Welcome to Lhoknga and Lampuuk… Both the villages of Lhoknga and Lampuuk are quiet. Beach lovers tend to stay in Lampuuk and the surfers in Lhoknga, where it is closer to the waves. The beach continues south of the river all the way to a cement factory. Locals tend to prefer this beach. The local fishing boats use the river as their harbor. The Fish market is on the river bank. During the World War II Lhoknga was an important base for the Japanese. They once built an airport, which today is the golf course. On a hilltop beyond the cement factory the Japanese built one of their two radar bases in Indonesia. This was in order to control the Malacca Strait and be able to attack enemy ships en-route between India and Singapore. The December 2004 Tsunami hit the area very hard. Lampuuk was almost totally wiped out. Now the trees have grown up again and there are not many physical reminders of the catastrophe. >> SEE ALSO Source: http://www.sumatraecotourism.com |
Mari Bersama Berbagi Rangkaian Cerita, Goresan Kisah, Kekuatan Aqidah, dan Ketajaman Pengetahuan......................
Kamis, 27 Desember 2012
Lhoknga and Lampuuk
Pulau Weh
Welcome to Pulau Weh...
There is so much more to this island than diving; fishing, nature, sceneries, atmosphere and much more. Ask any of the many travelers who stay month after month and still come back for more all the time. Iboih, Gapang, Sumur Tiga and Sabang Town are all interesting, relaxing and popular amongst foreign visitors.
The three most popular beach areas are Kincir, Iboih, Gapang, and Sumur Tiga.
THE NAME PULAU WEH
Western tourists have come to use the geographical name Pulau Weh or Weh Island. Indonesians normally use the administrative name, i.e. Sabang. It can be confusing when you ask for directions.
Source: http://www.sumatraecotourism.com/
Pulau Aceh
If you want to see something before tourism develops and if you are adventurous and used to primitive conditions, then Pulo Aceh is the perfect place. STRONGLY RECOMMENDED! It is close to Pulau Weh, but still so different. It doesn’t have the diving and snorkeling Pulau Weh has, but the beaches are breathtaking. Lots of forest is still standing and the scenery is very beautiful. The economy is based on fishing and agriculture. The locals are poor, however very friendly and social. Only Pulo Breuhand Pulo Nasi are habited, a total of app. 10.000, app. 5.000 on each of those two islands.
For snorkeling bring your own gear. Diving can be arranged from Pulau Weh. Surfers sometimes find their ways to Pulo Aceh. There are no surfboards available to rent.
The geographical position of Pulo Aceh at the tip of Sumatra results in some peculiarities. The straits between the islands are narrow and the currents can be very strong. Worst is between Pulo Bunta and Pulo Batee. One has to be careful in the straits, but otherwise there are no big problems.
When people in the old days sailed to Pulo Nasi, the trip was short enough to bring boiled rice, or "Nasi" in Acehnese. If they sailed to Pulo Breuh they had to bring raw rice, "Breuh" in Acehnese. That is the explanation to the names of these two islands.
ACCOMMODATION AND FOOD
Source: http://www.sumatraecotourism.com/
SurfAid Singkil bentuk Tim Penanggulangan Bencana di 6 Desa
KBRN, Singkil : Untuk meningkatkan penanggulangan bencana di tingkat desa, SurfAID Aceh Singkil membentuk 150 tim Penanggulangan Bencana Desa (PBD) di enam desa, masing-masing Desa Ujung, Desa Pasar dan Desa Pulau Sarok di Kecamatan Singkil. Kemudian Desa Teluk Nibung, Pulau Baguk, dan Desa Pulau Balai di Kecamatan Pulau Banyak.
Project Officer SurfAID Aceh Singkil Agus Setiawan kepada RRI, Sabtu (3/11), mengatakan, tim yang dibentuk di masing-masing desa dibagi dalam seksi dan regu. Semua tim diberikan pemahaman tentang tugas pokok dan fungsinya, sehingga bila terjadi bencana, tim akan menjadi ujung tombak untuk mendapatkan informasi akurat.
"Tim yang kita bentuk akan dibagi menjadi empat regu dan seksi. Ada orang-orangnya yang mengisi regu-regu dan seksi-seksi tersebut. Jadi, kita memberikan pemahaman kepada mereka, apa tugas pokok dan fungsi mereka di regu ini, agar ke depannya kalau seandainya di desa ini terjadi bencana, mereka menjadi ujung tombak untuk mendapatkan hasil-hasil yang akurat tentang dampak dari bencana di desa, bagi orang lain yang membutuhkan bantuan, atau bagi orang yang akan menyalurkan bantuan di desa," terang Agus.
Agus menambahkan, ada lima seksi yang terbentuk, yakni Seksi Kesiapsiagaan, Seksi SAR, Seksi Pendidikan Daururat, Seksi Manajemen Pengungsi, dan Seksi Komunikasi/Dokumentasi. Kemudian, ada delapan regu yaitu Regu Deteksi Dini, Regu Pemetaan, Regu Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) dan Psikososial, Regu Evakuasi, Regu Sekolah Darurat, Regu Logistik, Regu Dapur Umum, dan Regu Pendataan. Selain itu, juga ada Koordinator Tim Siaga, Sekretaris, Bendahara dan Ketua Seksi.
Lebih lanjut Agus mengatakan, untuk menguatkan peran tim di desa, SurfAID mengupayakan penerbitan Surat Keputusan (SK) dari Kepala Desa (Keuchik) di masing-masing desa. (Heri.F/Eva/HF)
(Editor : Heri Firmansyah)Sumber: http://rri.co.id/index.php/detailberita/detail/34632#.UNx9ueR18XE
SurfAID Aceh Singkil Bentuk 150 Tim Penanggulangan Bencana di 6 Desa
KBRN, Singkil : Untuk meningkatkan penanggulangan bencana di tingkat desa, SurfAID Aceh Singkil membentuk 150 tim Penanggulangan Bencana Desa (PBD) di enam desa, masing-masing Desa Ujung, Desa Pasar dan Desa Pulau Sarok di Kecamatan Singkil. Kemudian Desa Teluk Nibung, Pulau Baguk, dan Desa Pulau Balai di Kecamatan Pulau Banyak.
Project Officer SurfAID Aceh Singkil Agus Setiawan kepada RRI, Sabtu (3/11), mengatakan, tim yang dibentuk di masing-masing desa dibagi dalam seksi dan regu. Semua tim diberikan pemahaman tentang tugas pokok dan fungsinya, sehingga bila terjadi bencana, tim akan menjadi ujung tombak untuk mendapatkan informasi akurat.
"Tim yang kita bentuk akan dibagi menjadi empat regu dan seksi. Ada orang-orangnya yang mengisi regu-regu dan seksi-seksi tersebut. Jadi, kita memberikan pemahaman kepada mereka, apa tugas pokok dan fungsi mereka di regu ini, agar ke depannya kalau seandainya di desa ini terjadi bencana, mereka menjadi ujung tombak untuk mendapatkan hasil-hasil yang akurat tentang dampak dari bencana di desa, bagi orang lain yang membutuhkan bantuan, atau bagi orang yang akan menyalurkan bantuan di desa," terang Agus.
Agus menambahkan, ada lima seksi yang terbentuk, yakni Seksi Kesiapsiagaan, Seksi SAR, Seksi Pendidikan Daururat, Seksi Manajemen Pengungsi, dan Seksi Komunikasi/Dokumentasi. Kemudian, ada delapan regu yaitu Regu Deteksi Dini, Regu Pemetaan, Regu Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) dan Psikososial, Regu Evakuasi, Regu Sekolah Darurat, Regu Logistik, Regu Dapur Umum, dan Regu Pendataan. Selain itu, juga ada Koordinator Tim Siaga, Sekretaris, Bendahara dan Ketua Seksi.
Lebih lanjut Agus mengatakan, untuk menguatkan peran tim di desa, SurfAID mengupayakan penerbitan Surat Keputusan (SK) dari Kepala Desa (Keuchik) di masing-masing desa. (Heri.F/Eva/HF)
(Editor : Heri Firmansyah)Sumber: http://rri.co.id/index.php/detailberita/detail/34632#.UNx9ueR18XE
SurfAID Aceh Singkil Bentuk 150 Tim Penanggulangan Bencana di 6 Desa
KBRN, Singkil : Untuk meningkatkan penanggulangan bencana di tingkat desa, SurfAID Aceh Singkil membentuk 150 tim Penanggulangan Bencana Desa (PBD) di enam desa, masing-masing Desa Ujung, Desa Pasar dan Desa Pulau Sarok di Kecamatan Singkil. Kemudian Desa Teluk Nibung, Pulau Baguk, dan Desa Pulau Balai di Kecamatan Pulau Banyak.
