lodge with 3 bungalows at Kedah is located in the outskirts of pristine rainforest near a creek with fresh water all year long at an altitude of approximately 1.400m above sea-level, 15 km west of Blankenjeren in the district of Gayo Lues.

Our lodge Wisma Cinta Alam with 2 bungalows at Ketambe is located at the mainroad between Kutacane and Blankenjeren at left hand side, in Alas valley with direct access to Alas river and astonishing view of rainforest canopy opposite the river. 
ACCOMMODATION
Several wooden bungalows on stilts, accommodating 2 persons each, mosquito dome for 2 persons and hammock. Each bungalow with spacious single room and balcony.
At Kedah you share the Mandi (toilet and bath) with the other guests, at Ketambe you have own facilities.
Gunung Leuser Trek
Gunung Leuser Trek
Gunung Leuser Trek
Gunung Leuser Trek
Gunung Leuser Trek
Gunung Leuser Trek
Gunung Leuser Trek
Gunung Leuser Trek
Gunung Leuser Trek
Gunung Leuser Trek
Gunung Leuser Trek
Gunung Leuser Trek
Gunung Leuser Trek
Gunung Leuser Trek
Gunung Leuser Trek
Gunung Leuser Trek
Gunung Leuser Trek
Gunung Leuser Trek
Gunung Leuser Trek
Gunung Leuser Trek
Gunung Leuser Trek
Gunung Leuser Trek
WATER & ELECTRICITY
Fresh water for shower from nearby passing jungle-creek, shared bathroom and toilet (mandi).

No electricity. Since we prefer Eco-tourism, we do not run generators. Photovoltaic elements presently under trial. Since Kedah Rainforest Lodges are located under pristine jungle giants, it is complicated to get sufficient photovoltaic power.

Sabtu, 09 Juni 2012

Tahukah Anda: "Aceh Tak Pernah Berontak Kepada NKRI"



Di dalam buku-buku pelajaran sejarah dan media massa nasional, beberapa tahun sebelum terciptanya perdamaian di Aceh, kita sering mendengar istilah ‘Pemberontakan Rakyat Aceh’ atau ‘Pemberontakan Aceh’ terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sejak zaman kekuasaan Bung Karno hingga presiden-presiden penerusnya, sejumlah ‘kontingen’ pasukan dari berbagai daerah—terutama dari Jawa—dikirim ke Aceh untuk ‘memadamkan’ pemberontakan ini. Kita seakan menerima begitu saja istilah ‘pemberontakan’ yang dilakukan Aceh terhadap NKRI.

Namun tahukah kita bahwa istilah tersebut sesungguhnya bias dan tidak tepat? Karena sesungguhnya—dan ini fakta sejarah—bahwa Aceh sebenarnya tidak pernah berontak pada NKRI, namun menarik kembali kesepakatannya dengan NKRI. Dua istilah ini, “berontak” dengan “menarik kesepakatan” merupakan dua hal yang sangat berbeda.

NKRI secara resmi baru merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Sedangkan Aceh Darussalam  berabad-abad sebelumnya telah merdeka, memiliki hukum kenegaraan (Qanun) nya sendiri, menjalin persahabatan dengan negeri-negeri seberang lautan, dan bahkan pernah menjadi bagian (protektorat) dari Kekhalifahan Islam Turki Utsmaniyah.

Jadi, bagaimana bisa sebuah negara yang merdeka dan berdaulat sejak abad ke-14 Masehi, bersamaan dengan pudarnya kekuasaan Kerajaan Budha Sriwijaya, dianggap memberontak pada sebuah Negara yang baru merdeka di abad ke -20?

Aceh Darussalam merupakan negara berdaulat yang sama sekali tidak pernah tunduk pada penjajah Barat. Penjajah Belanda pernah dua kali mengirimkan pasukannya dalam jumlah yang amat besar untuk menyerang dan menundukkanAceh, namun keduanya menemui kegagalan, walau dalam serangan yang terakhir Belanda bisa menduduki pusat-pusat negerinya.

Sejak melawan Portugis hingga VOC Belanda, yang ada di dalam dada rakyatAceh adalah mempertahankan marwah, harga diri dan martabat, Aceh Darussalam sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat berdasarkan Qanun Meukuta Alam yang bernafaskan Islam.

Saat itu, kita harus akui dengan jujur, tidak ada dalam benak Rakyat Aceh soal yang namanya membela Indonesia. Sudah ratusan tahun, berabad-abadKerajaan Aceh Darussalam berdiri dengan tegak bahkan diakui oleh dunia Timur dan Barat sebagai “Negara” yang merdeka dan berdaulat.

Istilah “Indonesia” sendiri baru saja lahir di abad ke-19. Jika diumpamakan dengan manusia, maka Aceh Darussalam adalah seorang manusia dewasayang sudah kaya dengan asam-garam kehidupan, kuat, dan mandiri, sedangkan “Indonesia” masih berupa jabang bayi yang untuk makan sendirisaja belumlah mampu melakukannya.

Banyak literatur sejarah juga lazim menyebut orang Aceh sebagai “Rakyat Aceh”, tapi tidak pernah menyebut hal yang sama untuk suku-suku lainnya di Nusantara. Tidak pernah sejarah menyebut orang Jawa sebagai rakyat Jawa, orang Kalimantan sebagai rakyat Kalimantan, dan sebagainya. Yang ada hanyaRakyat Aceh. Karena Aceh sedari dulu memang sebuah bangsa yang sudah merdeka dan berdaulat.

Kesediaan rakyat Aceh mendukung perjuangan bangsa Indonesia, bahkan dengan penuh keikhlasan menyumbangkan segenap sumber daya manusia dan hartanya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia—lebih dari daerah mana pun di seluruh Nusantara, adalah semata-mata karena rakyat Acehmerasakan ikatan persaudaraan dalam satu akidah dan satu iman dengan rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim.

Ukhuwah Islamiyah inilah yang mempersatukan rakyat Aceh dengan bangsa Indonesia. Apalagi Bung Karno dengan berlinang airmata pernah berjanji bahwa untuk Aceh, Republik Indonesia akan menjamin dan memberi kebebasan serta mendukung penuh pelaksanaan syariat Islam di wilayahnya. Sesuatu yang memang menjadi urat nadi bangsa Aceh.

Namun sejarah juga mencatat bahwa belum kering bibir Bung Karno mengucap, janji yang pernah dikatakannya itu dikhianatinya sendiri. Bahkan secara sepihak hak rakyat Aceh untuk mengatur dirinya sendiri dilenyapkan. Aceh disatukan sebagai Provinsi Sumatera Utara. Hal ini jelas amat sangat menyinggung harga diri rakyat Aceh.

Dengan kebijakan ini, pemerintah Jakarta sangat gegabah karena sama sekali tidak memperhitungkan sosio-kultural dan landasan historis rakyat Aceh. Bukannya apa-apa, ratusan tahun lalu ketika rakyat Aceh sudah sedemikian makmur, ilmu pengetahuan sudah tinggi, dayah dan perpustakaan sudah banyak menyebar seantero wilayah, bahkan sudah banyak orang Aceh yang menguasai bahasa asing lebih dari empat bahasa, di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Provinsi Sumatera Utara pada waktu itu, manusia-manusia yang mendiami wilayah itu masih berperadaban purba. Masih banyak suku-suku kanibal, belum mengenal buku, apa lagi baca-tulis. Hanya wilayah pesisir yang sudah berperadaban karena bersinggungan dengan para pedagang dari banyak negeri.

Saat perang mempertahankan kemerdekaan melawan Belanda pun, bantuan dariAceh berupa logistik dan juga pasukan pun mengalir ke Medan Area. Bahkan ketika arus pengungsian dari wilayah Sumatera Utara masuk ke wilayah Aceh,rakyat Aceh menyambutnya dengan tangan terbuka dan tulus. Jadi jelas, ketika Jakarta malah melebur Aceh menjadi Provinsi Sumatera Utara, rakyat Aceh amat tersinggung.

