Percayalah... Suatu saat nanti... Kita 'kan dipertemukan kembali... Bintang... :)

Senin, 04 Juli 2011

JOSET (Jomblo Kloset)

Semenjak aku duduk di bangku kuliah aku ga pernah bersentuhan dengan yang namanya “pacaran”, kata temenku pacaran itu asyik, banyak kisah yang bisa diukir. Aku percaya, buktinya pas lagi liburan kemana aja, banyak temuan ukiran-ukiran kisah itu ada dimana2, di pohon, di batu monumen, di museum, di prasasti2 bersejarah, bahkan di toilet n WC umum sekalipun, jelas terukir “Dessy Love Me,” atau “Jono ‘n Jonianty Luph 4ever” atau apa lah... 

Dari segi tulisan, mungkin para psikolog bisa menyimpulkan  bahwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww3ssssssssssssssssssssss3aeeeeeqEWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWW (jiah, huruf “w” di keyboard laptopku yang nggak seberapa ini macet, hehe… ok, lanjut…), bahwa tu orang kurang kerjaan banget, tidak mencintai lingkungan setempat, mana tulisannya hancur2an lagi. Kebayang nggak? Kenapa WC umum bau nya bisa putusin urat sarafnya Gatot Kaca? Padahal yang bersangkutan punya urat kawat… 

Temenku dengan bangganya gonta-ganti pacar. Pacaran hanya main-main saja. Tidak bagiku, karena aku punya harapan dan impian terdoktrin di otakku, bahwa bidadari syurga, lebih indah dari segalanya, hingga sekarang aku belum bisa membayangkannya. 

Tambahan di otak kananku, pacaran hanya sebuah aturan yang dapat mengancam langkah kakiku, betapa tidak, banyak teman-temanku yang melalikan kuliah gara-gara pacaran. Kiriman orangtua nggak pernah cukup, juga gara-gara pacaran. 

Nggak munafik, keinginan tuk pacaran pasti ada dalam diriku, mungkin bagi siapapun termasuk ayam tetangga sebelah yang selalu ku lempari batu kalo berkokoknya kepagian. 

Aku nggak mau mesti pinjam motor temen dan ngapel ke rumah pacar lalu mengatakan, “keren kan motor ku?”. Aku merasa berdosa, jika jatah uang jajan yang pas2an harus dibagi dua. Aku juga nggak mau waktu asyikku nongkrong bareng teman harus ku akhiri hanya setalah seseorang berkata, “Jemput sekarang atau kita putuuuusss !!!” Bagiku, itu malaikat mini pencabut nyawa, sungguh menaktutkan.

Harapanku sederhana, aku tidak ingin memiliki pendamping hidup yang “bukan” dari Aceh. Jangan katakana ini sukuisme, ini hanya perkara “Merpati berpasangan merpati”, “singa dengan singa,” kan ribet, bayangin kalo “ayam pacaran sama kambing?”

Aku ingin pacar sekaligus akan menjadi istriku, mengukir kisah sampai tua, punya anak maksimal Sembilan (anti KB, kwakwakaka…). Temen-temenku mentertawaiku, ada yang menyindir, ada yang langsung ngajak pacaran, ada yang menawarkan pacar, ada juga yang terus2an minta pacar (nah lho, tolong carikan cermin buatku ngaca, aku aja belum dapet… parah, Parah Azhari alias Parah Sekali). 

Sakit memang dikatain bujang lapok, nggak laku, jomblo sejati, joset (jomblo busyet), beribu istilah mengalir ke diriku. Aku tetap nggak peduli, karena menurutku banyak wanita yang mengejar-ngejarku (hehehe… kegeeran dech…)


B I S M I L L A A H I R R A H M A A N I R R A H I I M . . . MARI B E R S A M A B E R B A G I R A N G K A I A N C E R I T A, G O R E S A N K I S A H, K E K U A T A N A Q I D A H, DAN K E T A J A M A N P E N G E T A H U A N . . . . . "KUTITIPKAN SENYUMKU, DI SEJUTA MANIS SENYUMNYA...

Suka

Share to Facebook >>