Project Officer SurfAID Aceh Singkil Agus Setiawan kepada RRI, Sabtu (3/11), mengatakan, tim yang dibentuk di masing-masing desa dibagi dalam seksi dan regu. Semua tim diberikan pemahaman tentang tugas pokok dan fungsinya, sehingga bila terjadi bencana, tim akan menjadi ujung tombak untuk mendapatkan informasi akurat.
"Tim yang kita bentuk akan dibagi menjadi empat regu dan seksi. Ada orang-orangnya yang mengisi regu-regu dan seksi-seksi tersebut. Jadi, kita memberikan pemahaman kepada mereka, apa tugas pokok dan fungsi mereka di regu ini, agar ke depannya kalau seandainya di desa ini terjadi bencana, mereka menjadi ujung tombak untuk mendapatkan hasil-hasil yang akurat tentang dampak dari bencana di desa, bagi orang lain yang membutuhkan bantuan, atau bagi orang yang akan menyalurkan bantuan di desa," terang Agus.
Agus menambahkan, ada lima seksi yang terbentuk, yakni Seksi Kesiapsiagaan, Seksi SAR, Seksi Pendidikan Daururat, Seksi Manajemen Pengungsi, dan Seksi Komunikasi/Dokumentasi. Kemudian, ada delapan regu yaitu Regu Deteksi Dini, Regu Pemetaan, Regu Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) dan Psikososial, Regu Evakuasi, Regu Sekolah Darurat, Regu Logistik, Regu Dapur Umum, dan Regu Pendataan. Selain itu, juga ada Koordinator Tim Siaga, Sekretaris, Bendahara dan Ketua Seksi.
Lebih lanjut Agus mengatakan, untuk menguatkan peran tim di desa, SurfAID mengupayakan penerbitan Surat Keputusan (SK) dari Kepala Desa (Keuchik) di masing-masing desa. (Heri.F/Eva/HF)
(Editor : Heri Firmansyah)Sumber: http://rri.co.id/index.php/detailberita/detail/34632#.UNx9ueR18XE
Kamis, 28 Juni 2012
Download Filem Gratis
<h2>FILM JUSTICE LEAGUE: DOOM (2012)</h2>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">The Justice League are a team of great power, but also of personal secrets they thought safe. That changes when the immortal supervillain, Vandal Savage, has Batman’s Batcave secretly raided to learn them all and more. Soon, the Leaguers are individually beset by their enemies who attack them with inescapable death traps specifically designed with that information. With that, all seems lost until an indomitable Knight and a young Titan combine to deliver salvation even as Savage uses the opportunity to implement a far grander scheme.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-20647" title="imdb" src="http://www.downloadfilem.com/wp-content/uploads/2011/07/imdb2.png" alt="" width="300" height="45" /></p>
<p>[IMDb rating : 7.2/10]<br />
[Awards : - ]<br />
[Production Co : Warner Premiere, DC Entertainment, Warner Bros. Animation]<br />
[IMDb link : <a href="http://www.imdb.com/title/tt2027128">http://www.imdb.com/title/tt2027128</a>]</p>
<p><a href="http://www.downloadfilem.com/2468.html/trailer-film-php" rel="attachment wp-att-28056"><img class="alignnone size-medium wp-image-28056" title="Trailer film.php" src="http://www.downloadfilem.com/wp-content/uploads/2010/04/Trailer-film.php_-300x66.jpg" alt="" width="300" height="45" /></a></p>
<p><iframe src="http://www.youtube.com/embed/q0MSuTJNDdc" frameborder="0" width="564" height="335"></iframe></p>
<p><a href="http://www.downloadfilem.com/2468.html/info-film-1-php" rel="attachment wp-att-28093"><img class="alignnone size-medium wp-image-28093" title="Info film 1.php" src="http://www.downloadfilem.com/wp-content/uploads/2010/04/Info-film-1.php_-300x65.jpg" alt="" width="300" height="45" /></a></p>
<p>[Quality : BRRip 720p]<br />
[File Size : 500 MB]<br />
[Format : Matroska >> mkv]<br />
[Resolution : 1280x720]<br />
[Source : 720p.BluRay.x264.DTS-HDChina]<br />
[Encoder : ShAaNiG]</p>
<p><a href="http://www.downloadfilem.com/2468.html/download-mf-php" rel="attachment wp-att-28081"><img class="alignnone size-medium wp-image-28081" title="Download MF.php" src="http://www.downloadfilem.com/wp-content/uploads/2010/04/Download-MF.php_-300x67.jpg" alt="" width="300" height="45" /></a></p>
<p><strong>Jumbofiles</strong><br />
| <a href="http://gameoke.info/Justice-League-Doom-BRRip-rar-JF-part1">Part1</a> | <a href="http://gameoke.info/Justice-League-Doom-BRRip-rar-JF-part2">Part2</a> | <a href="http://gameoke.info/Justice-League-Doom-BRRip-rar-JF-part3">Part3</a> |<br />
<strong>Extract with winrar</strong><br />
<em>Credit to original uploaders</em><br />
======================================<br />
<strong>ifile.it</strong><br />
| <a href="http://gameoke.info/Justice-League-Doom-BRRip-rar-IF-part1">Part1</a> | <a href="http://gameoke.info/Justice-League-Doom-BRRip-rar-IF-part2">Part2</a> | <a href="http://gameoke.info/Justice-League-Doom-BRRip-rar-IF-part3">Part3</a> |<br />
<strong>Extract with winrar</strong><br />
<em>Credit to original uploaders</em><br />
======================================<br />
<strong>Single Link</strong><br />
<a href="http://gameoke.info/Justice-League-Doom-BRRip-rar-JF-Single-File">Download Single File Jumbofiles</a><br />
<a href="http://gameoke.info/Justice-League-Doom-BRRip-rar-IF-Single-File">Download Single File ifile.it</a></p>
<p><a href="http://www.downloadfilem.com/2468.html/subtittle-php-2" rel="attachment wp-att-28150"><img class="alignnone size-medium wp-image-28150" title="Subtittle.php" src="http://www.downloadfilem.com/wp-content/uploads/2010/04/Subtittle.php_1-300x68.jpg" alt="" width="300" height="45" /></a></p>
<p><a href="http://gameoke.info/Justice-League-Doom-Sub">Download English Subtitle</a><br />
<a href="http://gameoke.info/Justice-League-Doom-Sub">Download Indonesian Subtitle</a></p>
<!-- adman_adcode_after --><span style="color: #191970;"><b>Bagi Pengunjung Baru <a href="http://www.downloadfilem.com/cara-menggabungkan-file-dengan-hj-split.html" > klik di sini </a> Cara Menggabungkan File Ekstensi .001 dan .002 <br><br><br></b></span>
<g:plusone size="small"></g:plusone><br>
( klik " Like " Dan " +1 " jika kamu suka Film ini )
<!-- /adman_adcode_after --><h4>Pencarian Populer:</h4><ul><a href="http://www.downloadfilem.com/film-justice-league-doom-2012.html" title="justice league 2012">justice league 2012</a>--<a href="http://www.downloadfilem.com/film-justice-league-doom-2012.html" title="download film justice league">download film justice league</a>--<a href="http://www.downloadfilem.com/film-justice-league-doom-2012.html" title="download Justice League 2012">download Justice League 2012</a>--<a href="http://www.downloadfilem.com/film-justice-league-doom-2012.html" title="dowload justice league 2012">dowload justice league 2012</a>--<a href="http://www.downloadfilem.com/film-justice-league-doom-2012.html" title="kumpulan download film justice league">kumpulan download film justice league</a>--</ul>
<p>Sinopsis <a href="http://www.downloadfilem.com/film-justice-league-doom-2012.html">FILM JUSTICE LEAGUE: DOOM (2012)</a> ini dipersembahkan oleh <a href="http://downloadfilem.com" title="Download filem ">Downloadfilem.com</a>.</p>
Download Gratis The Raid: Redemption: ganool
Halo temen2 semua. Dah lama gue gak update blog gw yak. Maklum, sibuk di sekolah. Ujian sekolah lah, Try Out lah, dan masih banyak kesibukan lainnya. Tiap hari dikejer2 untuk belajar, sama kayak selebritas lagi dikejer sama infotainment.
Akhir – akhir ini, di tipi2 lagi pada banyak yang bahas kesuksesan film anak negeri, The Raid: Redemption. Nah. berhubung pikiran lagi suntuk2nya, gue penasaran banget mau nonton nih film. Mau ke bioskop, di kota gue gak ada (kasian ya). Mau beli DVDnya, disini juga gak ada. Ya udah deh gue cari aja buat download The Raid: Redemption, gue coba cari sana sini, kejar sana kejar sini kayak anak – anak lagi pada kejer layangan putus.