Tak mengherankan jika rakyat Aceh, dipelopori PUSA dengan Teungku Daud Beureueh, menarik kembali janji kesediaan bergabung dengan Republik Indonesia di tahun 1953 dan lebih memilih untuk bergabung dengan Negara Islam Indonesia (NII) yang lebih dulu diproklamirkan S. M. Kartosuwiryo di Jawa Barat. Ini semata-mata demi kemaslahatan dakwah dan syiar Islam. Dengan logika ini,Aceh bukanlah berontak atau separatis, tapi lebih tepat dengan istilah: menarik kembali kesediaan bergabung dengan republik karena tidak ada manfaatnya.

Pandangan orang kebanyakan bahwa Teungku Muhammad Daud Beureuehdan pengikutnya tidak nasionalis adalah pandangan yang amat keliru dan a-historis. Karena sejarah mencatat dengan tinta emas betapa rakyat Aceh danDaud Beureueh menyambut kemerdekaan Indonesia dengan gegap-gempita dan sumpah setia, bahkan dengan seluruh sisa-sisa kekuatan yang ada berjibaku mempertahankan kemerdekaan negeri ini menghadapi rongrongan konspirasi Barat.

Cara Pandang ‘Majapahitisme’

Mengatakan Aceh pernah melakukan pemberontakan terhadap NKRI merupakan cara pandang yang berangkat dari paradigma ‘Majapahitisme’. Bukan hal yang perlu ditutup-tutupi bahwa cara pandang Orde Lama maupun Baru selama ini terlalu Majapahitisme', semua dianggap sama dengan kultur Hindu. Bahkan simbol-simbol negara pun diistilahkan dengan istilah-istilah sansekerta, yang kental pengaruh Hindu dan paganisme yang dalam Akidah Islam dianggap sebagai syirik, mempersekutukan Allah SWT dan termasuk dosa yang tidak terampunkan.

Bukankah suatu hal yang amat aneh, suatu negeri mayoritas Islam terbesar dunia tapi simbol negaranya sarat dengan istilah Hindu. Ini merupakan suatu bukti tidak selarasnya aspirasi penguasa dengan rakyatnya. Padahal Islam tidak mengenal, bahkan menentang mistisme atau hal-hal berbau syirik lainnya. Rakyat Aceh sangat paham dan cerdas untuk menilai bahwa hal-hal seperti ini adalah sesuatu yang tidak bisa diterima.

Khususnya di Jawa, Sosio-kultural raja-raja dan masyarakat Jawa sampai saat ini sangat kental dengan nuansa Hinduisme, ini bisa dilihat dari berbagai macam Ritual dalam budaya masyarakat di Jawa hingga saat ini. Raja merupakan titisan dewa, suara raja adalah suara dewa. Sebab itu, di Jawa ada istilah “Sabda Pandhita Ratu” yang tidak boleh dilanggar. Ini sangat bertentangan dengan sosio-kultural para Sultan dan Sultanah di Kerajaan Aceh Darussalam. Dalam Islam, penguasa adalah pemegang amanah yang wajib mempertanggungjawabkan kepemimpinannya di hari akhir kelak kepada Allah SWT.

Kerajaan Aceh Darussalam saat diperintah oleh Sultan Iskandar Mudatelah memiliki semacam Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Permusyawaratan Rakyat (DPR-MPR) yang hak dan kewajibannya telah di atur dalam ‘Konstitusi Negara” Qanun Meukuta Alam. Ada pula Dewan Syuro yang berisikan sejumlah ulama berpengaruh yang bertugas menasehati penguasa dan memberi arahan-arahan diminta atau pun tidak. Aceh juga telah memiliki penguasa-penguasa lokal yang bertanggungjawab kepada pemerintahan pusat. Jadi, seorang penguasa di Kerajaan Aceh Darussalam tidak bisa berbuat seenaknya, karena sikap dan tindak-tanduknya dibatasi oleh Qanun Meukuta Alam yang didasari oleh nilai-nilai Qur'aniyah.

Jadi, jelaslah bahwa sosio-kultur antara Aceh dengan kerajaan-kerajaan Hindu amat bertolak-belakang. Aceh bersedia mendukung dan menyatukan diri dengan NKRI atas bujukan Soekarno, semata-mata karena meyakini tali ukhuwah Islamiyah. Namun ketika Aceh dikhianati dan bahkan di masa Orde Lama maupun Orde Baru diperah habis-habisan seluruh sumber daya alamnya, disedot ke Jawa, maka dengan sendirinya Aceh menarik kembali kesediaannya bergabung dengan NKRI. Aceh menarik kembali kesepakatannya, bukan memberontak. Ini semata-mata karena kesalahan yang dilakukan “Pemerintah Jakarta” terhadap Aceh.

Dan ketika Aceh Darussalam sudah mau bersatu kembali ke dalam NKRI,Gerakan Aceh Merdeka (GAM) bersedia meletakkan senjatanya dan memilih jalan berparlemen, Aceh sekarang dipimpin seorang putera daerahnya lewat sebuah pemilihan yang sangat demokratis, maka sudah seyogyanya NKRI memperlakukan Aceh dengan adil dan proporsional.

Puluhan tahun sudah Aceh menyumbangkan kekayaannya untuk kesejahteraan seluruh Nusantara, terutama Tanah Jawa, maka sekarang sudah saatnya “Jawa” membangun Aceh. Mudah-mudahan ‘kesepakatan’ ini bisa menjadi abadi, semata-mata dipeliharanya prinsip-prinsip keadilan dan saling harga-menghargai.

Saya Adalah Aceh



Oleh Mariska Lubis

Terpana menatap sebuah foto tua dengan gambar seorang pria yang sangat tampan. Sorot matanya lembut namun sangat tajam, tampak jelas intelektualitasnya. Setelah tahu, siapa yang ada di dalam foto itu, hati ini pun semakin terpesona. Jarang sekali ada pria tampan yang jenius seperti beliau. Biarpun disisihkan dan dibuang meski dielukan juga. Tidak mudah untuk mengerti mereka yang berpikiran jauh ke depan.

Tadinya saya pikir beliau adalah ayah dari salah seorang sahabat saya karena wajahnya sangat mirip. Aura dan rona dari wajah dan penampilannya pun serupa. Saya benar-benar terpana menatapnya. Barangkali, jika beliau masih ada dan muda seperti nampak di dalam foto itu, saya bisa jatuh cinta padanya.

Ketika saya diberitahu siapa yang ada di dalam foto itu, saya semakin jatuh cinta saja. Dia memang seorang pria yang sangat jenius dan luar biasa kemampuan intelektualitasnya. Sayangnya, bahkan mereka yang mengelu-elukannya pun barangkali tidak bisa merasakan dan menangkap dengan lebih jauh arti dan makna dari setiap kata yang diuraikannya. Beliau malah disia-siakan dan disingkirkan begitu saja. Hanya dijadikan simbol semata.

Yah, nasib orang yang memiliki pemikiran modern. Terlalu banyak mereka yang mengaku modern tetapi sesungguhnya sangat terbelakang di dalam pemikiran. Penampilannya saja yang kelihatan hebat, tetapi untuk membaca pun hanya mampu sekedar aksara semata. Mata hati itu sudah tertutup dengan kesombongan dan berbagai kepentingan pribadi serta kelompok hingga lupa diri dan besar kepala.

Saya pernah menulis artikel tentang bagaimana untuk bisa mengerti apa yang beliau maksudkan. Tentunya tidak semudah membaca aksara begitu saja, dibutuhkan pemikiran yang sangat dalam serta wawasan yang sangat luas sekali. Harus tahu bagaimana sejarah tentang apa yang mempengaruhi pemikiran-pemikirannya tersebut. Jika tidak, maka akan sangat sulit untuk mampu menerjemahkannya.