Haha.. banyak omong nih, nih gue kasih:
UPDATE:
Ternyata link dibawah bukan link download The Raid Indonesia, tapi film The Raid tahun 1954
link download The Raid: Redemption
- http://www.fileserve.com/file/QzKaQN7/The.Raid.1954.DVDRip.XviD-EXViD.part1.rar
- http://www.fileserve.com/file/8Gcq6N8/The.Raid.1954.DVDRip.XviD-EXViD.part2.rar
- http://www.fileserve.com/file/Czhj9eF/The.Raid.1954.DVDRip.XviD-EXViD.part3.rar
Sorry, yang baru gue temuin ya yang dari fileserver. Ntar kalo ada link lokal atau dari mediafire gue update deh. Silahkan download the raid redemption. Gue yakin banyak yang penasaran ama nih film. Keliatan, dari keyword – keyworddownload The Raid: Redemption lagi rame2nya. Makanya gue bikin nih post juga, siapa tau dari keyword download The Raid: Redemption, bisa jaring banyak visitor. wkwk
yuk nonton bareng – bareng nih film The Raid: Redepmtion. Gue juga lagi download nih. Was – was juga.. Takut putus tengah jalan. Soalnya no resume
Part-1 baru 35% 
The Raid: Redemption Download.
Sabtu, 09 Juni 2012
Tahukah Anda: "Aceh Tak Pernah Berontak Kepada NKRI"
Namun tahukah kita bahwa istilah tersebut sesungguhnya bias dan tidak tepat? Karena sesungguhnya—dan ini fakta sejarah—bahwa Aceh sebenarnya tidak pernah berontak pada NKRI, namun menarik kembali kesepakatannya dengan NKRI. Dua istilah ini, “berontak” dengan “menarik kesepakatan” merupakan dua hal yang sangat berbeda.
NKRI secara resmi baru merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Sedangkan Aceh Darussalam berabad-abad sebelumnya telah merdeka, memiliki hukum kenegaraan (Qanun) nya sendiri, menjalin persahabatan dengan negeri-negeri seberang lautan, dan bahkan pernah menjadi bagian (protektorat) dari Kekhalifahan Islam Turki Utsmaniyah.
Jadi, bagaimana bisa sebuah negara yang merdeka dan berdaulat sejak abad ke-14 Masehi, bersamaan dengan pudarnya kekuasaan Kerajaan Budha Sriwijaya, dianggap memberontak pada sebuah Negara yang baru merdeka di abad ke -20?
Aceh Darussalam merupakan negara berdaulat yang sama sekali tidak pernah tunduk pada penjajah Barat. Penjajah Belanda pernah dua kali mengirimkan pasukannya dalam jumlah yang amat besar untuk menyerang dan menundukkanAceh, namun keduanya menemui kegagalan, walau dalam serangan yang terakhir Belanda bisa menduduki pusat-pusat negerinya.
Sejak melawan Portugis hingga VOC Belanda, yang ada di dalam dada rakyatAceh adalah mempertahankan marwah, harga diri dan martabat, Aceh Darussalam sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat berdasarkan Qanun Meukuta Alam yang bernafaskan Islam.
Saat itu, kita harus akui dengan jujur, tidak ada dalam benak Rakyat Aceh soal yang namanya membela Indonesia. Sudah ratusan tahun, berabad-abadKerajaan Aceh Darussalam berdiri dengan tegak bahkan diakui oleh dunia Timur dan Barat sebagai “Negara” yang merdeka dan berdaulat.
Istilah “Indonesia” sendiri baru saja lahir di abad ke-19. Jika diumpamakan dengan manusia, maka Aceh Darussalam adalah seorang manusia dewasayang sudah kaya dengan asam-garam kehidupan, kuat, dan mandiri, sedangkan “Indonesia” masih berupa jabang bayi yang untuk makan sendirisaja belumlah mampu melakukannya.
Banyak literatur sejarah juga lazim menyebut orang Aceh sebagai “Rakyat Aceh”, tapi tidak pernah menyebut hal yang sama untuk suku-suku lainnya di Nusantara. Tidak pernah sejarah menyebut orang Jawa sebagai rakyat Jawa, orang Kalimantan sebagai rakyat Kalimantan, dan sebagainya. Yang ada hanyaRakyat Aceh. Karena Aceh sedari dulu memang sebuah bangsa yang sudah merdeka dan berdaulat.
Kesediaan rakyat Aceh mendukung perjuangan bangsa Indonesia, bahkan dengan penuh keikhlasan menyumbangkan segenap sumber daya manusia dan hartanya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia—lebih dari daerah mana pun di seluruh Nusantara, adalah semata-mata karena rakyat Acehmerasakan ikatan persaudaraan dalam satu akidah dan satu iman dengan rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim.
Ukhuwah Islamiyah inilah yang mempersatukan rakyat Aceh dengan bangsa Indonesia. Apalagi Bung Karno dengan berlinang airmata pernah berjanji bahwa untuk Aceh, Republik Indonesia akan menjamin dan memberi kebebasan serta mendukung penuh pelaksanaan syariat Islam di wilayahnya. Sesuatu yang memang menjadi urat nadi bangsa Aceh.
Namun sejarah juga mencatat bahwa belum kering bibir Bung Karno mengucap, janji yang pernah dikatakannya itu dikhianatinya sendiri. Bahkan secara sepihak hak rakyat Aceh untuk mengatur dirinya sendiri dilenyapkan. Aceh disatukan sebagai Provinsi Sumatera Utara. Hal ini jelas amat sangat menyinggung harga diri rakyat Aceh.
Dengan kebijakan ini, pemerintah Jakarta sangat gegabah karena sama sekali tidak memperhitungkan sosio-kultural dan landasan historis rakyat Aceh. Bukannya apa-apa, ratusan tahun lalu ketika rakyat Aceh sudah sedemikian makmur, ilmu pengetahuan sudah tinggi, dayah dan perpustakaan sudah banyak menyebar seantero wilayah, bahkan sudah banyak orang Aceh yang menguasai bahasa asing lebih dari empat bahasa, di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Provinsi Sumatera Utara pada waktu itu, manusia-manusia yang mendiami wilayah itu masih berperadaban purba. Masih banyak suku-suku kanibal, belum mengenal buku, apa lagi baca-tulis. Hanya wilayah pesisir yang sudah berperadaban karena bersinggungan dengan para pedagang dari banyak negeri.
Saat perang mempertahankan kemerdekaan melawan Belanda pun, bantuan dariAceh berupa logistik dan juga pasukan pun mengalir ke Medan Area. Bahkan ketika arus pengungsian dari wilayah Sumatera Utara masuk ke wilayah Aceh,rakyat Aceh menyambutnya dengan tangan terbuka dan tulus. Jadi jelas, ketika Jakarta malah melebur Aceh menjadi Provinsi Sumatera Utara, rakyat Aceh amat tersinggung.
Tak mengherankan jika rakyat Aceh, dipelopori PUSA dengan Teungku Daud Beureueh, menarik kembali janji kesediaan bergabung dengan Republik Indonesia di tahun 1953 dan lebih memilih untuk bergabung dengan Negara Islam Indonesia (NII) yang lebih dulu diproklamirkan S. M. Kartosuwiryo di Jawa Barat. Ini semata-mata demi kemaslahatan dakwah dan syiar Islam. Dengan logika ini,Aceh bukanlah berontak atau separatis, tapi lebih tepat dengan istilah: menarik kembali kesediaan bergabung dengan republik karena tidak ada manfaatnya.
Pandangan orang kebanyakan bahwa Teungku Muhammad Daud Beureuehdan pengikutnya tidak nasionalis adalah pandangan yang amat keliru dan a-historis. Karena sejarah mencatat dengan tinta emas betapa rakyat Aceh danDaud Beureueh menyambut kemerdekaan Indonesia dengan gegap-gempita dan sumpah setia, bahkan dengan seluruh sisa-sisa kekuatan yang ada berjibaku mempertahankan kemerdekaan negeri ini menghadapi rongrongan konspirasi Barat.
Ukhuwah Islamiyah inilah yang mempersatukan rakyat Aceh dengan bangsa Indonesia. Apalagi Bung Karno dengan berlinang airmata pernah berjanji bahwa untuk Aceh, Republik Indonesia akan menjamin dan memberi kebebasan serta mendukung penuh pelaksanaan syariat Islam di wilayahnya. Sesuatu yang memang menjadi urat nadi bangsa Aceh.
Namun sejarah juga mencatat bahwa belum kering bibir Bung Karno mengucap, janji yang pernah dikatakannya itu dikhianatinya sendiri. Bahkan secara sepihak hak rakyat Aceh untuk mengatur dirinya sendiri dilenyapkan. Aceh disatukan sebagai Provinsi Sumatera Utara. Hal ini jelas amat sangat menyinggung harga diri rakyat Aceh.
Dengan kebijakan ini, pemerintah Jakarta sangat gegabah karena sama sekali tidak memperhitungkan sosio-kultural dan landasan historis rakyat Aceh. Bukannya apa-apa, ratusan tahun lalu ketika rakyat Aceh sudah sedemikian makmur, ilmu pengetahuan sudah tinggi, dayah dan perpustakaan sudah banyak menyebar seantero wilayah, bahkan sudah banyak orang Aceh yang menguasai bahasa asing lebih dari empat bahasa, di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Provinsi Sumatera Utara pada waktu itu, manusia-manusia yang mendiami wilayah itu masih berperadaban purba. Masih banyak suku-suku kanibal, belum mengenal buku, apa lagi baca-tulis. Hanya wilayah pesisir yang sudah berperadaban karena bersinggungan dengan para pedagang dari banyak negeri.
Saat perang mempertahankan kemerdekaan melawan Belanda pun, bantuan dariAceh berupa logistik dan juga pasukan pun mengalir ke Medan Area. Bahkan ketika arus pengungsian dari wilayah Sumatera Utara masuk ke wilayah Aceh,rakyat Aceh menyambutnya dengan tangan terbuka dan tulus. Jadi jelas, ketika Jakarta malah melebur Aceh menjadi Provinsi Sumatera Utara, rakyat Aceh amat tersinggung.
Tak mengherankan jika rakyat Aceh, dipelopori PUSA dengan Teungku Daud Beureueh, menarik kembali janji kesediaan bergabung dengan Republik Indonesia di tahun 1953 dan lebih memilih untuk bergabung dengan Negara Islam Indonesia (NII) yang lebih dulu diproklamirkan S. M. Kartosuwiryo di Jawa Barat. Ini semata-mata demi kemaslahatan dakwah dan syiar Islam. Dengan logika ini,Aceh bukanlah berontak atau separatis, tapi lebih tepat dengan istilah: menarik kembali kesediaan bergabung dengan republik karena tidak ada manfaatnya.
Pandangan orang kebanyakan bahwa Teungku Muhammad Daud Beureuehdan pengikutnya tidak nasionalis adalah pandangan yang amat keliru dan a-historis. Karena sejarah mencatat dengan tinta emas betapa rakyat Aceh danDaud Beureueh menyambut kemerdekaan Indonesia dengan gegap-gempita dan sumpah setia, bahkan dengan seluruh sisa-sisa kekuatan yang ada berjibaku mempertahankan kemerdekaan negeri ini menghadapi rongrongan konspirasi Barat.
Cara Pandang ‘Majapahitisme’
Mengatakan Aceh pernah melakukan pemberontakan terhadap NKRI merupakan cara pandang yang berangkat dari paradigma ‘Majapahitisme’. Bukan hal yang perlu ditutup-tutupi bahwa cara pandang Orde Lama maupun Baru selama ini terlalu Majapahitisme', semua dianggap sama dengan kultur Hindu. Bahkan simbol-simbol negara pun diistilahkan dengan istilah-istilah sansekerta, yang kental pengaruh Hindu dan paganisme yang dalam Akidah Islam dianggap sebagai syirik, mempersekutukan Allah SWT dan termasuk dosa yang tidak terampunkan.
Bukankah suatu hal yang amat aneh, suatu negeri mayoritas Islam terbesar dunia tapi simbol negaranya sarat dengan istilah Hindu. Ini merupakan suatu bukti tidak selarasnya aspirasi penguasa dengan rakyatnya. Padahal Islam tidak mengenal, bahkan menentang mistisme atau hal-hal berbau syirik lainnya. Rakyat Aceh sangat paham dan cerdas untuk menilai bahwa hal-hal seperti ini adalah sesuatu yang tidak bisa diterima.
Khususnya di Jawa, Sosio-kultural raja-raja dan masyarakat Jawa sampai saat ini sangat kental dengan nuansa Hinduisme, ini bisa dilihat dari berbagai macam Ritual dalam budaya masyarakat di Jawa hingga saat ini. Raja merupakan titisan dewa, suara raja adalah suara dewa. Sebab itu, di Jawa ada istilah “Sabda Pandhita Ratu” yang tidak boleh dilanggar. Ini sangat bertentangan dengan sosio-kultural para Sultan dan Sultanah di Kerajaan Aceh Darussalam. Dalam Islam, penguasa adalah pemegang amanah yang wajib mempertanggungjawabkan kepemimpinannya di hari akhir kelak kepada Allah SWT.
Kerajaan Aceh Darussalam saat diperintah oleh Sultan Iskandar Mudatelah memiliki semacam Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Permusyawaratan Rakyat (DPR-MPR) yang hak dan kewajibannya telah di atur dalam ‘Konstitusi Negara” Qanun Meukuta Alam. Ada pula Dewan Syuro yang berisikan sejumlah ulama berpengaruh yang bertugas menasehati penguasa dan memberi arahan-arahan diminta atau pun tidak. Aceh juga telah memiliki penguasa-penguasa lokal yang bertanggungjawab kepada pemerintahan pusat. Jadi, seorang penguasa di Kerajaan Aceh Darussalam tidak bisa berbuat seenaknya, karena sikap dan tindak-tanduknya dibatasi oleh Qanun Meukuta Alam yang didasari oleh nilai-nilai Qur'aniyah.
Jadi, jelaslah bahwa sosio-kultur antara Aceh dengan kerajaan-kerajaan Hindu amat bertolak-belakang. Aceh bersedia mendukung dan menyatukan diri dengan NKRI atas bujukan Soekarno, semata-mata karena meyakini tali ukhuwah Islamiyah. Namun ketika Aceh dikhianati dan bahkan di masa Orde Lama maupun Orde Baru diperah habis-habisan seluruh sumber daya alamnya, disedot ke Jawa, maka dengan sendirinya Aceh menarik kembali kesediaannya bergabung dengan NKRI. Aceh menarik kembali kesepakatannya, bukan memberontak. Ini semata-mata karena kesalahan yang dilakukan “Pemerintah Jakarta” terhadap Aceh.
Jadi, jelaslah bahwa sosio-kultur antara Aceh dengan kerajaan-kerajaan Hindu amat bertolak-belakang. Aceh bersedia mendukung dan menyatukan diri dengan NKRI atas bujukan Soekarno, semata-mata karena meyakini tali ukhuwah Islamiyah. Namun ketika Aceh dikhianati dan bahkan di masa Orde Lama maupun Orde Baru diperah habis-habisan seluruh sumber daya alamnya, disedot ke Jawa, maka dengan sendirinya Aceh menarik kembali kesediaannya bergabung dengan NKRI. Aceh menarik kembali kesepakatannya, bukan memberontak. Ini semata-mata karena kesalahan yang dilakukan “Pemerintah Jakarta” terhadap Aceh.
Dan ketika Aceh Darussalam sudah mau bersatu kembali ke dalam NKRI,Gerakan Aceh Merdeka (GAM) bersedia meletakkan senjatanya dan memilih jalan berparlemen, Aceh sekarang dipimpin seorang putera daerahnya lewat sebuah pemilihan yang sangat demokratis, maka sudah seyogyanya NKRI memperlakukan Aceh dengan adil dan proporsional.
Puluhan tahun sudah Aceh menyumbangkan kekayaannya untuk kesejahteraan seluruh Nusantara, terutama Tanah Jawa, maka sekarang sudah saatnya “Jawa” membangun Aceh. Mudah-mudahan ‘kesepakatan’ ini bisa menjadi abadi, semata-mata dipeliharanya prinsip-prinsip keadilan dan saling harga-menghargai.
Tahukah Anda: "Dasar Indonesia Bukanlah Pancasila"
Pemikiran Islam | Fimadani.com
Ustadz Ahmad Sarwat dalam kolom konsultasinya pernah ditanya terkait dengan pernyataan Dr. Eggi Sudjana, SH. Msi., yang dalam kesempatan sebelumnya melakukan debat dengan Abdul Muqsith dari kelompok Islam Liberal dan Pluralisme Agama di salah satu stasiun televisi yang disiarkan secara nasional.