Bisa jadi, saya yang memang sok tahu atau tidak waras. Saya melihat beliau dari sudut pandang saya sendiri yang tentunya merupakan keegoisan dari diri saya sendiri juga. Yang lebih banyak tahu seharusnya mereka yang memang menjadikan beliau panutan dan mengelu-elukannya, kan?! Begitu juga dengan mereka yang menganggapnya sampah dan mengucilkannya. Saya tahu apa, sih?!

Jadi teringat dengan kata-kata seorang teman di BBM yang dia bagikan juga di Tweet, dia mengatakan bahwa di daerahnya, sejarah adalah untuk diingat lewat ucapan dan bukan melalui catatan atau tulisan. Saya tentunya sangat terkejut sekali, mengingat dia berasal dari daerah yang kaya sekali akan catatan sejarah. Kata-kata yang terurai dari orang-orang di sana terkenal sangat indah dan penuh makna pada waktu yang lalu. Pantas saja bila sekarang banyak yang berubah. Entah ini disengaja atau tidak, disadari atau tidak disadari, diakui tidak diakui.

Wajar jugalah bila kemudian daerah ini terus diliputi konflik yang berkepanjangan. Bagaimana mungkin sebuah wilayah bila mendapatkan perdamaiannya bila sudah kehilangan jati dirinya? Bagaimana juga bisa menjadi hebat bila sudah melupakan sejarah yang pernah membuatnya luar biasa?! Bagaimana sebuah wilayah bisa bertahan dan mempertahankan diri bila tidak memiliki kekuatan yang berasal dari dalam dirinya sendiri?! Yakin dan percaya dengan diri sendiri pun tidak.

Jika memang benar memiliki jati diri, tentunya tidak akan mudah digoyah dan mampu mempertahankan diri menggunakan kehebatannya. Tidak mudah untuk “menyerang” dan “melumpuhkan” bila memang sudah kuat pondasinya. Dinding bisa saja roboh tetapi pondasi yang kuat akan terus bisa mempertahankannya. Pohon yang kuat pun bisa saja tumbang dahan dan gugur daunnya, tetapi tidak akarnya.

Jika pun memang benar menghormati sejarah dan semua perjuangan yang telah dilakukan di masa lampau, tentunya pria tampan berotak jenius itu pun tidak akan diremehkan begitu saja. Tidak hanya dijadikan simbol semata tetapi benar dipelajari dan dirasakan. Keindahan seseorang yang telah memberikan yang terbaik, kok, bisa terhapus begitu saja oleh “kepentingan” pribadi dan kelompok?! Bagaimana dengan cita-cita dan seluruh perjuangannya itu?! Rasa hormat dan penghargaan bukan hanya sekedar di mulut tetapi diperlukan kesungguhan dan ketulusan hati!

Yang paling membuat saya terbengong-bengong adalah bila selalu saja ada tuduhan dan tudingan yang mengarahkan kepada yang lainnya. Malu atau takut, ya, kalau bercermin?! Tidak juga memiliki nyali untuk mengakui semua kesalahan yang telah dibuat oleh diri?! Padahal, selalu saja mengumbar kata “Tuhan” dan mengagungkan segala moral dan aturan yang dibuat-Nya. Kenapa, dong, yang paling mendasar pun tidak dilakukan?! Untuk apa semua aturan itu dibuat bila hanya untuk sekedar penampilan dan untuk mendapatkan “nilai”?!

Sekarang ini, di mana semua yang ada itu?! Kenapa berusaha keras untuk menjadi yang lain?! Kenapa tidak berusaha untuk menjadi diri sendiri?! Memang tidak mudah, tetapi jika memang benar ingin bahagia, damai, dan tentram, tentunya jati diri seharusnya menjadi prioritas utama. Untuk apa repot-repot menjadi “yang lain” bila apa yang ada di dalam diri sesungguhnya merupakan emas terindah dan paling berharga?! Tidakkah ada rasa cinta sedikit pun untuk diberikan?!

Terkadang saya suka capek sendiri jika harus melihat fakta dan kenyataan yang ada sekarang ini di daerah itu. Mengaku hebat tetapi justru sudah banyak terpengaruh. Budaya politiknya saja sudah sangat berubah, tidak lagi mampu untuk menggetarkan dunia. Sudah seperti katak saja. Yang ada di samping disingkirkan, sementara yang di bawah terus diinjak. Sementara mulut terus menganga menanti umpan yang lewat untuk dinikmati sendiri hingga kenyang. Menjulurkan lidah ke kiri kanan sepanjang-panjangnya untuk bisa menangkap santapan. Lupa dengan yang lainnya meski mengaku peduli dan berbuat untuk semua. Bagaimana mau memiliki masa depan dan kehidupan yang lebih baik?!

Lihat saja bagaimana mudahnya masyarakat digiring oleh opini yang dibuat oleh media-media “berbayar”. Subjektifitas dikedepankan dan objektifitas itu sudah tidak ada lagi. Sudah seperti bola yang ditendang ke sana ke mari tanpa pernah gol. Yang paling parah bukanlah mereka yang berstatus sosial ekonomi rendah ataupun tak berpendidikan, tetapi justru mereka yang mengaku elite dan berpendidikan tinggi. Mereka yang mengaku pejuang dan pahlawan! Semakin jelas sudah bagaimana pembodohan dan kebodohan itu sudah menjadi sebuah kubangan lumpur yang terus menyeret ke dalam. Tak jelas apa karena sombong, takut, atau pura-pura tidak tahu.

Dusta itu sudah sedemikian luar biasanya hingga merusak diri sendiri. Pelecehan seksual, KDRT, dan berbagai masalah seks lainnya pun ditutupi seolah tak ada. Mereka yang jelas-jelas sudah melakukan perbuatan kriminal terhadap istri dan keluarganya sendiri pun bisa dipuja. Mereka yang sudah jelas-jelas melecehkan orang yang menjadi simbol daerah itu pun terus saja diangkat-angkat. Bagaimana orang yang benar-benar berjuang untuk masa depan dan kehidupan lebih baik tidak mati?! Baru bergerak sedikit saja sudah “dibunuh”! Apanya yang hebat?! Beranikah mengaku secara jujur dan terang-terangan kepada semua atas apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang sudah dilakukan?! Paling-paling juga mengirim orang suruhan yang mau saja dibodohi dengan berbagai alasannya untuk membuntuti, memata-matai, lalu ujung-ujungnya “melenyapkan”. Pemberanikah?!

Sudahlah! Percuma juga saya menuliskan semua ini. Tidak akan ada gunanya. Saya juga hanya “alien” yang sok tahu saja. “Kekinian” memang sudah menjadi budaya yang dianggap wajar, lumrah, dan benar sekarang ini. Masa depan itu seolah tak pernah ada dan kehidupan yang lebih baik hanyalah mimpi di siang bolong. Yang penting sekarang, nanti ya, bagaimana nanti! Begitu, kan, ya?!

Akhir kata, saya ingin menyampaikan saja bahwa pria yang sudah membuat saya terpesona dan jatuh cinta itu bernama Hasan Tiro. Semoga semua mau menghormati dan menghargainya terutama bagi mereka yang berani untuk mengaku dengan gagah berani sebagai “ureung aceh”. Kapankah ada yang dengan bangganya mampu berkata dengan kesungguhan hati bahwa “Saya adalah Aceh”?!

Berani Menjadi "Aceh"



Silahkan saja bila para Generasi Tua ini ingin terus berkonflik dan merusak, tetapi jangan pernah merusak Generasi yang akan datang. Janganlah pernah berkata bahwa semua yang dilakukan adalah karena Cinta kepada anak-anak bangsa, bila memang terus saja mencoba melenyapkan dan menghilangkan jati diri Generasi muda.