Debat ini dilakukan menyikapi bentrokan yang terjadi antara AKK-BB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan) dengan FPI di Monumen Nasional karena pertentangan dalam menghadapi kasus aliran sesat Ahmadiyah di Indonesia.
Dalam menanggapi hal tersebut, Ustadz Ahmad Sarwat menyatakan hal berikut:
Memang cukup mengejutkan juga apa yang disampaikan oleh Dr. Eggi Sudjana, SH. Msi., dalam talkshow di TV swasta malam itu. Beliau menyebutkan bahwa kalau dicermati, ternyata justru negara Indonesia ini secara hukum bukanlah berdasarkan Pancasila. Sebaliknya, di dalam UUD 45 malah ditegaskan bahwa dasar negara kita adalah Ketuhanan Yang Maha Esa.
Dan sesuai dengan Preambule atau Pembukaan UUD 1945, Tuhan yang dimaksud tidak lain adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga secara hukum jelas sekali bahwa dasar negara kita ini adalah Islam atau hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala..
Pernyataan itu muncul saat berdebat dengan Abdul Muqsith yang mewakili kalangan AKK-BB. Saat itu Abdul Muqsith menyatakan bahwa Indonesia bukan negara Islam, bukan berdasarkan Al Quran dan hadits, tetapi berdasarkan Pancasila dan UUD 45.
Mungkin maunya Abdul Muqsith menegaskan bahwa Ahmadiyah boleh saja melakukan kegiatan yang bertentangan dengan ajaran Islam, toh negara kita kan bukan negara Islam, bukan berdasarkan Quran dan Sunnah.
Tetapi tiba-tiba Mas Eggi balik bertanya tentang siapa yang bilang bahwa dasar negara kita ini Pancasila? Mana dasar hukumnya kita mengatakan itu?
Abdul Muqsith cukup kaget diserang seperti itu. Rupanya dia tidak siap ketika diminta untuk menyebutkan dasar ungkapan bahwa negara kita ini berdasarkan Pancasila dan UUD 45.
Saat itulah mas Eggi langsung menyebutkan bahwa yang ada justru UUD 45 menyebutkan tentang dasar negara kita adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, bukan Pancasila. Sebagaimana yang disebutkan dalam UUD 45 pasal 29 ayat 1.
Kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Eggi Sujana itu. Iya ya, mana teks resmi yang menyebutkan bahwa dasar negara kita ini Pancasila. Kita yang awam ini agak terperangah juga mendengar seruan itu.
Entahlah apa ada ahli hukum lain yang bisa menjawabnya. Yang jelas, si Abdul Muasith itu hanya bisa diam saja, tanpa bisa menjawab apa yang ditegaskan leh Eggi Sujana.
Dan rasanya kita memang tidak atau belum menemukan teks resmi yang menyebutkan bahwa dasar negara kita ini Pancasila.
Diskusi itu menjadi menarik, lantaran kita baru saja tersadar bahwa dasar negara kita menurut UUD 45 ternyata bukan Pancasila sebagaimana yang sering kita hafal selama ini sejak SD. Pasal 29 UUD 45 ayat 1 memang menyebutkan begini:
“1. Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.”
Lalu siapakah Tuhan yang dimaksud dalam pasal ini, jawabannya menurut Eggi adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.. Karena di pembukaan UUD 45 memang telah disebutkan secara tegas tentang kemerdekaan Indonesia yang merupakan berkat rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala..
Dalam argumentasi mas Eggi, yang namanya batang tubuh dengan pembukaan tidak boleh terpisah-pisah atau berlawanan. Kalau di batang tubuh yaitu pasal 29 ayat 1 disebutkan bahwa negara berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, maka Tuhan itu bukan sekedar Maha Esa, juga bukan berarti tuhannya semua agama. Tetapi tuhannya umat Islam, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala..
Hal itu lantaran secara tegas Pembukaan UUD 45 menyebutkan lafadz Allah Subhanahu wa Ta’ala.. Dan hal itu tidak boleh ditafsirkan menjadi segala macam tuhan, bukan asal tuhan dan bukan tuhan-tuhan buat agama lain. Tuhan Yang Maha Esa di pasal 29 ayat 1 itu harus dipahami sebagai Allah Subhanahu wa Ta’ala., bukan Yesus, bukan Bunda Maria, bukan Sidharta Gautama, bukan dewa atau pun tuhan-tuhan yang lain.
Lepas apakah nanti ada ahli hukum tata negara yang bisa menepis pandangan Eggi Sujana itu, yang pasti Abdul Muqsith tidak bisa menjawabnya. Dan pandangan bahwa negara kita ini bukan negara Islam serta tidak berdasarkan Quran dan Sunnah, secara jujur harus kita akui harus dikoreksi kembali.
Sebab kalau kita lihat latar belakang semangat dan juga sejarah terbentuknya UUD 45 oleh para pendiri negeri ini, nuansa Islam sangat kental. Bahkan ada opsi yang cukup lama untuk menjadikan negara Indonesia ini sebagai negara Islam yang formal.
Bahkan awalnya, sila pertama dari Pancasila itu masih ada tambahan 7 kata, yaitu:
“dengan menjalankan syariat Islam bagi para pemeluknya”.
“dengan menjalankan syariat Islam bagi para pemeluknya”.
Namun lewat tipu muslihat dan kebohongan yang nyata, dan tentunya perdebatan panjang, 7 kata itu harus dihapuskan. Sekedar memperhatikan kepentingan kalangan Kristen yang merasa keberatan dan main ancam mau memisahkan diri dari NKRI.
Padahal 7 kata itu sama sekali tidak mengusik kepentingan agama dan ibadah mereka. Toh Indonesia ini memang mayoritas muslim, tetapi betapa lucunya, tatkala pihak mayoritas mau menetapkan hukum di dalam lingkungan mereka sendiri lewat Pancasila, kok bisa-bisanya orang-orang di luar agama Islam pakai acara protes segala. Padahal apa urusannya mereka dengan 7 kata itu.
Kalau dipikir-pikir, betapa tidak etisnya kalangan Kristen saat awal kita mendirikan negara, di mana mereka sudah ikut campur urusan agama lain, yang mayoritas pula. Sampai mereka berani nekat mau memisahkan diri sambil berdusta bahwa Indonesia bagian timur akan segera memisahkan diri kalau 7 kata itu tidak dihapus.
Akhirnya dengan legowo para ulama dan pendiri negara ini menghapus 7 kata itu, demi untuk persatuan dan kesatuan. Tapi apa lacur, air susu dibalas air tuba. Alih-alih duduk rukun dan akur, kalangan Kristen yang didukung kalangan sekuler itu tidak pernah berhenti ingin menyingkirkan Islam dari negara ini.
Dan semangat penyingkiran Islam dari negara semakin menjadi-jadi dengan adanya penekanan asas tunggal di zaman Soeharto. Semua ormas apalagi orsospol wajib berasas Pancasila.
Sesuatu yang di dalam UUD 45 tidak pernah disebut-sebut. Malah yang disebut justru negara ini berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Dan Tuhan yang dimaksud itu adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. sesuai dengan yang tercantum di dalam Pembukaan UUD 45.
Jadi sangat tepat kalau kalangan sekuler harus sibuk membuka-buka kembali literatur untuk cari-cari argumen yang sekiranya bisa membuat Islam jauh dari negara ini.
Namanya perjuangan, pasti mereka akan terus mencari dan mencari argumen-argumen yang sekiranya bisa dijadikan bahan untuk dijadikan alibi yang menjauhkan Islam dari negara. Sebab mereka memang alergi dengan Islam. Seolah-olah Islam itu harus dimusuhi, atau merupakan bahaya laten yang harus diwaspadai.
Kita harus akui bahwa kalangan sekuler anti Islam itu cukup banyak. Dalam kepala mereka, mungkin lebih baik negara ini menajdi komunis dari pada jadi negara Islam. Na'uzubillah...
Saya Adalah Aceh
Oleh Mariska Lubis.
Terpana menatap sebuah foto tua dengan gambar seorang pria yang sangat tampan. Sorot matanya lembut namun sangat tajam, tampak jelas intelektualitasnya. Setelah tahu, siapa yang ada di dalam foto itu, hati ini pun semakin terpesona. Jarang sekali ada pria tampan yang jenius seperti beliau. Biarpun disisihkan dan dibuang meski dielukan juga. Tidak mudah untuk mengerti mereka yang berpikiran jauh ke depan.
Tadinya saya pikir beliau adalah ayah dari salah seorang sahabat saya karena wajahnya sangat mirip. Aura dan rona dari wajah dan penampilannya pun serupa. Saya benar-benar terpana menatapnya. Barangkali, jika beliau masih ada dan muda seperti nampak di dalam foto itu, saya bisa jatuh cinta padanya.
Ketika saya diberitahu siapa yang ada di dalam foto itu, saya semakin jatuh cinta saja. Dia memang seorang pria yang sangat jenius dan luar biasa kemampuan intelektualitasnya. Sayangnya, bahkan mereka yang mengelu-elukannya pun barangkali tidak bisa merasakan dan menangkap dengan lebih jauh arti dan makna dari setiap kata yang diuraikannya. Beliau malah disia-siakan dan disingkirkan begitu saja. Hanya dijadikan simbol semata.
Yah, nasib orang yang memiliki pemikiran modern. Terlalu banyak mereka yang mengaku modern tetapi sesungguhnya sangat terbelakang di dalam pemikiran. Penampilannya saja yang kelihatan hebat, tetapi untuk membaca pun hanya mampu sekedar aksara semata. Mata hati itu sudah tertutup dengan kesombongan dan berbagai kepentingan pribadi serta kelompok hingga lupa diri dan besar kepala.
Saya pernah menulis artikel tentang bagaimana untuk bisa mengerti apa yang beliau maksudkan. Tentunya tidak semudah membaca aksara begitu saja, dibutuhkan pemikiran yang sangat dalam serta wawasan yang sangat luas sekali. Harus tahu bagaimana sejarah tentang apa yang mempengaruhi pemikiran-pemikirannya tersebut. Jika tidak, maka akan sangat sulit untuk mampu menerjemahkannya.
Bisa jadi, saya yang memang sok tahu atau tidak waras. Saya melihat beliau dari sudut pandang saya sendiri yang tentunya merupakan keegoisan dari diri saya sendiri juga. Yang lebih banyak tahu seharusnya mereka yang memang menjadikan beliau panutan dan mengelu-elukannya, kan?! Begitu juga dengan mereka yang menganggapnya sampah dan mengucilkannya. Saya tahu apa, sih?!
Jadi teringat dengan kata-kata seorang teman di BBM yang dia bagikan juga di Tweet, dia mengatakan bahwa di daerahnya, sejarah adalah untuk diingat lewat ucapan dan bukan melalui catatan atau tulisan. Saya tentunya sangat terkejut sekali, mengingat dia berasal dari daerah yang kaya sekali akan catatan sejarah. Kata-kata yang terurai dari orang-orang di sana terkenal sangat indah dan penuh makna pada waktu yang lalu. Pantas saja bila sekarang banyak yang berubah. Entah ini disengaja atau tidak, disadari atau tidak disadari, diakui tidak diakui.
Wajar jugalah bila kemudian daerah ini terus diliputi konflik yang berkepanjangan. Bagaimana mungkin sebuah wilayah bila mendapatkan perdamaiannya bila sudah kehilangan jati dirinya? Bagaimana juga bisa menjadi hebat bila sudah melupakan sejarah yang pernah membuatnya luar biasa?! Bagaimana sebuah wilayah bisa bertahan dan mempertahankan diri bila tidak memiliki kekuatan yang berasal dari dalam dirinya sendiri?! Yakin dan percaya dengan diri sendiri pun tidak.
Jika memang benar memiliki jati diri, tentunya tidak akan mudah digoyah dan mampu mempertahankan diri menggunakan kehebatannya. Tidak mudah untuk “menyerang” dan “melumpuhkan” bila memang sudah kuat pondasinya. Dinding bisa saja roboh tetapi pondasi yang kuat akan terus bisa mempertahankannya. Pohon yang kuat pun bisa saja tumbang dahan dan gugur daunnya, tetapi tidak akarnya.
Jika pun memang benar menghormati sejarah dan semua perjuangan yang telah dilakukan di masa lampau, tentunya pria tampan berotak jenius itu pun tidak akan diremehkan begitu saja. Tidak hanya dijadikan simbol semata tetapi benar dipelajari dan dirasakan. Keindahan seseorang yang telah memberikan yang terbaik, kok, bisa terhapus begitu saja oleh “kepentingan” pribadi dan kelompok?! Bagaimana dengan cita-cita dan seluruh perjuangannya itu?! Rasa hormat dan penghargaan bukan hanya sekedar di mulut tetapi diperlukan kesungguhan dan ketulusan hati!
Yang paling membuat saya terbengong-bengong adalah bila selalu saja ada tuduhan dan tudingan yang mengarahkan kepada yang lainnya. Malu atau takut, ya, kalau bercermin?! Tidak juga memiliki nyali untuk mengakui semua kesalahan yang telah dibuat oleh diri?! Padahal, selalu saja mengumbar kata “Tuhan” dan mengagungkan segala moral dan aturan yang dibuat-Nya. Kenapa, dong, yang paling mendasar pun tidak dilakukan?! Untuk apa semua aturan itu dibuat bila hanya untuk sekedar penampilan dan untuk mendapatkan “nilai”?!
Sekarang ini, di mana semua yang ada itu?! Kenapa berusaha keras untuk menjadi yang lain?! Kenapa tidak berusaha untuk menjadi diri sendiri?! Memang tidak mudah, tetapi jika memang benar ingin bahagia, damai, dan tentram, tentunya jati diri seharusnya menjadi prioritas utama. Untuk apa repot-repot menjadi “yang lain” bila apa yang ada di dalam diri sesungguhnya merupakan emas terindah dan paling berharga?! Tidakkah ada rasa cinta sedikit pun untuk diberikan?!
Terkadang saya suka capek sendiri jika harus melihat fakta dan kenyataan yang ada sekarang ini di daerah itu. Mengaku hebat tetapi justru sudah banyak terpengaruh. Budaya politiknya saja sudah sangat berubah, tidak lagi mampu untuk menggetarkan dunia. Sudah seperti katak saja. Yang ada di samping disingkirkan, sementara yang di bawah terus diinjak. Sementara mulut terus menganga menanti umpan yang lewat untuk dinikmati sendiri hingga kenyang. Menjulurkan lidah ke kiri kanan sepanjang-panjangnya untuk bisa menangkap santapan. Lupa dengan yang lainnya meski mengaku peduli dan berbuat untuk semua. Bagaimana mau memiliki masa depan dan kehidupan yang lebih baik?!
Lihat saja bagaimana mudahnya masyarakat digiring oleh opini yang dibuat oleh media-media “berbayar”. Subjektifitas dikedepankan dan objektifitas itu sudah tidak ada lagi. Sudah seperti bola yang ditendang ke sana ke mari tanpa pernah gol. Yang paling parah bukanlah mereka yang berstatus sosial ekonomi rendah ataupun tak berpendidikan, tetapi justru mereka yang mengaku elite dan berpendidikan tinggi. Mereka yang mengaku pejuang dan pahlawan! Semakin jelas sudah bagaimana pembodohan dan kebodohan itu sudah menjadi sebuah kubangan lumpur yang terus menyeret ke dalam. Tak jelas apa karena sombong, takut, atau pura-pura tidak tahu.
Dusta itu sudah sedemikian luar biasanya hingga merusak diri sendiri. Pelecehan seksual, KDRT, dan berbagai masalah seks lainnya pun ditutupi seolah tak ada. Mereka yang jelas-jelas sudah melakukan perbuatan kriminal terhadap istri dan keluarganya sendiri pun bisa dipuja. Mereka yang sudah jelas-jelas melecehkan orang yang menjadi simbol daerah itu pun terus saja diangkat-angkat. Bagaimana orang yang benar-benar berjuang untuk masa depan dan kehidupan lebih baik tidak mati?! Baru bergerak sedikit saja sudah “dibunuh”! Apanya yang hebat?! Beranikah mengaku secara jujur dan terang-terangan kepada semua atas apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang sudah dilakukan?! Paling-paling juga mengirim orang suruhan yang mau saja dibodohi dengan berbagai alasannya untuk membuntuti, memata-matai, lalu ujung-ujungnya “melenyapkan”. Pemberanikah?!
Sudahlah! Percuma juga saya menuliskan semua ini. Tidak akan ada gunanya. Saya juga hanya “alien” yang sok tahu saja. “Kekinian” memang sudah menjadi budaya yang dianggap wajar, lumrah, dan benar sekarang ini. Masa depan itu seolah tak pernah ada dan kehidupan yang lebih baik hanyalah mimpi di siang bolong. Yang penting sekarang, nanti ya, bagaimana nanti! Begitu, kan, ya?!