Oleh Mariska Lubis (*
Di tengah suasana yang tidak karuan di Aceh seperti sekarang ini, teringat akan sebuah nasehat yang disampaikan oleh seorang kakek. Dia pernah berkata, yang isinya kira-kira, “Yang sebaiknya kamu pelajari dari Aceh adalah kemampuan orang Aceh di dalam berdiplomasi. Kemenangan mereka di dalam perjuangan bukanlah menggunakan kekuatan fisik, tetapi keahlian di dalam berpikir dan berkata”.

Beliau bercerita beragam contoh yang pernah dilakukan oleh para pemimpin Aceh pada masa perjuangan dahulu, yang juga beliau sedikit uraikan dalam bukunya yang berjudul “Kilas Balik Revolusi”. Satu cerita yang paling saya ingat adalah ketika beliau dikirim oleh orang tuanya bersama anak-anak Aceh yang lain untuk belajar di luar negeri. Tentunya, tidak semudah sekarang ini bisa mengirim anak ke luar negeri. Bukan hanya urusan uang semata, tetapi juga urusan kepentingan politik.

Para orang tua mereka berdiplomasi kepada Belanda dengan dalih bahwa dengan mengirimkan anak-anak pribumi yang potensial belajar ke luar negeri, maka Belanda tidak perlu lagi repot di dalam mengurus dan mengatur segala urusan di Aceh. Mereka jadi bisa lebih pintar dan tahu banyak sehingga pada saat mereka pulang nanti, mereka dapat bekerja dan mengabdi pada Belanda. Yah, ini hanyalah sebuah taktik saja. Yang sebenarnya dilakukan adalah, untuk menjadikan generasi penerus mereka lebih pintar sehingga pada saat pulang nanti, bisa membantu perjuangan dan melawan Belanda. “Pergi dan bergaullah dengan Belanda, curi ilmu mereka dan gunakan untuk melawan mereka sendiri.”

Yah, memang banyak kontradiksi di dalam juga mengenai hal ini mengingat kebencian terhadap Belanda sangatlah tinggi. Ditambah lagi banyak ketakutan bahwa dengan mengirimkan generasi penerus ke luar negeri, maka mereka akan menjadi “kebarat-baratan” dan lupa akan akar budayanya sendiri. Yang paling ditakutkan tentunya soal agama dan keyakinan. Semua ini bisa dimengerti tetapi lagi-lagi kemampuan untuk meyakinkan bukan hanya pada mereka yang menentang tetapi juga pada generasi penerus yang sudah dipersiapkan ini, terbukti bahwa semua itu hanyalah ketakutan yang berlebihan semata.

Yang saya tahu pasti, tidak ada satu pun dari kakak beradik kakek saya yang dikirimkan, lalu berubah menjadi “Barat”, mereka justru sangat nasionalis dan berjuang terus bagi bangsa dan negaranya. Agama dan keyakinan mereka pun dipegang teguh dan tidak ada yang bisa mengubah mereka. Demikian juga dengan beberapa orang kawan mereka yang saya kenal, semuanya memiliki kepribadian yang sangat kuat dan berani. Almarhum Hasan Tiro?! Apakah dia pernah berubah?!

Maksud dari saya menyampaikan ini semua adalah untuk sekedar berbagi kenangan atas apa yang telah dilakukan oleh para pendahulu. Saya sedih bila melihat keadaan Aceh sekarang ini. Rasanya tidak percaya Aceh sudah kehilangan apa yang dulu pernah ada. Kecerdasan di dalam berpikir jauh ke depan itu sekarang berubah dengan kekinian. Lihatlah bagaimana situasi dan kondisi di dalam menjelang Pilkada sekarang ini.

Sesama orang Aceh sendiri saling baku hantam dan dengan cara-cara yang sangat mengkhawatirkan sekali. Kenapa harus dengan cara saling sikut dan menjatuhkan?! Mengapa tidak ada yang mau merangkul dengan penuh ketulusan tanpa ada maksud untuk kepentingan pribadi semata?! Mengapa tidak ada yang mau berbuat untuk semua selain hanya untuk “mencari nama” dan meraup suara?! Kapan konfilk di Aceh mau selesai bila orang Aceh-nya sendiri terus berkonflik dan tidak juga mau bersatu?!

Generasi muda yang merupakan cikal bakal tulang punggung pun sering dianggap enteng dan tidak penting, tetapi selalu digunakan dan dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan politik. Darah muda yang terus bergejolak dan keberanian yang terkadang seringkali tidak mampu dikendalikan menjadi sasaran yang sangat empuk untuk menjadi bahan permainan. Apalagi bila dalam keadaan labil, bingung, dan tidak memiliki arah serta kepribadian yang kuat. Demokrasi dan kebebasan yang “ditanamkan” pun sesungguhnya hanyalah alat untuk “mencuci otak” dan mendapatkan tempat saja. Toh, kekuasaan masih terus mendominasi dan menjadi momok yang menakutkan karena ada banyak sekali ancaman dan kekerasan yang dilakukan. Jadi, jangan heran bila banyak yang menyesal di kemudian hari meski sudah kepalang basah dan tercemplung ke dalam lumpur.

Membaca apa yang dilakukan oleh Generasi Kuneng menantang para pemimpin dan seluruh orang Aceh untuk mendukung film “Garamku Tak Asin Lagi”, menjadi sebuah harapan di dalam hati ini. Saya salut! Paling tidak, ada generasi muda yang mampu melihat dengan jelas apa yang seharusnya dilakukan di dalam menghadapi situasi dan kondisi yang sekarang sedang terjadi. Menyatukan seluruh orang Aceh dan membangkitkan solidaritas kebersamaan untuk mendukung sesuatu yang positif menjadi sangat penting saat ini. Tidak perlu harus melihat siapa dan bagaimana, tetapi apa yang sudah dilakukan. Kreatifitas dan karya bukanlah sesuatu yang mudah untuk dibuat, karena itu perlu diapresiasi oleh bersama.

Menurut saya pribadi, inilah bagian dari apa yang saya maksudkan dengan kemampuan orang Aceh di dalam berpikir dan berdiplomasi. Tidak perlu ada kekerasan di dalamnya, tetapi jelas menggunakan tindakan dan perbuatan nyata yang mengandalkan pemikiran dan hati. Idealismenya nampak sangat jelas dan kuat, serta apa yang dilakukan bisa memberikan efek yang sangat positif baik untuk saat ini maupun nanti. Persis seperti apa yang sudah dilakukan oleh para pendahulu orang Aceh di masa perjuangan lalu meski dalam bentuk yang berbeda.

Silahkan saja bila para generasi tua ini ingin terus berkonflik dan merusak, tetapi jangan pernah merusak generasi yang akan datang. Janganlah pernah berkata bahwa semua yang dilakukan adalah karena cinta kepada anak-anak bangsa, bila memang terus saja mencoba melenyapkan dan menghilangkan jati diri generasi muda. Jangan pernah juga menuntut generasi muda untuk lebih maju dan berkembang bila yang tuanya pun selalu saja berpikiran dan memiliki hati yang “terkotak”.

Jangan salahkan internet dan budaya asing, deh!!! Lebih baik bercermin saja dulu, berani dan mampukah untuk jujur?! Benarkah sudah mampu memiliki cinta kepada generasi yang akan datang ini dengan menjadikan mereka sebagai generasi yang mandiri, cerdas, sehat, dan memiliki kepribadian yang kuat?! Bukan sebagai anak yang merasa dimiliki dan dikuasai lalu dituntut untuk membalas budi, ya!!!

Bagi generasi muda Aceh, jadilah Aceh yang sejatinya. Kuatkan dan perkokoh diri sebagai Aceh. Berpikir dan berperilakulah seperti layaknya seorang Aceh sejati. Jangan pernah takut dengan keadaan dan situasi karena kita tidak diatur oleh keadaan. Kitalah yang seharusnya bisa mengatur keadaan. Baik dan buruknya Aceh di masa depan ada di tangan kalian semua. Bersatulah untuk satu tujuan yang pasti!

Sekarang, sebagai seorang perempuan yang bukan orang Aceh dan tidak tinggal di Aceh, saya yang menantang semua generasi muda Aceh, “Beranikah kalian menjadi Aceh yang sekaligus pemimpin bagi diri sendiri?!”.

Makna Filosofi Sebilah Rencong



Meski tidak ditemukan catatan sejarah yang mengisahkan asal usul Rencong, namun asal mula Rencong terekam dalam sebuah legenda Aceh. Dalam sebuah cerita rakyat dikisahkan. "Zaman dahulu di daratan Aceh hidup seekor burung raksasa sejenis Rajawali, orang Aceh menyebutnya "Geureuda". Keberadaan burung raksasa tersebut sangat menggangu kehidupan rakyat. semua jenis tanaman, buah-buahan dan ternak rakyat dilahapnya.

Semua jenis perangkap dan senjata yag digunakan untuk membunuhnya tidak mapan, malah makin lama "Geureuda" tersebut makin beringas melahap tanaman rakyat, mungkin dari legenda itulah sampai sekarang orang Aceh menyebutkan "Geureuda" kepada orang – orang yang Serakah/Congok.

Oleh raja yang berkuasa ketika itu, menyuruh seorang pandai besi yang juga ulama untuk menciptakan sebuah senjata ampuh yang mampu membunuh Geureuda tersebut. Oleh pandai besi yang mempunyai ilmu maqfirat besi, setelah melakukan puasa, sembahyang sunat dan berdoa baru menempa besi pilihan dengan campuran beberapa unsur logam menjadi Rencong.

Menyebut senjata Rakyat Aceh, selain meriam dan senjata api, yang paling terkenal adalah Rencong. Bahkan, salah satu gelar tanah Aceh disebut juga sebagai “Tanah Rencong”. Rencong (Reuncong) adalah senjata tradisional dari Aceh. Rencong Aceh memiliki bentuk seperti huruf [ L ] atau lebih tepat seperti tulisan kaligrafi " Bismillah ". Rencong termasuk dalam kategori dagger atau belati (bukan pisau atau pedang).

Rencong selain simbol kebesaran para bangsawan, merupakan lambang keberanian para pejuang dan rakyat Aceh di masa perjuangan. Keberadaan rencong sebagai simbol keberanian dan kepahlawanan masyarakat Aceh terlihat bahwa hampir setiap pejuang Aceh, membekali dirinya dengan rencong sebagai alat pertahanan diri. Namun sekarang, setelah tak lagi lazim digunakan sebagai alat pertahanan diri, rencong berubah fungsi menjadi barang cinderamata yang dapat ditemukan hampir di semua toko kerajinan khas Aceh.

Menurut sejarahnya, rencong memiliki tingkatan. Pertama, rencong yang digunakan oleh raja atau sultan. Rencong ini biasanya terbuat dari gading (sarung) dan emas murni (bagian belatinya). Kedua, rencong-rencong yang sarungnya biasa terbuat dari tanduk kerbau atau kayu, sedangkan belatinya dari kuningan atau besi putih.

Bentuk rencong berbentuk kalimat bismillah, gagangnya yang melekuk kemudian menebal pada sikunya merupakan aksara Arab "Ba", bujuran gagangnya merupaka aksara "Sin", bentuk lancip yang menurun kebawah pada pangkal besi dekat dengan gagangnya merupakan aksara "Mim", lajur besi dari pangkal gagang hingga dekat ujungnya merupakan aksara "Lam", ujung yang meruncing dengan dataran sebelah atas mendatar dan bagian bawah yang sedikit keatas merupakan aksara "Ha".


Rangkain dari aksara Ba, Sin, Lam, dan Ha itulah yang mewujudkan kalimat Bismillah. Jadi pandai besi yang pertama kali membuat rencong, selain pandai maqrifat besi juga memiliki ilmu kaligrafi yang tinggi. Oleh karena itu , rencong tidak digunakan untuk hal-hal kecil yang tidak penting, apalagi untuk berbuat keji, tetapi rencong hanya digunakan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh dan berperang dijalan Allah.

Secara umum, ada empat macam rencong yang menjadi senjata andalan masyarakat Aceh.
  • Rencong Meucugek (Meucungkek), Disebut meucugek karena pada gagang rencong terdapat suatu bentuk panahan dan perekat yang dalam istilah Aceh disebut cugek atau meucugek. Cugek ini diperlukan untuk mudah dipegang dan tidak mudah lepas waktu menikam ke badan lawan atau musuh. 
  • Rencong Meupucok, Rencong ini memiliki pucuk di atas gagangnya yang terbuat dari ukiran logam yang pada umumnya dari emas. Gagang dari rencong meupucok ini kelihatan agak kecil, yakni pada pegangan bagian bawah. Namun, semakin ke ujung gagang ini semakin membesar. Jenis rencong semacam ini digunakan untuk hiasan atau sebagai alat perhiasan. Biasanya, rencong ini dipakai pada upacara-upacara resmi yang berhubungan dengan masaalah adat dan kesenian. 
  • Rencong Pudoi, Rencong jenis ini gagangnya lebih pendek dan berbentuk lurus, tidak seperti rencong umumnya. Terkesan, rencong ini belum sempurna sehingga dikatakan pudoi. Istilah pudoi dalam masyarakat Aceh adalah sesuatu yang diangap masih kekurangan atau masih ada yang belum sempurna. 
  • Rencong Meukuree, Perbedaan rencong meukuree dengan jenis rencong lain adalah pada matanya. Mata rencong jenis ini diberi hiasan tertentu seperti gambar ular, lipan, bunga, dan sebagainya. Gambar-gambar tersebut oleh pandai besi ditafsirkan dengan beragam macam kelebihan dan keistimewaan. Rencong yang disimpan lama, pada mulanya akan terbentuk sejenis aritan atau bentuk yang disebut kuree. Semakin lama atau semakin tua usia sebuah rencong, semakin banyak pula kuree yang terdapat pada mata rencong tersebut. Kuree ini dianggap mempunyai kekuatan magis. 
Rencong yang ampuh biasanya dibuat dari besi-besi pilihan, yang di padu dengan logam emas, perak, tembaga, timah dan zat-zat racun yang berbisa agar bila dalam pertempuran lawan yang dihadapi adalah orang kebal terhadap besi, orang tersebut akan mampu ditembusi rencong. Gagang rencong ada yang berbentuk lurus dan ada pula yang melengkung keatas. Rencong yang gagangnya melengkung ke atas disebut Reuncong Meucungkek, biasanya gagang tersebut terbuat dari gading dan tanduk pilihan.

 
Pembuat "Reuncong" (img: Serambinews.com) 

Bentuk meucungkek dimaksud agar tidak terjadinya penghormatan yang berlebihan sesama manusia, karena kehormatan yang hakiki hanya milik Allah semata. Maksudnya, bila rencong meucungkek disisipkan dibagian pinggang atau dibagian pusat, maka orang tersebut tidak bisa menundukkan kepala atau membongkokkan badannya untuk memberi hormat kepada orang lain karena perutnya akan tertekan dengan gagang meucungkek tersebut. 

Gagang meucungkek itu juga dimaksudkan agar, pada saat-saat genting dengan mudah dapat ditarik dari sarungnya dan tidak akan mudah lepas dari genggaman. Satu hal yang membedakan rencong dengan senjata tradisional lainnya adalah rencong tidak pernah diasah karena hanya ujungnya yang runcing saja yang digunakan.
***

Hasan Tiro, Hanya Satu Orang Dalam Seratus Tahun




Oleh Thayeb Sulaiman (*

Malam, 2 Juni 2012, sekira pukul 23.00 WA, Saya terkejut dan malu saat ditanya Dr Mehmet Ozay –seorang peneliti independen dari Turki yang sangat tertarik dengan sejarah Aceh- melalui chatting gmail.com.

“Besok, tepat dua tahun meninggalnya Hasan Tiro, apakah Saudara Thayeb menulis sesuatu untuknya di website Aceh Independent?” Tanyanya.