Akhir kata, saya ingin menyampaikan saja bahwa pria yang sudah membuat saya terpesona dan jatuh cinta itu bernama Hasan Tiro. Semoga semua mau menghormati dan menghargainya terutama bagi mereka yang berani untuk mengaku dengan gagah berani sebagai “ureung aceh”. Kapankah ada yang dengan bangganya mampu berkata dengan kesungguhan hati bahwa “Saya adalah Aceh”?!Berani Menjadi "Aceh"
Silahkan saja bila para Generasi Tua ini ingin terus berkonflik dan merusak, tetapi jangan pernah merusak Generasi yang akan datang. Janganlah pernah berkata bahwa semua yang dilakukan adalah karena Cinta kepada anak-anak bangsa, bila memang terus saja mencoba melenyapkan dan menghilangkan jati diri Generasi muda.
Oleh Mariska Lubis (*
Di tengah suasana yang tidak karuan di Aceh seperti sekarang ini, teringat akan sebuah nasehat yang disampaikan oleh seorang kakek. Dia pernah berkata, yang isinya kira-kira, “Yang sebaiknya kamu pelajari dari Aceh adalah kemampuan orang Aceh di dalam berdiplomasi. Kemenangan mereka di dalam perjuangan bukanlah menggunakan kekuatan fisik, tetapi keahlian di dalam berpikir dan berkata”.
Beliau bercerita beragam contoh yang pernah dilakukan oleh para pemimpin Aceh pada masa perjuangan dahulu, yang juga beliau sedikit uraikan dalam bukunya yang berjudul “Kilas Balik Revolusi”. Satu cerita yang paling saya ingat adalah ketika beliau dikirim oleh orang tuanya bersama anak-anak Aceh yang lain untuk belajar di luar negeri. Tentunya, tidak semudah sekarang ini bisa mengirim anak ke luar negeri. Bukan hanya urusan uang semata, tetapi juga urusan kepentingan politik.
Para orang tua mereka berdiplomasi kepada Belanda dengan dalih bahwa dengan mengirimkan anak-anak pribumi yang potensial belajar ke luar negeri, maka Belanda tidak perlu lagi repot di dalam mengurus dan mengatur segala urusan di Aceh. Mereka jadi bisa lebih pintar dan tahu banyak sehingga pada saat mereka pulang nanti, mereka dapat bekerja dan mengabdi pada Belanda. Yah, ini hanyalah sebuah taktik saja. Yang sebenarnya dilakukan adalah, untuk menjadikan generasi penerus mereka lebih pintar sehingga pada saat pulang nanti, bisa membantu perjuangan dan melawan Belanda. “Pergi dan bergaullah dengan Belanda, curi ilmu mereka dan gunakan untuk melawan mereka sendiri.”
Yah, memang banyak kontradiksi di dalam juga mengenai hal ini mengingat kebencian terhadap Belanda sangatlah tinggi. Ditambah lagi banyak ketakutan bahwa dengan mengirimkan generasi penerus ke luar negeri, maka mereka akan menjadi “kebarat-baratan” dan lupa akan akar budayanya sendiri. Yang paling ditakutkan tentunya soal agama dan keyakinan. Semua ini bisa dimengerti tetapi lagi-lagi kemampuan untuk meyakinkan bukan hanya pada mereka yang menentang tetapi juga pada generasi penerus yang sudah dipersiapkan ini, terbukti bahwa semua itu hanyalah ketakutan yang berlebihan semata.
Yang saya tahu pasti, tidak ada satu pun dari kakak beradik kakek saya yang dikirimkan, lalu berubah menjadi “Barat”, mereka justru sangat nasionalis dan berjuang terus bagi bangsa dan negaranya. Agama dan keyakinan mereka pun dipegang teguh dan tidak ada yang bisa mengubah mereka. Demikian juga dengan beberapa orang kawan mereka yang saya kenal, semuanya memiliki kepribadian yang sangat kuat dan berani. Almarhum Hasan Tiro?! Apakah dia pernah berubah?!
Maksud dari saya menyampaikan ini semua adalah untuk sekedar berbagi kenangan atas apa yang telah dilakukan oleh para pendahulu. Saya sedih bila melihat keadaan Aceh sekarang ini. Rasanya tidak percaya Aceh sudah kehilangan apa yang dulu pernah ada. Kecerdasan di dalam berpikir jauh ke depan itu sekarang berubah dengan kekinian. Lihatlah bagaimana situasi dan kondisi di dalam menjelang Pilkada sekarang ini.
Sesama orang Aceh sendiri saling baku hantam dan dengan cara-cara yang sangat mengkhawatirkan sekali. Kenapa harus dengan cara saling sikut dan menjatuhkan?! Mengapa tidak ada yang mau merangkul dengan penuh ketulusan tanpa ada maksud untuk kepentingan pribadi semata?! Mengapa tidak ada yang mau berbuat untuk semua selain hanya untuk “mencari nama” dan meraup suara?! Kapan konfilk di Aceh mau selesai bila orang Aceh-nya sendiri terus berkonflik dan tidak juga mau bersatu?!
Sesama orang Aceh sendiri saling baku hantam dan dengan cara-cara yang sangat mengkhawatirkan sekali. Kenapa harus dengan cara saling sikut dan menjatuhkan?! Mengapa tidak ada yang mau merangkul dengan penuh ketulusan tanpa ada maksud untuk kepentingan pribadi semata?! Mengapa tidak ada yang mau berbuat untuk semua selain hanya untuk “mencari nama” dan meraup suara?! Kapan konfilk di Aceh mau selesai bila orang Aceh-nya sendiri terus berkonflik dan tidak juga mau bersatu?!
Generasi muda yang merupakan cikal bakal tulang punggung pun sering dianggap enteng dan tidak penting, tetapi selalu digunakan dan dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan politik. Darah muda yang terus bergejolak dan keberanian yang terkadang seringkali tidak mampu dikendalikan menjadi sasaran yang sangat empuk untuk menjadi bahan permainan. Apalagi bila dalam keadaan labil, bingung, dan tidak memiliki arah serta kepribadian yang kuat. Demokrasi dan kebebasan yang “ditanamkan” pun sesungguhnya hanyalah alat untuk “mencuci otak” dan mendapatkan tempat saja. Toh, kekuasaan masih terus mendominasi dan menjadi momok yang menakutkan karena ada banyak sekali ancaman dan kekerasan yang dilakukan. Jadi, jangan heran bila banyak yang menyesal di kemudian hari meski sudah kepalang basah dan tercemplung ke dalam lumpur.
Membaca apa yang dilakukan oleh Generasi Kuneng menantang para pemimpin dan seluruh orang Aceh untuk mendukung film “Garamku Tak Asin Lagi”, menjadi sebuah harapan di dalam hati ini. Saya salut! Paling tidak, ada generasi muda yang mampu melihat dengan jelas apa yang seharusnya dilakukan di dalam menghadapi situasi dan kondisi yang sekarang sedang terjadi. Menyatukan seluruh orang Aceh dan membangkitkan solidaritas kebersamaan untuk mendukung sesuatu yang positif menjadi sangat penting saat ini. Tidak perlu harus melihat siapa dan bagaimana, tetapi apa yang sudah dilakukan. Kreatifitas dan karya bukanlah sesuatu yang mudah untuk dibuat, karena itu perlu diapresiasi oleh bersama.
Menurut saya pribadi, inilah bagian dari apa yang saya maksudkan dengan kemampuan orang Aceh di dalam berpikir dan berdiplomasi. Tidak perlu ada kekerasan di dalamnya, tetapi jelas menggunakan tindakan dan perbuatan nyata yang mengandalkan pemikiran dan hati. Idealismenya nampak sangat jelas dan kuat, serta apa yang dilakukan bisa memberikan efek yang sangat positif baik untuk saat ini maupun nanti. Persis seperti apa yang sudah dilakukan oleh para pendahulu orang Aceh di masa perjuangan lalu meski dalam bentuk yang berbeda.
Silahkan saja bila para generasi tua ini ingin terus berkonflik dan merusak, tetapi jangan pernah merusak generasi yang akan datang. Janganlah pernah berkata bahwa semua yang dilakukan adalah karena cinta kepada anak-anak bangsa, bila memang terus saja mencoba melenyapkan dan menghilangkan jati diri generasi muda. Jangan pernah juga menuntut generasi muda untuk lebih maju dan berkembang bila yang tuanya pun selalu saja berpikiran dan memiliki hati yang “terkotak”.
Jangan salahkan internet dan budaya asing, deh!!! Lebih baik bercermin saja dulu, berani dan mampukah untuk jujur?! Benarkah sudah mampu memiliki cinta kepada generasi yang akan datang ini dengan menjadikan mereka sebagai generasi yang mandiri, cerdas, sehat, dan memiliki kepribadian yang kuat?! Bukan sebagai anak yang merasa dimiliki dan dikuasai lalu dituntut untuk membalas budi, ya!!!