Saya tidak langsung menjawab seraya mencari di google.com, melihat tanggal berapa Sang Wali Hasan Tiro meninggal, ternyata 3 Juni 2010. Maka saya termenung sesaat dan berkata dalam hati, “Dr Mehmet Ozay, ternyata memang sangat peduli dan tahu tentang Aceh. Saya orang Aceh sendiri tidak teringat akan tanggal amat bersejarah tersebut.”

Maka saya menulis balasan chatting, “Sebentar lagi akan saya tulis, dan besok saya postingkan di website acehindependent.com.” Saya berpikir, ini adalah tanggung jawab saya sebagai orang Aceh. Dan saya mulai menulis artikel ini dini hari sekira pukul 3.30 WA 3 Juni 2012 selama satu jam lebih. Belum selesai. Saya lanjutkan tulisan ini pada pukul 16.00 WIB atau pukul 4 sorenya. Lalu berhenti sejenak.

Ketika pada pukul 18.30, saya mau menyelesaikan tulisan ini untuk segera mempostkannya, saya melihat email masuk yang dikirim pukul 15.55 WA oleh Dr Mehmet Ozay, isinya, ia telah mengirim tulisannya tentang Hasan Tiro ke media online Turki dan telah dimuat, ini alamat situsnya:http://www.dunyabulteni.net/?aType=haber&ArticleID=212369. Sementara saya masih harus menyelesaikan tulisan tentangnya dan mempublikasikan setelah pukul 19.00 WA tanggal 3 Juni 2012.

Percakapan melalui tulisan chatting malam tadi, terus berlanjut dengan rencana, atas nama organsisasi Pusat Kebudayaan Aceh Turki (PuKAT) yang didirikannya, ingin mengadakan beberapa kegiatan berbentuk seminar besar di Banda Aceh. Seminar berskala besar tersebut melibatkan semua unsur di Aceh, tentang sosial dan peradaban. Untuk menyukseskan seminar ini, perlu kami ajak kerjasama Kedutaan Besar Turki, lebih mulia lagi dengan menghadirkan Duta Besar Turki untuk Indonesia. Itu baru rencana.

Anehnya lagi, saat saya menghadiri acara resepsi di rumah produser Film Komedi Aceh Eumpang Breueh Din Kramik, siang 3 Juni 2012, salah seorang teman yang pada 31 Maret lalu saya libatkan dalam diskusi publik ‘Memperingati 501 Tahun Kesultanan Aceh Darussalam,’ bertanya tentang kelanjutan diskusi tersebut yang saya janjikan tempo hari akan dilanjutkan dengan skala besar dengan waktu berhari, berminggu, berbulan dan bertahun. Maka, saya terpaksa mengatakan program seminar besar yang disampaikan Dr. Mehmet Ozay. Ini memang terkait, karena diskusi ‘Memperingati 501 Tahun Kesultanan Aceh Darussalam,’ saya laksanakan berawal dari ‘teguran’ Dr Mehmet Ozay juga, pada akhir 2009. Maka tentang itu kita cukupkan dulu.

Kembali ke perihal mengenang 2 tahun perginya Sang Wali Yang Mulia Hasan Tiro (3 Juni 2010 – 3 Juni 2012). Sang Wali, adalah Pembaharu Aceh. Ketika orang Aceh tenggelam dalam kubang kelupaan sejarah, muncullah Sang Wali memberi kabar, membuka mata orang Aceh.

Orang seperti Sang Wali Hasan Tiro hanya dilahirkan satu orang dalam kurun waktu seratus tahun. Begitulah adat dunia. Saya tidak pernah berjumpa dengan Sang Wali, walau buku tulisannya seperti ‘Jum Meurdehka’ (harga sebuah kemerdekaan -red), Masa Depan Politik Dunia Melayu, Demokrasi Indonesia, pernah saya baca.

Dari beberapa tulisan Sang Wali, saya rangkumkan bahwa beliau amat tulus dalam mengangkat martabat Aceh. Dari sejarah dan pola gerakan yang beliau laksanakan, saya nilai bahwa beliau mengerti seni perang dengan sempurna. Suharto yang berupa musuh terbesar beliau adalah orang yang cerdas pula. Semua musuh politik Suharto dapat diatasi dengan baik, apakah ditangkap atau lainnya. Namun Sang Wali tidak bisa disentuh oleh Suharto karena beliau telah memetakan dengan baik apa yang akan beliau laksanakan. Sang Wali menguasai dengan baik apa yang dimasudkan Jenderal Sun Tzu dari Cina dalam buku ‘Seni Berperang.’

Tentu, orang-orang yang hidup sekarang belum mampu mengerti sepenuhnya yang diserukan oleh Sang Wali semasa hidupnya. Kita belum cukup pengetahuan. Dari semua yang saya pelajari, saya berkesimpulan bahwa kekuatan sang Wali adalah penguasaan tentang sejarah dan sanggup menyakinkan orang lain tentang yang beliau yakini itu. Kekuatannya bukan pada uang atau senjata.

“Seujarah leubeh teuga nibak peudeueng, leubeh teuga nibak beude (sejarah lebih kuat daripada pedang, lebih kuat daripada bedil),” ucap Sang Wali dalam sebuah rekaman yang saya tidak tahu di mana itu sekarang, persis dengan buku-buku yang saya sebutkan tadi, tidak tahu ke mana rimbanya. Maksud Sang Wali dalam ucapan tersebut, untuk membuat sebuah bangsa berani dan mampu menuntut haknya adalah dengan membuat mereka menguasai sejarah, bukan dengan memberikan pada mereka pedang atau bedil.

Jika dirunut dalam abad ini, maka Sang Wali adalah orang paling berpengaruh dalam sejarah Aceh pada akhir abad XX dan awal abad XI Masehi. Nama beliau setingkat pentingnya dengan Sultan Ali Mughayat Syah, Sultan Iskandar Muda, Laksamana Keumala Hayati, Sultanah Safiatuddin.

Saya berani menyamakan tingkat beliau dengan indatu-indatu tersebut karena puluhan, ratusan, bahkan ribuan tahun ke depan, orang-orang akan menulis dalam buku sejarah bahwa sambungan sejarah Aceh, setelah Sultan Aceh Terakhir, ada Wali Neugara Aceh Teungku Chik Di Tiro Muhammad Saman, dan dibangkitkan kembali oleh Sang Wali Hasan Tiro.

Beliau juga berhasil membangkitkan kembali bendera Kesultanan Aceh Darussalam dan mencitakan variasi sejarah dalam bendera tersebut sehingga, bendera yang tadinya persis bendera Turki bertambah garis hitam dan putih.

Artinya, Sang Wali adalah seniman besar juga. Selain itu, Sang Wali juga penulis besar, tulisan-tulisannya telah berhasil membuat ribuan orang berperang menuntut haknya. Bahkan buku-buku best seller dunia yang ditulis penulis terkenal dan pemenang nobel dunia sekalipun jarang yang bisa memberikan pengaruh pada bangsanya atau pada umat manusia.
Saya lebih cenderung menilai Sang Wali dari segi intelektual dan strategi gerakan daripada lainnya seperti dalam perang. Jika merunut adat dunia dan manusia, sebuah generasi dihitung dalam kurun duapuluh tahun, selebihnya telah bisa dihitung ke generasi lain. Maka, proklamasi Gerakan Aceh (GAM) pada 4 Desember 1976 oleh Sang Wali Hasan Tiro, difokuskan berhasil pada 4 Desember 1996.

Nah, kita semua masih ingat apa yang terjadi sekitar tahun 1990-an. Reformasi Indonesia terjadi pada 1998. Aceh pun bergejolak, muncullah perang gerilya besar, yang berakhir 2005. Keadaannya beda total dengan sepuluh tahun sebelumnya. Itu terjadi tepat menjelang 10 tahun setelah 1996.