Jangan salahkan internet dan budaya asing, deh!!! Lebih baik bercermin saja dulu, berani dan mampukah untuk jujur?! Benarkah sudah mampu memiliki cinta kepada generasi yang akan datang ini dengan menjadikan mereka sebagai generasi yang mandiri, cerdas, sehat, dan memiliki kepribadian yang kuat?! Bukan sebagai anak yang merasa dimiliki dan dikuasai lalu dituntut untuk membalas budi, ya!!!
Bagi generasi muda Aceh, jadilah Aceh yang sejatinya. Kuatkan dan perkokoh diri sebagai Aceh. Berpikir dan berperilakulah seperti layaknya seorang Aceh sejati. Jangan pernah takut dengan keadaan dan situasi karena kita tidak diatur oleh keadaan. Kitalah yang seharusnya bisa mengatur keadaan. Baik dan buruknya Aceh di masa depan ada di tangan kalian semua. Bersatulah untuk satu tujuan yang pasti!
Sekarang, sebagai seorang perempuan yang bukan orang Aceh dan tidak tinggal di Aceh, saya yang menantang semua generasi muda Aceh, “Beranikah kalian menjadi Aceh yang sekaligus pemimpin bagi diri sendiri?!”.
Makna Filosofi Sebilah Rencong

Meski tidak ditemukan catatan sejarah yang mengisahkan asal usul Rencong, namun asal mula Rencong terekam dalam sebuah legenda Aceh. Dalam sebuah cerita rakyat dikisahkan. "Zaman dahulu di daratan Aceh hidup seekor burung raksasa sejenis Rajawali, orang Aceh menyebutnya "Geureuda". Keberadaan burung raksasa tersebut sangat menggangu kehidupan rakyat. semua jenis tanaman, buah-buahan dan ternak rakyat dilahapnya.
Semua jenis perangkap dan senjata yag digunakan untuk membunuhnya tidak mapan, malah makin lama "Geureuda" tersebut makin beringas melahap tanaman rakyat, mungkin dari legenda itulah sampai sekarang orang Aceh menyebutkan "Geureuda" kepada orang – orang yang Serakah/Congok.
Oleh raja yang berkuasa ketika itu, menyuruh seorang pandai besi yang juga ulama untuk menciptakan sebuah senjata ampuh yang mampu membunuh Geureuda tersebut. Oleh pandai besi yang mempunyai ilmu maqfirat besi, setelah melakukan puasa, sembahyang sunat dan berdoa baru menempa besi pilihan dengan campuran beberapa unsur logam menjadi Rencong.
Menyebut senjata Rakyat Aceh, selain meriam dan senjata api, yang paling terkenal adalah Rencong. Bahkan, salah satu gelar tanah Aceh disebut juga sebagai “Tanah Rencong”. Rencong (Reuncong) adalah senjata tradisional dari Aceh. Rencong Aceh memiliki bentuk seperti huruf [ L ] atau lebih tepat seperti tulisan kaligrafi " Bismillah ". Rencong termasuk dalam kategori dagger atau belati (bukan pisau atau pedang).
Rencong selain simbol kebesaran para bangsawan, merupakan lambang keberanian para pejuang dan rakyat Aceh di masa perjuangan. Keberadaan rencong sebagai simbol keberanian dan kepahlawanan masyarakat Aceh terlihat bahwa hampir setiap pejuang Aceh, membekali dirinya dengan rencong sebagai alat pertahanan diri. Namun sekarang, setelah tak lagi lazim digunakan sebagai alat pertahanan diri, rencong berubah fungsi menjadi barang cinderamata yang dapat ditemukan hampir di semua toko kerajinan khas Aceh.
Menurut sejarahnya, rencong memiliki tingkatan. Pertama, rencong yang digunakan oleh raja atau sultan. Rencong ini biasanya terbuat dari gading (sarung) dan emas murni (bagian belatinya). Kedua, rencong-rencong yang sarungnya biasa terbuat dari tanduk kerbau atau kayu, sedangkan belatinya dari kuningan atau besi putih.
Bentuk rencong berbentuk kalimat bismillah, gagangnya yang melekuk kemudian menebal pada sikunya merupakan aksara Arab "Ba", bujuran gagangnya merupaka aksara "Sin", bentuk lancip yang menurun kebawah pada pangkal besi dekat dengan gagangnya merupakan aksara "Mim", lajur besi dari pangkal gagang hingga dekat ujungnya merupakan aksara "Lam", ujung yang meruncing dengan dataran sebelah atas mendatar dan bagian bawah yang sedikit keatas merupakan aksara "Ha".
Rangkain dari aksara Ba, Sin, Lam, dan Ha itulah yang mewujudkan kalimat Bismillah. Jadi pandai besi yang pertama kali membuat rencong, selain pandai maqrifat besi juga memiliki ilmu kaligrafi yang tinggi. Oleh karena itu , rencong tidak digunakan untuk hal-hal kecil yang tidak penting, apalagi untuk berbuat keji, tetapi rencong hanya digunakan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh dan berperang dijalan Allah.
Secara umum, ada empat macam rencong yang menjadi senjata andalan masyarakat Aceh.
- Rencong Meucugek (Meucungkek), Disebut meucugek karena pada gagang rencong terdapat suatu bentuk panahan dan perekat yang dalam istilah Aceh disebut cugek atau meucugek. Cugek ini diperlukan untuk mudah dipegang dan tidak mudah lepas waktu menikam ke badan lawan atau musuh.
- Rencong Meupucok, Rencong ini memiliki pucuk di atas gagangnya yang terbuat dari ukiran logam yang pada umumnya dari emas. Gagang dari rencong meupucok ini kelihatan agak kecil, yakni pada pegangan bagian bawah. Namun, semakin ke ujung gagang ini semakin membesar. Jenis rencong semacam ini digunakan untuk hiasan atau sebagai alat perhiasan. Biasanya, rencong ini dipakai pada upacara-upacara resmi yang berhubungan dengan masaalah adat dan kesenian.
- Rencong Pudoi, Rencong jenis ini gagangnya lebih pendek dan berbentuk lurus, tidak seperti rencong umumnya. Terkesan, rencong ini belum sempurna sehingga dikatakan pudoi. Istilah pudoi dalam masyarakat Aceh adalah sesuatu yang diangap masih kekurangan atau masih ada yang belum sempurna.
- Rencong Meukuree, Perbedaan rencong meukuree dengan jenis rencong lain adalah pada matanya. Mata rencong jenis ini diberi hiasan tertentu seperti gambar ular, lipan, bunga, dan sebagainya. Gambar-gambar tersebut oleh pandai besi ditafsirkan dengan beragam macam kelebihan dan keistimewaan. Rencong yang disimpan lama, pada mulanya akan terbentuk sejenis aritan atau bentuk yang disebut kuree. Semakin lama atau semakin tua usia sebuah rencong, semakin banyak pula kuree yang terdapat pada mata rencong tersebut. Kuree ini dianggap mempunyai kekuatan magis.
Rencong yang ampuh biasanya dibuat dari besi-besi pilihan, yang di padu dengan logam emas, perak, tembaga, timah dan zat-zat racun yang berbisa agar bila dalam pertempuran lawan yang dihadapi adalah orang kebal terhadap besi, orang tersebut akan mampu ditembusi rencong. Gagang rencong ada yang berbentuk lurus dan ada pula yang melengkung keatas. Rencong yang gagangnya melengkung ke atas disebut Reuncong Meucungkek, biasanya gagang tersebut terbuat dari gading dan tanduk pilihan.
Pembuat "Reuncong" (img: Serambinews.com)
Bentuk meucungkek dimaksud agar tidak terjadinya penghormatan yang berlebihan sesama manusia, karena kehormatan yang hakiki hanya milik Allah semata. Maksudnya, bila rencong meucungkek disisipkan dibagian pinggang atau dibagian pusat, maka orang tersebut tidak bisa menundukkan kepala atau membongkokkan badannya untuk memberi hormat kepada orang lain karena perutnya akan tertekan dengan gagang meucungkek tersebut.
Gagang meucungkek itu juga dimaksudkan agar, pada saat-saat genting dengan mudah dapat ditarik dari sarungnya dan tidak akan mudah lepas dari genggaman. Satu hal yang membedakan rencong dengan senjata tradisional lainnya adalah rencong tidak pernah diasah karena hanya ujungnya yang runcing saja yang digunakan.
***
Langganan:
Postingan (Atom)