Kita tahu, dalam sejarah Aceh setelah ultimatum perang oleh Belanda pada 26 Maret 1873, kurun perang terjadi selang sepuluh sampai lima belas tahun. Jika tidak ada perang maka perubahan total terjadi dalam kurun tersebut. Ini berarti, ramalannya begini, karena pada 2005 Aceh terjadi peristiwa besar yakni penadatanganan MoU damai total antara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), maka pada 2015 ada peristiwa amat besar terjadi lagi, apakah itu lebih damai atau kurang damai.

Prediksi saya, peristiwa besar di Aceh yang akan terjadi pada seputaran tahun 2015 akan menguntungkan dan mengangkat martabat Aceh. Saya cenderung mengatakan ini karena arah sejarahnya demikian. Rakyat Aceh masih harus mengobati kepedihan dan kepiluan akibat dari perang berkepanjangan, Jakarta sekarang dan ke depan harus menjaga keamanan nasional dari ancaman gangguan negara luar yang mungkin sedang ingin menguasai perairan Indonesia, apalagi di tapal batas.

Bila dilihat dari arah permainan sekarang, kemungkinannya, tidak ada perang di Aceh selama sepuluh sampai duapuluh tahun ke depan. Yah, Sang Wali telah pergi, berganti wali, sementara sang Raja belum jua pulang.


Read more: http://www.atjehcyber.net/2012/06/hasan-tiro-hanya-satu-orang-dalam.html#ixzz1xJjV85gc

Jumat, 08 Juni 2012

Membuang Kepala Kerbau Ke Laut Bukan Adat Aceh


Budaya dan adat Aceh khususnya di Kota Lhokseumawe selama ini kurang diperhatikan oleh masyarakatnya sendiri maupun elemen pemerintah setempat. Sehingga lunturnya adat Aceh itu banyak yang memunculkan masalah-masalah terutama yang menyangkut perilaku. Hal itu dikatakan oleh Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Kota Lhokseumawe, H. Usman Budiman yang ditemui The Globe Journal di kediamannya, Rabu (30/5), di Lhokseumawe.

Seperti misalnya, rumah adat Aceh yang merupakan adat asli orang Aceh di zaman indatu dahulu, kini nyaris punah. Masyarakat banyak yang sudah mendirikan rumah bangunan bertingkat maupun rumah pendek. "Kita bukan melarang masyarakat mendirikan rumah mewah. Tapi alangkah sayangnya jika adat Aceh seperti rumah adat kini nyatanya kian punah. Apalagi sekarang zaman sudah moderen dan memunculkan kegaulan lingkungan,'' ujar H. Usman Budiman yang juga mantan Ketua DPRK Kota Lhokseumawe.

Seperti yang terpantau The Globe Journal di beberapa pedalaman kota, untuk satu kecamatan hanya terlihat satu rumah adat Aceh saja. Masyarakat lebih suka membangun rumah mewah. Selain itu, budaya dan adat Aceh seperti melemparkan kepala sapi/kerbau ke laut, ternyata itu bukan bagian dari adat Aceh.
"itu bukan adat Aceh, tapi malah melanggar adat Aceh. Masyarakat jangan menyalah gunakan adat Aceh dan budaya Aceh peninggalan masa indatu kita,'' imbuh H. Usman, sembari mengharapkan masyarakat jangan mengabaikan adat dan budaya Aceh peninggalan indatu, termasuk rumah adat Aceh yang kian punah.

Selasa, 17 April 2012

Orang Aceh Tidak Tahu "Terima Kasih"

Jangan kaget dulu dengan tajuknya. Karena ini bukan penghinaan, melainkan hanya sekilas opini saya terhadap kata "Terima Kasih."

"Terima kasih" adalah satu kata yang sering diucapkan bila seseorang mendapatkan penghargaan atau pemberian dari orang lain. Lalu kenapa di Aceh tidak pernah ada kata "Terima Kasih" atau yang sering di terjemahkan dengan "Teurimong Geunaseh" yang menurut saya merupakan bahasa Indonesia yang di Aceh-kan.

Faktanya, ata "Terimong Geunaseh" tidak terdapat baik dalam kamus literatur Aceh maupun catatan sejarah. Lalu, apakah orang Aceh tidak tahu ber-Terima Kasih? Jawabannya adalah TIDAK.

Dalam tradisi yang dicontohkan secara turun temurun di Aceh, kata "ALHAMDULILLAH" merupakan pengganti kata terimakasih, artinya, dengan kita bersyukur kepada Allah, berarti kita telah berterimakasih kepada sesama manusia. Disisi lain, terdapat pahala setiap pengucapan kata "Alhamdulillah" tersebut, sekaligus doa untuk keberkahan rezeki si pemberi. Sepintas saya teringat Ibu saya yang MELARANG adik saya dan cucu2nya (walaupun bukan dari saya, hehe) mengucapkan kata terimakasih dan meminta menggantikan dengan kata "Alhamdulillah." Hingga pada akhirnya, Syahrini menge-trend-kan kata ini, "Alhamdulillah ya..." hehee...

Tentu nya juga sudah ada kosa kata yang digunakan untuk mengekspresikan pemberian seseorang. "SABAH" sama artinya dengan "THANKS" dalam bahasa Inggris atau "Syukran" dalam bahasa Arab. Namun kata "SABAH" yang terdapat dalam kamus Aceh ini hampir tidak pernah lagi diucapkan oleh orang Aceh, dikarenakan orang Aceh lebih nyaman mengucapkan "Alhamdulillah."

Lalu, mana yang anda pilih? mengucapkan Alhamdulillah? atau Terimong Geunaseh (Illegal Speech), atau Sabah (Registered)... 

Rabu, 15 Februari 2012

Asal Mula Nama Aceh

Aceh adalah nama sebuah Bangsa yang mendiami ujung paling utara pulau sumatera yang terletak di antara samudera hindia dan selat malaka.

Aceh merupakan sebuah nama dengan berbagai legenda dan mitos , sebuah bangsa yang sudah dikenal dunia internasional sejak berdirinya kerajaan poli di Aceh Pidie dan mencapai puncak kejayaan dan masa keemasan pada zaman Kerajaan Aceh Darussalam di masa pemerintahan Sulthan Iskandar Muda hingga berakhirnya kesulthanan Aceh pada tahun 1903 di masa Sulthan Muhammad Daud Syah.

Dan walau dalam masa 42 tahun sejak 1903 s/d 1945 Aceh tanpa pemimpin, Aceh tetap berdiri dan terus berjuang mempertahankan kemerdekaannya dari tangan Belanda dan Jepang yang dipimpin oleh para bangsawan, hulubalang dan para pahlawan Aceh seperti Tgk Umar, Cut Nyak Dhien dan lain-lain dan juga Aceh mempunyai andil yang sangat besar dalam mempertahankan Nusantara ini dengan pengorbanan rakyat dan harta benda yang sudah tak terhitung nilainya hingga Aceh bergabung dengan Indonesia karena rasa iba Daud Beureueh yang termakan oleh janji manis dan air mata buaya Soekarno.

Banyak sekali tentang mitos tentang nama Aceh, Berikut beberapa mitos tentang nama Aceh :

1. Menurut H. Muhammad Said (1972), sejak abad pertama Masehi, Aceh sudah menjadi jalur perdagangan internasional. Pelabuhan Aceh menjadi salah satu tempat singgah para pelintas. Malah ada di antara mereka yang kemudian menetap. Interaksi berbagai suku bangsa kemudian membuat wajah Aceh semakin majemuk. Sepeti dikutip oleh H.M. Said (Pengarang Buku Aceh Sepanjang Abad) catatan Thomas Braddel yang menyebutkan, di zaman Yunani, orang-orang Eropa mendapat rempah-rempah Timur dari saudagar Iskandariah, Bandar Mesir terbesar di pantai Laut Tengah kala itu. Tetapi, rempah-rempah tersebut bukanlah asli Iskandariah, melainkan mereka peroleh dari orang Arab Saba.Orang-orang Arab Saba mengangkut rempah-rempah tersebut dari Barygaza atau dari pantai Malabar India dan dari pelabuhan-pelabuhan lainnya. Sebelum diangkut ke negeri mereka, rempah-rempah tersebut dikumpulkan di Pelabuhan Aceh.

2. Raden Hoesein Djajadiningrat dalam bukunya Kesultanan Aceh (Terjemahan Teuku Hamid, 1982/1983) menyebutkan bahwa berita-berita tentang Aceh sebelum abad ke-16 Masehi dan mengenai asal-usul pembentukan Kerajaan Aceh sangat bersimpang-siur dan terpencar-pencar.

3. HM. Zainuddin (1961) dalam bukunya Tarich Aceh dan Nusantara, menyebutkan bahwa bangsa Aceh termasuk dalam rumpun bangsa Melayu, yaitu; Mantee (Bante), Lanun, Sakai Jakun, Semang (orang laut), Senui dan lain sebagainya, yang berasal dari negeri Perak dan Pahang di tanah Semenanjung Melayu.Semua bangsa tersebut erat hubungannya dengan bangsa Phonesia dari Babylonia dan bangsa Dravida di lembah sungai Indus dan Gangga, India. Bangsa Mante di Aceh awalnya mendiami Aceh Besar, khususnya di Kampung Seumileuk, yang juga disebut Gampong Rumoh Dua Blah. Letak kampung tersebut di atas Seulimum, antara Jantho danTangse. Seumileuk artinya dataran yang luas. Bangsa Mante inilah yang terus berkembang menjadi penduduk Aceh Lhee Sagoe (di Aceh Besar) yang kemudian ikut berpindah ke tempat-tempat lainnya. Sesudah tahun 400 Masehi, orang mulai menyebut ”Aceh” dengan sebutan Rami atau Ramni. Orang-orang dari Tiongkok menyebutnya lan li, lanwu li, nam wu li, dan nan poli yang nama sebenarnya menurut bahasa Aceh adalah Lam Muri. Sementara orang Melayu menyebutnya Lam Bri (Lamiri). Dalam catatan Gerini, nama Lambri adalah pengganti dari Rambri (Negeri Rama) yang terletak di Arakan (antara India Belakang dan Birma), yang merupakan perubahan dari sebutan Rama Bar atau Rama Bari.

4. Rouffaer, salah seorang penulis sejarah, menyatakan kata al Ramni atau al Rami diduga merupakan lafal yang salah dari kata-kata Ramana. Setelah kedatangan orang portugis mereka lebih suka menyebut orang Aceh dengan Acehm.

5. Sementara orang Arab menyebutnya Asji. Penulis-penulis Perancis menyebut nama Aceh dengan Acehm, Acin, Acheh ; orang-orang Inggris menyebutnya Atcheen, Acheen, Achin. Orang-orang Belanda menyebutnya Achem, Achim, Atchin, Atchein, Atjin, Atsjiem, Atsjeh, dan Atjeh. Orang Aceh sendiri, kala itu menyebutnya Atjeh.

6. Informasi tentang asal-muasal nama Aceh memang banyak ragamnya. Dalam versi lain, asal-usul nama Aceh lebih banyak diceritakan dalam mythe, cerita-cerita lama, mirip dongeng. Di antaranya, dikisahkan zaman dahulu, sebuah kapal Gujarat (India) berlayar ke Aceh dan tiba di Sungai Tjidaih (baca: ceudaih yang bermakna cantik, kini disebut Krueng Aceh).Para anak buah kapal (ABK) itu pun kemudian naik ke darat menuju Kampung Pande. Namun, dalam perjalanan tiba-tiba mereka kehujanan dan berteduh di bawah sebuah pohon. Mereka memuji kerindangan pohon itu dengan sebutan, Aca, Aca, Aca, yang artinya indah, indah, indah. Menurut Hoesein Djajadiningrat, pohon itu bernama bak si aceh-aceh di Kampung Pande (dahulu),Meunasah Kandang. Dari kata Aca itulah lahir nama Aceh.

7. Dalam versi lain diceritakan tentang perjalanan Budha ke Indo China dan kepulauan Melayu. Ketika sang budiman itu sampai di perairan Aceh, ia melihat cahaya aneka warna di atas sebuah gunung. Ia pun berseru “Acchera Vaata Bho” (baca: Acaram Bata Bho, alangkah indahnya). Dari kata itulah lahir nama Aceh. Yang dimaksud dengan gunung cahaya tadi adalah ujung batu putih dekat Pasai.

8. Dalam cerita lain disebutkan, ada dua orang kakak beradik sedang mandi di sungai. Sang adik sedang hamil. Tiba-tiba hanyut sebuah rakit pohon pisang. Di atasnya tergeletak sesuatu yang bergerak-gerak. Kedua putri itu lalu berenang dan mengambilnya. Ternyata yang bergerak itu adalah seorang bayi. Sang kakak berkata pada adiknya “Berikan ia padaku karena kamu sudah mengandung dan aku belum. ”Permintaan itu pun dikabulkan oleh sang adik. Sang kakak lalu membawa pulang bayi itu ke rumahnya. Dan, ia pun berdiam diri di atas balai-balai yang di bawahnya terdapat perapian (madeueng) selama 44 hari, layaknya orang yang baru melahirkan. Ketika bayi itu diturunkan dari rumah, seisi kampung menjadi heran dan mengatakan: adoe nyang mume, a nyang ceh (Maksudnya si adik yang hamil, tapi si kakak yang melahirkan).

9. Mitos lainnya menceritakan bahwa pada zaman dahulu ada seorang anak raja yang sedang berlayar, dengan suatu sebab kapalnya karam. Ia terdampar ke tepi pantai, di bawah sebatang pohon yang oleh penduduk setempat dinamaipohon aceh. Nama pohon itulah yang kemudian ditabalkan menjadi nama Aceh.

10. Talson menceritakan, pada suatu masa seorang puteri Hindu hilang, lari dari negerinya, tetapi abangnya kemudian menemukannya kembali di Aceh. Ia mengatakan kepada penduduk di sana bahwa puteri itu aji, yang artinya ”adik”. Sejak itulah putri itu diangkat menjadi pemimpin mereka, dan nama aji dijadikan sebagai nama daerah, yang kemudian secara berangsur-angsur berubah menjadi Aceh.

11. Mitos lainnya yang hidup di kalangan rakyat Aceh, menyebutkan istilah Aceh berasal dari sebuah kejadian, yaitu istri raja yang sedang hamil, lalu melahirkan. Oleh penduduk saat itu disebut ka ceh yang artinya telah lahir. Dan, dari sinilah asal kata Aceh.

12. Kisah lainnya menceritakan tentang karakter bangsa Aceh yang tidak mudah pecah. Hal ini diterjemahkan dari rangkaian kata a yang artinya tidak, dan ceh yang artinya pecah. Jadi, kata aceh bermakna tidak pecah.

13. Di kalangan peneliti sejarah dan antropologi, asal-usul bangsa Acehadalah dari suku Mantir (Mantee, bahasa Aceh) yang hidup di rimba raya Aceh. Suku ini mempunyai ciri-ciri dan postur tubuh yang agak kecil dibandingkan dengan orang Aceh sekarang. Diduga suku Manteu ini mempunyai kaitan dengan suku bangsa Mantera di Malaka, bagian dari bangsa Khmer dari Hindia Belakang.

--Okie 07:57, 7 Mei 2011 (UTC)Syauqie


B I S M I L L A A H I R R A H M A A N I R R A H I I M . . . MARI B E R S A M A B E R B A G I R A N G K A I A N C E R I T A, G O R E S A N K I S A H, K E K U A T A N A Q I D A H, DAN K E T A J A M A N P E N G E T A H U A N . . . . . "KUTITIPKAN SENYUMKU, DI SEJUTA MANIS SENYUMNYA...

Suka

Share to Facebook >>